_29_

2.8K 219 4
                                        

Jangan lupa follow Kaka
Selamat membaca 🥰
Sorry banyak typo,,,

"Udah enakan perutnya?

Suara lembut yanh mengalun dengan tangan mengusap perutnya berhasil membuat Marsel mengangguk lucu,hal itu tak luput dari pandangan ranya sendiri,malem setelah dirinya menemukan Marsel yang meraung menangis sendiri didalam kamarnya,dengan tubuhnya yang basah kuyup dan sedikit goresan luka,ranya seakan tersadar akan kesalahan nya yang tak memikirkan perasaan anak lainnya,disisi lain dirinya bahagia sebab hatinya sudah sepenuhnya menerima haizan,disisi lain juga dirinya masih diragukan dengan hati anaknya Marsel yang masih belum bisa menerima haizan,

Tidak,ranya tidak ingin memaksa Marsel untuk mulai menerima hadirnya haizan,biarkan waktu yang membawa mereka bersama menuju bahagianya mereka,sedikit bumbu cinta juga bujuk darinya,ranya aka berusaha sebisanya agar Marsel mau menerima haizan sebagai Adik,

"Mah?

"Iya sayang?kenapa nak?Kaka perlu sesuatu?

Marsel mendengus tak suka mendengar panggilan ranya untuknya, sementara ranya sendiri malah terkekeh

"Lucu loh kak,anak kicik ini kalo dipanggil Kaka cocok"

"Engga ya,bunda aja yang ngerasa lucu"

"Loh,bener kok,Marsel udah kuliah kan?berarti udah gede ya,cocok dipanggil Kaka"

"Terserah!!

Ranya tersenyum senang menjahili putranya yang kini membelakangi,dia usap lembut Surai sang anak,matanya tak pernah lepas dari tubuh Marsel yang kini mengabaikannya

"Mama keluar ya

"Laper"

"Huh?

"Mama ih,aku laper ma,berarti aku mau makan!

"Tadi katanya gak enak perutnya"

"Udah engga"

Mendudukkan tubuhnya lantas menatap sang mama yang kini menatapnya juga

"Mama duluan aja,nanti aku nyusul,mau cuci muka dulu"

"Yaudah kalo gitu,mama tunggu di bawah ya,papa sama Abang juga ada dibawah"

"Abang pulang?

"Iya,katanya kangen nih sama adeknya"

"Boong"

Ranya terkekeh lantas mencubit gemas pipi sang anak,yang berhasil mendapat dengusan kesal

"Yaudah,mama turun duluan ya"

Membiarkan mamanya pergi,Marsel dengan segera menuruni kasurnya menuju kamar mandi,dirinya perlu mandi sepertinya,malam itu setelah dirinya diantar gadis yang sama sekali tidak dikenalnya,Marsel memilih berdiam diri dikamar tanpa mengganti pakaiannya yang basah kuyup,mendial nomor mamanya dan memintanya pulang,

Egois?

Nyatanya memang benar dan Marsel mengakui itu,takut kehilangan kasih sayang kedua orang tua juga abangnya,Marsel memilih pilihan yang seharusnya tidak dia lakukan,

Setelah dirasa selesai dengan kegiatan nya,dirinya segera turun guna Melakukan sarapan bersama keluarganya,terlebih kali ini devano ikut sarapan bersama,jarang sekali dirinya melihat sang Abang pulang,jika bukan karna kesibukan nya dirumah sakit sudah dipastikan sang Abang memilih pulang ke apart nya yang jauh lebih dekat,atau mungkin ke kost haizan?

"Biarin adek sendiri dulu pah"

Suara devano berhasil menghentikan langkah Marsel yang baru saja menuruni setengah tangga

"Tapi papa agak was was bang,adek tinggal sendiri disana,dan kenapa juga adek milih buat gak sekolah"

"Adek belum mau lanjut sekolah yah,yang aku denger dari sahabat nya,adek kena bully disekolah,mungkin adek ada trauma"

Mengepalkan tangannya,entah kenapa Marsel sedikit kesal dengan pembahasan mengenai adeknya yang terkena bully,padahal jika di fikirkan ulang,itu pasti karna ulahnya yang meminta jigar dan teman temannya membuly haizan

"Abang tau dalangnya?

Ranya menimpali membuat Marsel menajamkan pendengarannya,habis sudah jika semuanya terungkap

"Siapa ya,kemaren abang dikasih tau,namanya jigar sama ada dua anak lagi,itu udah abang urus kok kemarin"

Menggigit bibirnya ragu,Marsel dibuat takut sekarang dengan pernyataan yang pasti akan ada kebenaran

"Anak anak sekarang itu loh,kenapa senang sekali bertingkah sok jagoan gitu"

"Tapi adek gak papa kan bang?

"Kakinya sama kepalnya sempet luka waktu itu,katanya itu kena paku,entah disengaja atau bagaimana,tapi Abang rasa bully  yang diterima adek Udah parah banget"

Hups

"Yaampun anak mama,terus anak anak nakal itu gimana bang?

"Abang usul buat dikeluarin dari sekolah,sempet ditahan,Karna keluarganya terpandang,tapi syukurnya itu Udah diproses kemarin sama jingga"

"Jingga itu sahabat nya haizan?

"Iya mah"

"Syukur deh kalo gitu"

Dan ya berbagai pertanyaan sekarang mulai menggangu fikiran marsel

Bagaimana jika keluarga nya tau,dirinyalah dalang dibalik bully yang diterima haizan

Lalu apakah mereka akan memaafkan nya?

Atau mereka akan membuang nya?

Tidak!!

Penuturan sang mama diangguki papanya,Marsel dapat melihat itu,lantas sesaat setelah dirasa hening Marsel kembali berjalan dengan ragu dan lagi lagi langkahnya terhenti saat sang Abang kembali angkat bicara

"Adek belum mau pindah,karna katanya dia sudah cukup bahagia dengan hadirnya kita,dia gak mau ganggu bahagianya kita dirumah ini,terlebih masih ada yang belum bisa Nerima dia,jadi biarin dia memilih pilihanya dulu ya mah,pah"

Anggukan diberikan ranya dan Antony,sementara Marsel sendiri hanya mampu berdiam diri menyadari jika keraguan haizan ada pada sikapnya,sedikit tersentil hatinya,dan Marsel akui itu,

"Kaka kok diam aja?sini buruan papa mau berangkat ke kantor,takut telat"











Jangan lupa voment ya,,

Bye👋

aku?ada?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang