Satu jam berlalu, Mey masih menunggu seseorang yang bilang akan datang hari ini, ia yakin Herza pasti datang, anggap lah ini adalah pertemuan terakhir mereka, dan anggap lah ini harapan terakhir Mey pada ucapan lelaki itu.
"Herza jadi datang, Mey?" tanya Ibu.
"Bilang nya akan datang ko, Bu."
"Semua barang kamu sudah siap di dalam tas, cuma di dalam lemari aja kan semua barang mu?"
Mey mengangguk. "Iya Bu, makasih ya,"
Ibu mengelus rambut Mey. "Kita bisa pulang berdua, Mey. jangan terlalu memaksa orang yang tidak mau,"
Mey melihat jam di dinding, sudah pukul 11 siang, Herza berbohong lagi. Mey merutuki dirinya, sudah tau tabiat lelaki itu seperti apa tapi kenapa masih berharap? oon sekali.
Tapi... Mey sangat ingin Herza menepati ucapannya.
Sudahlah, buang saja harapan itu. Lagian pagi-pagi bukannya sarapan bubur, malah sarapan harapan.
"Aku udah pesen grab Bu, kita pulang sekarang aja."
Mey di bantu Ibu untuk turun di brankar, sebenarnya Mey sudah bisa berjalan sendiri, tapi ibu tetap menuntun Mey, wanita paruh baya itu masih khawatir dengan keadaan putri nya.
Rasa kecewa, sedih, marah mengikuti langkah Mey sepanjang jalan.
Ingin rasanya Mey membenturkan kepalanya karena terlalu percaya dengan omongan Herza.
•••
"Kamu janji hari ini temani aku ke gramedia, Za!"
"Aku ada urusan sebentar, Sil, setelah itu baru aku anterin kamu ya," bujuk Herza.
Ternyata, di bumi bagian lain sedang terjadi drama dadakan. Sang wanita ngamuk karena di tinggal sang pacar karena ingin menemui istrinya.
"Sejak kapan sih kamu jadi perhatian sama cewe itu, dan sejak kapan kamu berani ninggalin aku demi nemuin cewe itu?" cecar Sila.
"Oh jangan-jangan kamu kemakan pelet cewe itu ya?" Terka Sila.
"Sayang, ko ngomong nya gitu? gak boleh ya, aku cuma nganter dia pulang abis itu aku sepenuhnya untuk kamu,"
Sila menepis tangan Herza. "Kamu pilih aku apa dia?"
"Sayang..."
"Pilih, Herza!!"
"Oke-oke, kita pergi ke gramed ya, aku anter kamu cari buku yang kamu mau,"
"Gitu dong, ini baru namanya Herza pacar aku yang aku kenal." Sila tersenyum puas, ia tidak akan membiarkan Herza bertemu Mey apapun alasannya, dan bagaimanapun caranya ia akan selalu buat Herza selalu bersamanya.
Serem banget Lo Sila kata gue mah, gak mau lagi ya tuhan ketemu cewe modelan Sila ini, Semoga kita semua selalu di jauhkan dari cewe musibah ini.
Mobil grab sudah sampai di depan rumah tujuan, mereka pulang ke rumah pertama kali ketika mereka sampai di Indonesia yaitu rumah nenek Mey.
Ohiya, Ayah Fery, Fita, dan Alen tidak ikut ke Indonesia, Ibu hanya sandiri ke Indonesia, mungkin hanya seminggu Ibu disini setelah nya Ibu akan pulang kembali ke Aussie.
Waktu itu, 2 bulan setelah Mey menikah Ayah Fery, Ibu, Alen, dan Fita kembali ke Aussie, mereka tidak menetap di Indonesia karena Ayah harus tetap kerja disana, dan Alen harus lanjut sekolah disana, inilah alasan Mey tak pernah bertemu Ibu setelah menikah, ia tak ada tempat berpulang dan bercerita.
"Ibu udah bilang ke tante Tera untuk tinggal disini nemenin kamu kalau Ibu pulang nanti," ucap Aini.
"Kaya nya Mey sendiri aja gapp deh, Bu. Gak enak kalau harus repotin tante Tera, toh juga jarak rumah nenek ke kantor tante kan jauh, Bu." Jawab Mey sembari mengeluarkan baju dari dalam tas.
"Rawan Mey kalau sendirian, Ibu khawatir, kalau nanti ada orang iseng ngeganggu gimana? Ibu tambah takut nih ninggalin kamu."
Mey terkekeh. "Aku udah besar, Bu. Aku bisa jaga diri, nanti sesekali aku minta teman ku minep disini, kan ada Denna juga gak jauh dari sini." Ucap Mey meyakinkan.
Ibu meraih tangan Mey, menatap mata anaknya dengan lekat, aura serius terpancar dari wajah Ibu.
"Jangan kembali kelubang yang sama apapun alasan nya, ya? jangan memberi kesempatan pada manusia yang tidak pandai bersyukur, hidup kamu dan anakmu harus lebih baik dan bahagia." Tutur Aini panjang.
"Nanti, suatu saat nanti, pasti akan ada peran penggantinya, jodoh pasti ada, jangan khawatir akan sendiri, Mey ada Ibu, Ayah. Kalau sudah siap, Ibu dan ayah bersedia menjemput kamu untuk pulang ke Aussie lagi,"
Mey memeluk Ibu, keduanya menangis bersama.
Selama ini Mey hanya bilang baik-baik saja tentang rumah tangganya, karena tidak mau bikin Ayah dan Ibu khawatir, tapi ternyata semuanya berbalik, sesakit itu keadaan rumah tangga putrinya. Aini tidak pernah terima dan ikhlas putri nya di perlakukan dengan begitu buruknya.
Saat mendapat kabar dari Sania bahwa Mey sedang berada di rumah sakit, Aini langsung pergi saat itu juga ke Indonesia untuk menemui putrinya, saat dalam penerbangan pun pikiran Aini berkecamuk memikirkan keadaan Mey.
Keluarga Sania memanglah baik, Aini tau itu, tapi siapa sangka manusia kejam itu lahir dari wanita sebaik Sania?
•••
Tokk... Tokk... Tokk...
"Iya sebentar," Mey berjalan ke arah pintu, entah siapa yang bertamu malam-malam begini.
"Siapa?" Pintu putih itu terbuka dan menampilkan seseorang yang menjadi tamu malam ini.
"Gimana kondisi kamu, Mey? maaf mengganggu malam-malam, tadi aku ke rumah sakit tapi kata perawat disana kamu udah pulang, kenapa gak bilang aku, Mey? supaya aku yang antar kamu pulang," cecar Barra tak sabaran.
"Maaf, Barra. Tapi, aku terlalu ngerepotin kamu banget gak si selama ini? aku gak enak Barra, kita cuma teman biasa, kamu bukan keluarga aku yang wajar aku repotin, jangan merasa aku tanggung jawab kamu." Jawab Mey.
Dan itu bukan jawaban yang Barra suka.
"Aku emang bukan siapa-siapa kamu, Mey, tapi apa salahnya aku mau berguna untuk sesama manusia?"
"Aku gak merasa repot seperti apa yang kamu ucapin, aku senang, aku suka selalu ada untuk kamu." Tegas Barra.
Kata-kata Barra barusan membuat Mey ambigu, otak nya berfikir aneh-aneh mendengar ucapan itu.
Mey hanya tidak mau Barra nyaman lalu... Arghhh tidak!!! Mey tidak mau itu, Barra tidak boleh mempunyai rasa apapun pada Mey.
"Kita berteman sewajar aja ya, Bar, status aku masih seorang istri, gak wajar kalau kamu terus dekat aku, nanti kamu dapat omongan yang gak baik dari orang,"
"Ngapain omongan orang harus aku dengerin, aku gak perduli mereka! hidup tidak harus berjalan sesuai dengan kemauan mereka, ini hidup kita, Meysha."
"Tapi, Barra..."
"Ada siapa Mey? ajak masuk tamu nya, gak baik ngobrol depan pintu," ucap Aini dari dapur.
"Pulang ya, Bar, gak enak udah malam." Tidak tega sebenarnya Mey mengusir seperti ini.
"Besok aku jemput, kita ngobrol di luar ya sambil refreshing pikiran kamu, aku ajak ke tempat yang cocok buat refresh pikiran."
Saat Mey ingin berucap, Barra lebih dulu menaruh jari telunjuk nya di bibir Mey. "Gak boleh nolak, aku yang izin ke Ibu besok."
Barra melangkah mundur. "Aku pulang, selamat malam dan selama tidur, Meysha, jangan lupa untuk minum susu nya, see you tomorrow!!" Lelaki itu melambaikan tangannya seraya tersenyum.
Bahkan yang mengusahakan aku bukan Herza melainkan Barra, lelaki yang aku taro harapan begitu besar malah habis habisan menyakitiku, tapi Barra, dia seperti tameng ku saat ini, bahu tegap nya melindungi ku.
"Rasanya tidak pantas, Barr, cowo sebaik kamu berdampingan dengan wanita seperti ku." Lirih Mey.
Barra, terimakasih yang amat banyak.
••••
See you!!
304,1748.
KAMU SEDANG MEMBACA
TITIK AKHIR.
Fanfiction"Aku hamil, Za." "Itu bukan tanggung jawab gue lagi!" "Kamu bilang akan tanggung jawab, Za!!" "Gue gak bisa, Maaf." "Jangan jadi brengsek kaya gini, Herza!" "Gue bilang, Gue udah gak bisa jalanin bareng Lo!!" "Terus gimana sama anak ini?" "Bukan...
