_38_

1K 130 6
                                        

Jangan lupa follow Kaka
Selamat membaca 🥰
Sorry banyak typo,,

Marsel menatap jam tangannya yang menunjukan pukul 17.28,sudah sore fikirnya,dan untungnya keperluannya di kampus pun sudah selesai,kini dirinya sudah bersiap di atas motornya,pulang tujuan utamanya,dirinya sudah merindukan adik bungsunya,belum sempat motor dia jalankan,getar dari ponselnya berhasil menghentikan aktivitasnya,"bang Devan"tertera nama sang Abang disana dengan segera dirinya menjawab panggilan itu yang soalnya malah membuat fikiran nya bercabang

"Loh bukannya sama Abang?aku tadi bilang ada urusan dikampus,dan minta haizan buat hubungin Abang"

"Yaudah bang,aku tutup,mau lihat disekolah adek"

Panggilan diakhiri dengan cepat,Marsel dengan segera melajukan motornya menuju sekolah sang adik,jujur kini hatinya tak tenang mengingat hari yang mulai gelap,sedikit merasa bersalah karna tidak menghubungi sang Abang terlebih dahulu tadi sebelum masuk kelas,Marsel fikir haizan sudah menghubungi sang Abang tapi sampai sekarang abangnya sudah di rumah pun anak itu belum juga menghubungi nya,

Sampai pada akhirnya Marsel melihat sosok adiknya yang berdiri didepan gerbang sekolah dengan tubuhnya yang terlihat bergetar,lagi dan lagi dirinya melakukan kesalahan

"Woy bocil!!

Tatap itu bertemu,haizan dengan cepat berlari menghampirinya,belum sempat marsel memperingati tubuh itu sudah lebih dulu jatuh tepat dihadapannya

"Aduh,,awwss,,Kaka sakitt"

Dengan cepat Marsel turun dari motornya, menghampiri haizan yang kini terduduk sembari membersihkan lututnya yang terlihat luka goresan yang juga mengeluarkan darah

"Siapa suruh lari lari sih dek,jatohkan jadinya"

"Awss,,pelan Kaka,tangan adek sakit juga,lihat tuh sikut adek juga luka"

Keluhan dengan bibir manyun itu berhasil membuat Marsel menahan gemasnya,

"Iya maaf maaf Kaka salah,,"

Haizan mengangguk,lantas mulai menaiki motor sang Kaka,tangannya dia bawa guna memeluk tubuh hangat Marsel,kepalanya dia bawa untuk disenderkan pada punggung tegap yang membawanya pulang,,

"Tadi kenapa gak nelpon Abang,buat dijemput?

Marsel sedikit meninggikan suaranya saat bertanya pada haizan yang kini malah mengeratkan pelukannya

"Hp nya lowbat,,"

Jawab haizan,lalu suara kecil kembali terdengar

"Kaka?

"Hmm,kenapa?adek ka Marsel kenapa hm?

"Makasih banyak udah jemput adek"

Ucap haizan pelan

"Tadi adek takut,adek kira adek bakal dibuang lagi,adek fikir adek gak bisa pulang ke rumah

"Stttt,,,udah ah melow nya,,maaf juga ya Kaka telat jemputnya,"

Gelengan terasa dipunggung Marsel,disertai basah yang Marsel yakini adalah air mata sang adik

"Bukan salah Kaka,,tapi salah hp nya yang lowbat"

Bukan,bukan Masalah handphone nya yang lowbat,tapi sepertinya adiknya tengah menyembunyikan sesuatu darinya

"Okay,nanti cerita sama Kaka ya,,kalo gak sama Kaka bisa sama mama,papa atau Abang"

Lagi Marsel merasakan kepala adiknya mengangguk,pasti terlihat lucu dengan hidung memerahnya,juga bibirnya yang maju 5 centi,,hehe





"Gimana bang?

Ranya kembali bertanya setelah melihat anak sulungnya yang masih berusaha menghubungi ponsel haizan

"Marsel lagi otw ke sekolah adek mah,mana udah gerimis lagi"

Keluhnya dengan fokus masih setia pada gerbang rumah yang belum kunjung terbuka

"Papa gimana mah?

"Udah dijalan,bentar lagi juga sampe,,noh itu mobilnya"

Ranya berseru sembari dengan cepat menyusul suaminya dengan payung,

"Udah Mulai deres tapi adek sama Kaka belum juga pulang"

Keluh ranya pada suaminya

"Loh kok bisa?adek harusnya udah pulang dari tadi kan?

"Aku juga gak ngerti mas,dari tadi hp nya gak bisa di hubungin"

Sampai akhirnya suara gerbang kembali dibuka berhasil membuat ketiganya menoleh,menatap kedua anaknya yang turun dari motor dengan tubuh haizan yang terlihat bergetar

"Uhh diingin nyaaa,badan Kaka basah semua,"

"Gak papa yuk masuk,noh ditungguin"

"Nih pake lagi jaket Kaka,,dingin"

Tangan pucat itu menyerahkan jaket milik sang kaka yang sedari tadi dia pakai

"Ngaco kamu dek,udah pake buat nutup kepala sampe depan teras,emang mau diamuk mama"

Haizan bergedik ngeri dengan wajah yang dibuat takut

"Wihh,,kok pada diluar?nungguin yaaa?

Seruan dengan tawa itu berhasil membuat ketiganya menghela nafas,

"Liat anak mu pah,,kayak gak bikin masalah aja"

Ranya meraih jaket basah yang menutupi kepala bungsunya,menaruhnya asal lantas mengusap wajah itu lembut,

"Bang ambil anduk buat adek adeknya"

Devano dengan cepat berlari kedalam lantas kembali dengan 2 handuk yang langsung dia berikan pada kedua adiknya

"Mandi dulu gih,abis itu turun lagi,kita makan malem bareng,kalian harus buru buru minum obat biar gak kena demam"

"Siap Mama ku tersayang"

Haizan berseru dengan semangat lantas masuk kedalam disusul suami juga devano,sementara Marsel masih diam disana,membuat ranya mengernyit heran

"Kak?ada masalah?

"Maafin Kaka yang telat jemput adek"

"Loh bukan salah Kaka itu,udah ah masuk yuk buruan nanti sakit kamu"

"Tadi adek nangis mah,dan dia belum mau cerita sama Kaka"

"Iya nanti mama tanya ya,sekarang Kaka masuk ganti baju dulu ah,mama takut loh kamu sakit"

Marsel mengangguk lantas mengikuti ketiga laki laki yang sudah masuk lebih dahulu,










Tetott

Dah sampe sini saja yooo,,

Voment nya Jang lupa,,

Bye👋

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 23, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

aku?ada?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang