•34

915 24 7
                                        

Suasana tegang, dan dingin memenuhi ruang tamu keluarga Dharkajaya. Alvin selaku kepala keluarga sudah tak bisa berkata-kata, kelakuan anak tengah nya itu membuat semua orang pegang kepala.

"Papah ini bingung sama kamu, Herza. Kelakuan bejad kamu itu turun dari mana sih?" tanya Alvin sarkas.

"Papah dan bunda merasa gagal mendidik kamu, kalau besarnya kamu menjadi anak yang seperti ini. Padahal kamu di tuntut untuk tanggung jawab ya atas kesalahan kamu sendiri!"

Sania mengelus pundak sang suami. "Bunda juga kecewa sama kamu, Bang. Pesan bunda kamu lupain gitu aja."

"Itu bukan salah Herza!" elak Herza kesekian kalinya.

Alvin menghela nafas, "Terus kalo bukan salah kamu, salah siapa, Herza? salah setan?"

"Mey berhubungan bukan sama aku aja,"

Sungguh, perkataan Herza ini mampu membuat semua manusia di bumi naik darah.

"Bisa kamu ngomong gitu pada cewe sebaik Mey? mata kamu ini lihat Mey gimana sih, Za?" ucap Sania.

Herza berdecak, kesal sekali pada Bunda nya ini yang gampang sekali menilai orang dari tampang nya, di dunia ini banyak sekali manusia bermuka polos padahal isi dalamnya iblis.

"Bunda sama papah ini terbuai sama wajah polos cewe itu!"

"Bun, Pah, asal kalian tau, Herza sendiri yang liat pake kedua mata Herza yang masih sehat ini, di halaman depan club, Mey lagi pelukan sama cowo disana." Papar Herza dengan menggebu-gebu.

"Jangan sembarangan ngomong kamu, Herza!" cela Sania.

Herza menyerahkan handphone ke depan Sania dan Alvin.

"Lihat sendiri,"

Sania menutup mulut tak percaya, bilang kalau foto ini bohong dan hanya editan, ia tak menyangka.

Dan, Tanpa izin, pandangan Sania terhadap Mey seketika berubah 360°.

Alvin hanya diam, rumit sekali masalah anaknya ini.

"Mau kamu apa sekarang?"

Herza tersenyum puas, sepertinya ia berhasil membuat Bunda dan ayahnya percaya bagaimana sifat aslinya wanita itu.

"Herza gak mau terlibat dengan hidup dia lagi."

"Tapi, kalau dia bener anak kamu, gimana?" tanya Alvin.

"Aku yakin, Pah, kita bisa tes DNA nanti, akan aku pastikan dia bukan anak aku!"

"Kamu harus tetap tanggung jawab sampai dia melahirkan, bagaimana pun kamu masih suami sah nya."

"Dia udah pulang ke orang tua nya, itu berarti dia gak butuh tanggung jawab apapun lagi dari aku,"

"Jangan keras kepala, Herza! jangan biarin dia sendiri selama hamil ini!"

"Udah, cukup!" lerai Sania.

"Kamu pulang ke apart sekarang, jangan pernah kembali ke rumah kalau masalah kamu belum selesai. Selesaikan sendiri, jangan libatkan papah dan Bunda lagi." Sania bangkit dari duduknya.

"Semua kartu kamu akan Bunda blokir, belajar cari uang sendiri, jangan pakai fasilitas apapun dari Bunda dan Papah, kecuali apart."

Herza menggebrak meja, ia tak terima dengan putusan Bunda nya yang tak masuk akal itu.

"Jangan konyol, Bun! aku gak terima," belum sempat Herza menyelesaikan ucapannya, ia sudah lebih dulu tumbang karena dapat satu bogeman dari Papah nya.

"Ayah dan Bunda angkat tangan, hidup lah dengan cara mu sendiri." Setelahnya Alvin membawa istri nya ke dalam kamar untuk mengistirahatkan pikiran yang semrawut.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 21, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

TITIK AKHIR. Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang