26. Mencari Tahu

162 18 0
                                        

Vanya duduk di sebuah kafe kecil dekat kampus, matanya terus memandangi pintu masuk. Ia sudah mengirim pesan ke Virgo untuk bertemu, dan sekarang hanya menunggu lelaki itu datang. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, terutama soal foto Virgo dan Aningtyas yang ditemukan Jendral.

Tak lama kemudian, Virgo muncul dengan wajah sedikit bingung. Ia langsung menuju ke meja Vanya dan duduk di depannya. Lelaki itu memberikan senyuman manisnya.

"Lo kenapa tiba-tiba ngajak ketemu gue?" tanya Virgo sambil memiringkan kepala sambil menatap ke arah Vanya penasaran.

Vanya menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Gue cuma mau nanya sesuatu, Vir. Soal lo sama Aningtyas."

Virgo mengernyit. "Aningtyas? Kenapa tiba-tiba lo bahas dia?" Tanya Virgo dengan santai.

Diam-dima Vanya memerhatikan mimik wajah Virgo yang sepertinya tampak santai, dan tidak ketakutan bilamana rahasianya terbongkar.

"Gue tahu lo pacaran sama dia," kata Vanya langsung tanpa basa-basi.

Virgo terlihat terkejut. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menghela napas panjang. "Oke, iya. Gue pacaran sama dia. Bahkan sampai sekarang gue masih pacar dia walaupun beda alam. Gue pikir nggak ada yang tahu soal itu."

"Kenapa lo nutupin? Bahkan sama temen-temen lo sendiri?" tanya Vanya lagi, nadanya penuh dengan rasa ingin tahu.

Virgo mengusap wajahnya, tampak gelisah. "Aningtyas yang minta, Van. Dia nggak mau orang lain tahu. Dia bilang dia nggak nyaman kalau hubungan kita jadi bahan gosip."

Vanya menatap Virgo dengan tajam, mencoba mencari tanda-tanda kebohongan. "Lo tahu dia hamil?"

Virgo langsung membeku. "Hamil? Maksud lo apa ya?"

Hasil otopsi jenazah Aningtyas memang tidak dipublikasikan, itu permintaan keluarga almarhumah, ia tidak mau jika Aningtyas dianggap perempuan tidak baik dan menjadi bahan gunjingan setelah kematiannya.

"Aningtyas hamil sebelum dia... sebelum dia bunuh diri," ujar Vanya pelan tapi tegas.

Virgo tampak benar-benar kaget. Ia menatap Vanya dengan mata melebar, lalu menggeleng pelan. "Gue nggak tahu soal itu, Van. Sumpah, gue nggak tahu. Dia nggak pernah bilang apa-apa ke gue." Ucap Virho yabg tampak syok, wajahnya seperti menahan tangisan.

"Hah, jadi bukan lo ya." Vanya mendesak, meskipun ia bisa melihat kebingungan di wajah Virgo.

"Gue juga bingung, Van. Gue emang pacaran sama dia, tapi dia selalu jaga jarak belakangan ini. Gue pikir dia lagi sibuk atau ada masalah, tapi dia nggak pernah cerita apa-apa, sampai hari di mana dia dinyatakan meninggal bunuh diri, gue stress berat." kata Virgo, suaranya mulai gemetar.

Vanya terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata Virgo. "Lo yakin bukan lo yang bikin dia... sampai ngambil keputusan buat bunuh diri?"

Virgo langsung menggeleng cepat. "Bukan, Van. Gue bahkan nggak tahu kalau dia punya masalah sebesar itu. Kalau gue tahu, gue pasti bakal bantu dia, walaupun itu artinya dia selingkuh."

Kata-kata Virgo terdengar tulus, tapi Vanya masih belum sepenuhnya yakin. Ada banyak hal yang belum terjawab, dan Virgo tampaknya juga nggak tahu semua jawabannya. Tapi raut wajahnya terlihat jelas kalau dia merasa kecewa, sakit hati, dan tidka tahu apapun.

"Terus menurut lo, siapa?" tanya Vanya lagi.

Virgo mengusap wajahnya dengan frustasi. "Gue nggak tahu, Van. Gue beneran nggak tahu. Tapi kalau dia beneran hamil, gue yakin itu bukan anak gue. Gue sama dia gak pernah tidur."

Vanya menghela napas panjang. Ia bisa melihat rasa bingung dan frustasi di wajah Virgo. Mungkin memang bukan dia pelakunya, tapi kalau bukan, siapa?

"Gue cuma pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi, Vir," kata Vanya akhirnya.

Presma DiptaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang