BAB 32. Awal yang baru

287 47 8
                                        


Vote dulu sebelum bacaaa!!!

Ini bab special guysss💠
------

Happy reading ❤️
---

......

Ruangan itu hening. Reza menunduk dalam-dalam, air matanya mulai mengalir. Tidak ada satu pun yang berani bicara. Semua terdiam, ikut larut dalam kisah pilu yang akhirnya terungkap.

"Gue... Gue gak tau..." Reza menangis dalam penyesalan. "Gue nggak tau dia sempat nyari gue malam itu... Gue bahkan gak tau dia pergi karena gue..."

Azzam beranjak dari tempat duduknya dan beralih untuk duduk di samping Reza. "Waktu itu dokter bilang, kalau Erza sempat ada serangan nyeri di dadanya. Mungkin karena dia juga ngalamin stress yang berat karena lo ninggalin dia terus, dia nggak bisa kontrol pikirannya, akhirnya stres itu nyerang ke dirinya sendiri." Terang Azzam.

"Semua ini salah gue, GUE BODOH!! GUE BODOH!!!" Reza seolah ingin menyiksa dirinya karena rasa bersalah yang kini menumpuk tanpa ampun.

"Kalau aja malam itu gue pulang... kalau aja gue mau dengerin dia sekali aja..." Lirih Reza. "Erza... dia satu-satunya yang nggak pernah ninggalin gue, bahkan saat gue ninggalin semuanya..." Suara itu berpadu dengan isakan tangisnya.

Azzam menahan Reza yang mulai gemetar hebat. Ia pegang kedua bahu sahabatnya itu, menatap lurus ke wajahnya yang basah oleh air mata.

"Udah, Rez... lo nggak sendiri. Rasa bersalah itu wajar, tapi lo juga harus bisa maafin diri lo sendiri."

Reza menatap Azzam dengan mata memerah. "Gue gak pantes dimaafin. Gue bikin kembaran gue sendiri... Menderita sendirian..."

"Erza gak pernah nyalahin lo. Sampai akhir, dia cuma pengen lo balik. Dia masih sayang sama lo, Rez... Gue tau itu karena dia ngomong sendiri sama gue sebelum pergi nyusul lo malam itu." Ujar azzam dengan suara rendah.

Tiba-tiba, Azzam merogoh saku jaketnya dan memberikan sebuah benda kepada Reza. "Ini, lo simpan baik-baik."

Reza menerima benda tersebut, dilihatnya, sebuah kalung berwarna silver berbentuk rantai kecil dengan ukiran bertuliskan R&E yang menggantung di bagian tengahnya.
"Ini dari siapa?" Tanya Reza.

Azzam terkekeh singkat. "Lo lupa? Ini kalungnya Erza. Sebelum kejadian itu, kalung ini ketinggalan di atas meja, di markas. Gue pengen kasih ini ke lo, tapi Karena gue gak pernah nemuin lo lagi, jadi kalung ini gue simpan." Jelas azzam.

Kedua mata Reza kembali berkaca-kaca. Tanpa aba-aba, lelaki itu langsung memeluk Azzam dengan erat. Azzam yang mendapat serangan secara mendadak itu pun segera membalas pelukan Reza. Tangis kedua lelaki itu kembali pecah disana, mereka merasakan rindu yang baru saja terpenuh. Selama dua tahun tak pernah bertegur sapa, akhirnya hari yang dinantikan telah tiba. Pertemanan yang retak, kini mulai menata kembali serpihannya. Meski tidak bisa mengubah masa lalu, tapi mereka percaya bahwa mereka masih bisa memperbaiki masa depan.

"A-apa, lo... masih mau nerima gue atas semua yang udah gue lakuin, zam?" Tanya Reza yang masih setia memeluk Azzam

Senyum azzam mengembang. "Tentu. Sedangkan Allah aja maha pemaaf dan masih menerima hambanya walaupun seorang pendosa, kenapa gue nggak? Markas brave lion Masih terbuka untuk lo, Reza." Sahut azzam dengan keikhlasannya.

"Makasih, zam. Makasih lo masih Nerima gue, gue gak tau gimana cara gue untuk balas Budi ke lo...," ucap Reza yang kemudian perlahan melepaskan pelukannya.

Pernyataan itu di balas gelengan kepala oleh azzam. "Gak perlu. Cukup lo datang ke makam almarhum Erza, Ziarahi dia, kirimkan doa lo yang paling tulus untuk dia. Dan jangan lupa juga kunjungi kedua orang tua lo, inget rez, seburuk-buruknya perlakukan orang tua ke anaknya, jangan pernah membenci mereka, ya. mereka tetap orang tua yang harus lo sayangi." Nasihat azzam yang di balas anggukkan tulus oleh Reza.

Azzam Al-FatihCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang