BAB 33. Hampir menyerah

251 36 1
                                        

......

Sekali lagii, tolong ya, sebelum baca kasi vote dulu💨

Tolong penghargaan nya....
In sya Allah sedikit demi sedikit kosakata dan bahasanya akan di perluas, kok! Supaya kalian seru aja bacanya🤏🏻

---------------------------------------

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ


***
......

Ditengah panasnya cuaca yang semakin terik menyengat kulit, terdengar suara Adzan telah berkumandang, menandakan panggilan dari sang Muazin yang menyeru untuk segera menunaikan ibadah.

Azzam, lelaki itu memberitahu semua orang disana untuk menyudahi sejenak pencarian, dan mengajak bagi mereka yang beragama Islam untuk menuju ke masjid yang memang jaraknya tak terlalu jauh dari sana, sehingga suara Adzan itu pun masih sedikit terdengar.

Sesampainya disana, para lelaki itu segera membersihkan diri, serta berwudhu. Masjid ini sudah tak asing lagi bagi Azzam, sebab ia sering mendatanginya ketika menjalankan rutinitas nya mengajar, sehingga banyak warga yang mengenalnya.

Azzam ditunjuk sebagai imam untuk memimpin sholat Dzuhur siang ini, itu pun karena diminta oleh warga. Pembacaan ayat demi ayat suci Al-Qur'an yang dibacanya, terdengar sangat merdu, pelafalannya sungguh jernih tanpa hambatan, membuat siapapun yang mendengarnya ikut terlarut dalam ketenangan hati. Ibadah itu berjalan dengan tenang hingga doa bersama dituntaskan.

"Pak, kami izin duluan melanjutkan pencarian lagi," pamit salah satu anggota Basarnas yang mewakili anggota lainnya untuk beranjak.

Azzam mengangguk, hanya tinggal dirinya seorang lah yang masih menetap di dalam sana, masih setia duduk di atas sajadah dengan memegang sebuah dzikir yang butirannya terbuat dari kayu. Azzam lantas menundukkan kepalanya, melanjutkan bacaan dzikir dengan sangat khusyuk di tengah pikirannya yang terasa begitu kacau.

Inilah salah satu tempat yang menjadi tujuannya untuk mengadu kepada sang pencipta. Tempat untuk menenangkan pikiran, di tengah-tengah kesunyian yang tenang, seorang diri. Tanpa merasa sungkan untuk mencurahkan segala isi hati yang berkecamuk di antara masalah-masalah yang datang membawa ujian hidup.

Tanpa ia sadari, setetes air mata berhasil jatuh membasahi butiran tasbih yang di genggamnya. Semakin lama, air mata itu terus berjatuhan hingga membuat dzikir nya terhenti. suara isakan tangis itu terdengar sangat pedih disertai dadanya yang semakin terasa sesak. Azzam merasa dirinya lemah, ia hampir mengaku kalah saat ini dengan ujian yang datang menerpa rumah tangganya.

Azzam sadar bahwa segala sesuatu yang terjadi hingga kini semata-mata hanya untuk menguji keimanannya. Mulai dari pertemanan, hingga karir yang ia lalui memiliki ujiannya tersendiri, dan itu semua Azzam tuntaskan dengan penuh kesabaran serta keikhlasan. kecuali hanya satu, ujian yang menimpa keluarganya. Ya, rasa cinta Azzam terletak disana.

Ujian kali ini membuat dirinya benar-benar terlarut dalam kesedihan, sangat sulit untuk tegar dari jarak yang memisahkannya dengan sang istri. Azzam sudah berada di titik terdalam dari rasa cinta yang ia alami, rasa rindu yang semakin hari semakin bertambah, menantikan kapan waktu itu akan datang. Jarak terdekat ketika takdir mempertemukan pasangan itu kembali.

"Ya rabb... Sampai kapan dia bisa kembali ?" Lirihnya bertanya-tanya kepada Tuhannya.

Azzam menadahkan kedua tangannya yang bergetar hebat, mengarah ke kiblat diiringi dengan air mata yang enggan untuk berhenti mengalir. Beribu memori yang tersirat antara suka dan duka, kembali memenuhi pikirannya. dirinya kembali mengingat saat pertama kali seumur hidupnya mengucap kalimat sakral yang hanya di ucapkan oleh orang tertentu yang memiliki keberanian. Janji sumpah pernikahan yang mengikat antara dua insan yang saling mencintai, Ketika dirinya merasakan jatuh cinta yang sebenarnya saat itu untuk kali pertamanya.

Azzam Al-FatihCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang