BAB 26. kekecewaan

359 67 6
                                        

Halo guys!!

Gimana kabar kalian semua?

Semoga sehat selalu, ya!!

------------------------------------------

Siap untuk baca kelanjutannya?


Ubur-ubur ikan lele
Jangan lupa vote nya leee
🙂‍↕️

Happy reading ❤️

***
..........

Nazaya, gadis cantik itu menyenderkan tubuhnya yang masih terasa tak berdaya pada tembok ruangan yang ia tempati saat ini setelah tak sadarkan diri lebih dari 3 jam lamanya akibat pengaruh obat bius yang begitu kuat. Kedua tangannya yang terikat oleh seutas tali membuatnya kesulitan untuk bergerak meskipun hanya sekedar berpindah tempat duduk, untungnya kedua kakinya tidak diikat juga.

"Aws..." lirih nazaya sembari memejamkan kedua matanya ketika merasakan kepalanya yang terasa sakit.

Setelahnya ia kembali membuka mata dan mulai meneliti sekeliling ruangan ia berada, begitu asing baginya. gadis itu pun tak dapat mengenali tempat ini yang bahkan bisa di katakan seperti gudang. Apakah penculik itu yang menguncinya disini, pikirnya.

Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain pasrah dengan keadaan, menyadari tubuhnya yang masih lemah tak ada kekuatan untuk melarikan diri. Nazaya sendiri mereka cemas dan ketakutan berada di tempat seperti ini, ruangan yang sepi, dan hanya diterangi oleh cahaya matahari yang masuk melalui fentilasi udara, sangat menyeramkan.

"Ya Allah...Ini dimana?" Lirih nazaya dengan gemetar. "Mas.. kamu dimana? Aku takut..." Ungkap nazaya, setetes air berhasil keluar dari pelupuk matanya yang sedari tadi sudah berkaca-kaca menahan tangis.

"Tolong!! Tolong! Tolong saya!!!" Jeritnya berupaya sekuat tenaga, berharap ada yang mendengar suaranya yang terbilang kecil itu. Namun nihil, sudah beberapa kali ia mencoba, tetapi tak seorang pun yang datang menolongnya.

"Ya Allah.... Suami hamba dimana? Nazaya takut...." Pecah sudah tangis gadis itu. Ketenangan yang ia butuhkan saat ini tak berada di sisinya, hanya kesunyian yang menemaninya dalam penjara ini.

Nazaya terisak, tubuhnya gemetar di antara rasa takut dan keputusasaan. Ia mencoba menggerakkan kedua tangannya yang terikat, berharap menemukan celah atau kekuatan untuk melepaskan diri. Namun tali itu terlalu erat, membuat pergelangan tangannya terasa sakit setiap kali ia berusaha menariknya.

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari luar. Jantung Nazaya berdegup kencang, rasa takut kembali menghantui. Siapa yang datang? Apakah penculik itu? Atau seseorang yang mungkin bisa menolongnya?

***

Sementara itu, ditengah perjalanan para anggota brave lion berusaha membantu sang ketua mencari istrinya, tiba-tiba saja Azzam memperlambat laju motornya, dan berhenti tepat dibawah pepohonan rindang. Lelaki itu mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan untuk semua anggota berhenti.

"Ada apa, zam?" Tanya mereka bingung.

"Ada sesuatu yang mau lo omongin?"

Azzam menggeleng, lalu menoleh kebelakang, melihat ke semua anggota brave lion.

"Sekarang kita istirahat dulu, kita cari masjid terdekat, sekalian sholat ashar berjamaah disana." Interupsi Azzam sedikit mengeraskan suara, agar semua anggota mendengarnya. Menurutnya, sebanyak apapun masalah yang dihadapi, ibadah adalah hal yang harus di utamakan. karna sejatinya, sebaik-baiknya mencari kunci untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, adalah berdoa dan meminta kepada sang maha pencipta agar dimudahkan.

Azzam Al-FatihCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang