Mata sayu itu kembali terbuka setelah satu jam kehilangan kesadaran, Mey melihat sekelilingnya, ruangan berdinding putih, ia tengah berada di rumah sakit sekarang, siapa yang membawanya ke sini?
Mey menoleh ke samping kanan, ia sedikit terkejut melihat seorang lelaki tengah duduk tertunduk, Mey seperti mengenali siapa lelaki itu. Lalu saat dia mendongak, Mey kembali terkejut saat melihat siapa orang itu.
"Barra?"
kaki jenjang itu berjalan ke arah brankar, ia tampak khawatir terlihat dari raut wajahnya.
"Bilang apa yang masih sakit, biar gue panggilin dokter" ucapnya.
"Gue fine, Bar, makasih udah bawa gue kesini, gue gak tau kalo gak ada yang nolong gue semalam,"
Barra mengelus punggung tangan Mey, "ucap makasih nya ke diri lo dan baby di dalam sana, dia hebat bisa tetap kuat dan bertahan,"
Mey mengusap perut buncit nya, ia merasa bersalah, ia belum bisa jadi ibu yang baik, "maafin ibu nak"
"Duri itu tajam Mey, kalo Lo terus maksa untuk menggenggam nya, tangan Lo akan terluka," Ucap Barra tiba-tiba, Mey belum mengerti apa maksud perkataan Barra barusan.
"Pilihan Lo cuma dua, pergi lalu bahagia, atau bertahan dan terluka seumur hidup,"
"Barra? gue..."
"Jangan denial, Mey, manusia gak akan berubah, jangan terlalu pede dia akan kembali kaya awal, semuanya udah beda, hatinya udah bukan di Lo, maaf ucapan gue terdengar kasar, tapi ini sebuah fakta."
Mey hanya mampu mendengar dan terdiam, tidak menyangkal apapun.
"Biarin dia berkelana jauh, tugas Lo gak harus seberat ini, kalo dia baik-baik aja tanpa Lo, diri Lo harus lebih bahagia,"
"Lepasin, diri Lo lebih berharga, anak Lo di dalam sana butuh kebahagian dari ibu nya, bukan rasa sakit yang terus terusan."
"Gue panggilin dokter dulu." Kepergian Barra menjadi akhir dari perkataan panjangnya.
Mey menangis, sungguh ucapan Barra menyakiti hatinya, dan sialnya semua itu benar, menunggu perubahan orang seperti Herza adalah kebodohan, fakta itu terlalu kejam.
Herza tidak bisa dan tidak akan pernah berubah menjadi Herza yang dulu, masa itu telah habis.
"Anak Lo di dalam sana butuh kebahagian dari ibu nya, bukan rasa sakit yang terus terusan."
Ucapan Barra itu terus terngiang di kepala Mey, ia terlalu egois sampai tidak memikirkan keadaan bayi nya.
"Maafin ibu, Nak, tolong bertahan sebentar lagi, kuatkan ibu untuk melangkah dari titik menyakitkan ini,"
Titik yang menyakitkan ini harus segera di Akhiri.
**
(Yang bingung kenapa bisa Barra yang bawa Mey ke rumah sakit, mari flashback ke malam itu.)
Setelah Mey turun dari mobil, Reyza tidak langsung beranjak karena ia melihat seseorang yang berada tak jauh dari mobilnya, setelah di teliti lebih dalam, orang itu adalah teman akrab nya di kampus.
Reyza turun dari mobil lalu berlari ke orang itu.
"Woi! duduk sendirian gini makin keliatan banget jomblo ngenes nya," ucap Reyza.
"Dih anjir tiba-tiba banget ketemu, ngapain Lo disini? abis cewean Lo ya, parah nih main nya di apart," tukas Barra.
Reyza menoyor mulut Barra, "sembarangan banget babi ini ngomong nya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
TITIK AKHIR.
Fanfiction"Aku hamil, Za." "Itu bukan tanggung jawab gue lagi!" "Kamu bilang akan tanggung jawab, Za!!" "Gue gak bisa, Maaf." "Jangan jadi brengsek kaya gini, Herza!" "Gue bilang, Gue udah gak bisa jalanin bareng Lo!!" "Terus gimana sama anak ini?" "Bukan...
