3 Bulan kemudian
Kandungan Ratri semakin besar, menyebabkan ia semakin kesulitan bergerak. Saat tidak hamil saja dia sudah malas. Apalagi saat hamil. Semakin banyak alasan untuk malas. Tentu saja semua itu membebani Rewinta. Semua pekerjaan dilimpahkan padanya.
Pernah suatu kali karena kecapekan dan akhirnya jatuh sakit, Rewinta terpaksa bolos kuliah beberapa hari. Padahal tugas kuliah juga banyak dan harus diselesaikan. Cita-citanya agar bisa lulus dengan cepat jadi terkendala.
Oleh karena itu sore ini ia memberanikan diri berbicara kepada Bapaknya.
"Bapak longgar sore ini?" Tanyanya sambil mendekati pak Kartono.
"Ana apa Win. Kok kelihatannya serius." Jawab pak Kartono
"Winta mau matur Bapak,"
"Matura. Bapak siap mendengarkan," pak Kartono menangkap keseriusan nada suara anak keduanya ini dan tatapannya menyiratkan sesuatu.
"Pak, bolehkah saya kost?" Tanya Rewinta hati-hati
"Nyapa nduk kok pingin nge kost?"
"Tugas kuliah semakin banyak, Pak. Kalau Winta dirumah, waktunya sedikit buat mengerjakan tugas."
Pak Kartono merasa kasihan dengan anak keduanya ini. Dia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Seringkali berangkat kuliah dengan tergesa-gesa karena waktunya yang mepet. Badannya semakin kurus karena makannya tidak teratur.
"Kalau kost biaya per bulannya berapa ?" Tanya pak Kartono.
"Winta cari yang murah saja, Pak. Harga 350 ribu per bulan," jawab Rewinta. Info dari teman kuliahnya, ada kost an seharga 350 ribu dengan kamar mandi diluar dengan fasilitas kipas angin.
"Insyaallah uang nitip kue di toko cukup Pak buat bayar kost," Rewinta meyakinkan bapaknya.
Pak Kartono menghela nafas. Sudah saatnya anak ini merasakan sedikit kebebasan. Ia yakin Rewinta akan bisa mengatasi kesulitannya. Dan kalau nanti ibunya menghalangi maka ia akan siap melindungi.
"Ya nduk. Bapak mendukungmu. Pesan bapak, jaga diri baik-baik. Jaga pergaulan. Apa yang menimpa kakakmu jangan sampai terulang. Yang pandai memilih teman. Fokus belajar. Ingat perjuanganmu. Ingat harapan bapak tinggal kamu. Jangan kecewakan bapak," Panjang nasehat pak Kartono. Ia ingin anaknya mendapatkan masa depan yang cerah.
"Insyaallah Pak. Seminggu sekali Rewinta usahakan pulang,"
"Arep pulang neng ngendi..?" Tiba-tiba Bu Estiana sudah muncul dari arah pintu depan.
"Lungguha dhisik tak jelasne," Jawab pak Kartono sambil menarik tangan Bu Estiana mengajak duduk.
"Rewinta pingin ngekost. Tugas e kuliah wis akeh. Dhek ne pingin isa fokus," kata Pak Kartono pada Bu Estiana.
"Apa????? Kost???? " Seolah tak percaya dengan pendengarannya, ia mengulang yg disampaikan suaminya.
"Iya." Jawab pak Kartono tenang.
"Rumangsane..terus sing nandangi penggawean omah sapa? Padumu arep nginggati penggawean to? Alasan wae." Bu Estiana ngomel-ngomel.
Rewinta hanya diam. Ia sudah capek.
"Winta tugas kuliahnya banyak. Dia butuh fokus belajar. Lagian dirumah kan ada Ratri. Jangan Winta saja yang kamu suruh mengerjakan pekerjaan rumah. Itu anakmu yang selalu kau manja suruh belajar..latihan mengerjakan pekerjaannya sendiri..." Pak Kartono membela Rewinta.
"Bapak kan tahu to kalau Ratri itu hamil. Makan saja ngga banyak. Masih suka muntah. Badannya masih menyesuaikan dengan kondisi kehamilannya. Kalau disuruh menyelesaikan pekerjaan rumah apa ya ngga kasihan dengan bayi yang dikandungnya? Piye to Bapak iki?" Bu Estiana tidak mau kalah membela Ratri anak kesayangannya.
"Justru itu. Dia kita latih. Jangan malas-malasan biar lahirannya nanti lancar. Badan kalau dibiarkan manja akan mempersulit diri sendiri. Anak yang kamu manjakan bukannya jadi anak yang baik malah bikin malu orangtua. Seperti itu masih kamu bela..." Baru kali ini pak Kartono bicara panjang lebar. Rewinta sampai tidak percaya mendengarnya. Demikian juga Bu Estiana.
"Bapak ini kenapa to? Kok tidak seperti biasanya..?" Bu Estiana mengungkapkan keheranannya.
"Memangnya kenapa? Selama ini aku memang diam tak banyak bicara. Aku berharap kamu paham bagaimana seharusnya kepada anak. Anak kita itu hanya 2. Tapi ternyata kamu belum bisa adil. Dan yang selama ini kamu bela justru mencoreng nama baik keluarga. Bu, apapun sikapmu, aku akan mendukung Rewinta kost. Dia harapanku satu-satunya. Menyelamatkan nama baik keluarga ini.
Nduk, Winta. Bapak ijinkan kamu kost. Hati-hati. Sabtu Minggu usahakan pulang. Mugo-mugo diparingi lancar sak kabehan e." Pak Kartono mengakhiri ucapannya dan beranjak dari tempat duduknya. Menghampiri Rewinta yang masih duduk termangu.
"Kapan kamu berangkat kost? Ayo bapak bantu siap-siap," berkata seperti itu pak Kartono menarik tangan Rewinta diajak menjauh dari ibunya yang masih bengong.
###
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengejar Cinta Halalmu
RomantikKau adalah sahabat kecilku Saat ku harus pergi jauh Kenapa bayangmu tak bisa hilang dari ingatanku Sampai datang saat itu Dan aku tak mau menyia-nyiakannya Damar Satria Anugrah Tiba-tiba kau hadir Dan tak bisa kupungkiri Bahwa hatiku telah kau bawa...
