_36_

857 107 12
                                        

Jangan lupa follow Kaka
Selamat membaca 🥰
Sorry banyak typo

Siang ini suasanan rumah cukup hening,padahal semua anggota keluarga tengah berkumpul bersama di ruang tv,haizan si bungsu mengeluh pusing tadi pagi,sehingga mengundang ketiga laki laki lainnya untuk tidak pergi meninggalkan rumah,bisa saja Antony tinggalkan haizan dengan ranya,tapi mengingat istrinya yang panikan membuat dirinya menahan diri untuk berangkat kerja,devano sendiri memang memilih kerja dirumah, sementara Marsel masih diliputi rasa bersalah dan berakhir ikut serta menjaga sang adik,

"Abang awas!geser!

Marsel berseru kesal saat devano dengan santainya mendudukan diri dihadapan Marsel yang kini duduk disamping haizan yang tengah tiduran berbantalkan paha sang mama,sementara Antony kini tengah melangsungkan meeting diruang kerjanya

Bukannya bergeser devano malah kembali mengundang kekesalan Marsel,dengan sengaja dirinya menumpu kan tubuhnya pada Marsel yang alhasil membuat sang empu keberatan,dan berakhir memukul pelan pundak sang Abang,dan hal itu tidak luput dari penglihatan haizan juga ranya,

"Abang ih jahil banget sama adeknya"

Ranya terkekeh melihat pergulatan kedua anaknya yang saling memukul dengan bantal sebagai senjata,sampai getaran pada tubuh haizan berhasil membuatnya sadar,bungsunya yang ranya fikir menikmati pergulatan kedua kakanya ternyata salah,tubuh haizan bergetar hebat dengan tangan yang saling mengepal,sementara matanya dia tutup rapat,perlahan ranya raih kedua tangan yang mengepal itu,lantas dia kecup lembut,ranya tidak bodoh untuk tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya,untuk itu dirinya juga suami berniat mengunjungi rumah sakit sore ini

Tidak anaknya tidak gila, seperti banyak orang bilang jika mengunjungi psikiater sudah dipastikan gila,tapi tanpa mereka tahu nyatanya satu satunya yang membuat mereka gila itu juga karna fikiran mereka sendiri,haizan cukup kuat untuk mengendalikan diri sehingga tidak berakhir dengan melukai diri sendiri,anak itu cukup tangguh untuk dikatakan gila,mereka salah,tapi sudah berani berkomentar

"Adek"

Lembut,suara nya sangat lembut untuk haizan dengar dengan baik,mata itu terbuka perlahan,tangannya dia tarik kembali lantas segera mendudukan diri,berdesis karna kepalanya yang berdenyut akibat kecerobohan nya yang terlalu cepat bangkit dari tidurnya,

"Pusing?

Devano bertanya,sementara tangannya masih setia mengunci kedua tangan Marsel,tanpa tahu niat jelek Marsel yang kini disadari haizan

"Aw,,aw,aw,,Kaka lepasss!!

Teriakan devano dengan tawa haizan menggema menjadi alarm untuk Antony yang kini memilih keluar dari ruang kerjanya setelah selesai melakukan meeting nya,melihat istri juga anak bungsunya yang kini asik menertawakan devano yang tengah diamuk Marsel,langkahnya dia bawa mendekat,lantas dengan santainya tubuh si bungsu dia angkat dan didudukan pada pangkuanya,menimbulkan pekikan panik haizan yang berhasil menarik perhatian semuanya

"Mas,,itu anaknya kaget loh"

Ranya berseru sembari merapikan rambut yang menghalangi wajah si bungsu

"Maaf sayang,reflek aja tadi"

"Kebiasaan"

Sahut ranya sembari beranjak,memilih untuk pergi ke dapur guna membuat kopi untuk sang suami, sepertinya suaminya tengah dilanda pusing setelah selesai meeting tadi,terlihat dari raut wajahnya yang berbeda,

"Adek"

"iya pa"

Kepalanya dia bawa menghadap sang papa,membuat Antony dengan mudahnya mengangkat tubuh itu untuk dia balikan menghadapnya,lantas tanpa izin haizan masuk kedalam dekapan hangat papanya,

"Papa boleh bicara serius sama adek?

Mengernyit heran lantas mengurai pelukannya,haizan menatap sang papa yang kini tersenyum,dan entah kenapa senyuman kali ini berhasil membuat haizan sedikit takut

"Bicara serius?

Devano juga Marsel terkekeh kecil melihat tingkah si bungsu yang kini meminring kepalanya guna bertanya

"Iya sedikit serius,karna ini tentang adek"

"Gak mau papa"

"Loh papa belum bicara loh,kok udah jawab gak mau?

"Bang devano aja dulu baru adek"

Ketiga nya kembali mengernyit bingung dengan jawaban si bungsu

"Apanya dek?kok Abang duluan?

"Papa pasti mau jodohin adek kan?makanya bilang mau bicara serius"

Antony terkekeh,sementara devano menatap heran adiknya,lain lagi dengan Marsel yang sudah tertawa tanpa peduli raut wajah si bungsu yang kini ditekuk malu,lantas kembali masuk kedalam dekapan papanya

"Kok pikiran nya jauh sekali adek?bukan soal itu nak"

Dapat Antony rasakan anggukan kepala haizan dalam dekapannya,tangannya dia bawa untuk mengelus lembut rambut s bungsu,

"Adek kita ke rumah sakit yuk!

Hening

Hiks

Hiks

Hiks

Tangisan si bungsu berhasil membuat ketiganya panik,lagi dengan kehadiran ranya yang membuat ketiganya lebih panik

"Loh Kok anaknya di tangisin"

Meletakan kopi di meja lantas meraih si bungsu yang kini enggan melepas pelukannya dengan sang papa

"Adek kenapa nak?

"Mama adek gila ya?

"Loh siapa yang bilang?

"Adek pernah denger kalo ke psikiater itu

"No adek,jangan ngomong begitu,gak ada istilah ke psikiater gila,adek ini normal sayang,kita kesana cuma untuk periksa,dan baik nya kedepan adek harus bagaimana,nak,, mama sedih liat adek yang sering nahan nahan panik juga gelisah nya adek"

"Maaf mama,iya adek mau ke dokter"

"Makasih sayang"

Ranya meraih tubuh si bungsu yang kini memeluknya erat,sementara ketiga lelaki lainnya hanya tersenyum menyaksikan keduanya








Hoho

Kangen ta?

Udah mulai sepiiiiii

Tapi tetep makasih buat yang udah vote sama koment,, lovyou pokonya,,

Sampe sini dulu ya,jangan lupa jejaknya ditinggal,,

Vote dan koment

Bye👋

aku?ada?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang