BAB 28. Masih ada harapan?

302 53 4
                                        


Happy reading guys ❤️

Jangan lupa vote nya! Komennya juga yaaa!

Jangan jadi silent reader please..🥲

---------
........

Azzam menatap tajam lelaki yang baru saja keluar dari ruangan itu. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak mendengarnya.

"Apa maksud lo, udah pergi?!" suaranya bergetar, antara marah dan panik.

Randy, lelaki yang berdiri di hadapannya, mengangkat kedua tangan seolah menyerah. "Gue nggak bohong. Dia berhasil kabur lewat jendela. Waktu gue masuk ke kamar ini, dia udah nggak ada." Katanya dengan jujur.

Azzam tanpa pikir panjang langsung menerobos masuk ke dalam ruangan, matanya liar mencari keberadaan Nazaya. Namun, yang ia temukan hanyalah jendela terbuka lebar dengan tirai yang berkibar tertiup angin.

Deg!

Bak tertusuk ribuan busur panah, dadanya terasa sakit, sangat sakit.
Nazaya benar-benar pergi... sendirian. Ia mengira bahwa sang istri tak ada pilihan lain selain melarikan diri melewati jendela ini karena diluar sedang terjadi keributan. Tapi bukan itu yang menyebabkan Azzam cemas, melainkan bagaimana kondisi sang istri jika melewati hutan belantara di belakang bangunan tua ini, terlebih lagi hari sudah mulai gelap, ia takut terjadi apa-apa pada istrinya.

"Zawjati..." Lirihnya diiringi dengan bulir bening yang telah turun membasahi pipinya.

Azzam segera mengambil ancang-ancang untuk melewati jendela itu, berniat ingin mencari sang istri. Namun, langkahnya terhenti tatkala mendengar suara memanggilnya.

"Masih belum nyerah juga?" Kekehnya mengejek.

"Karena istri lo gagal gue bunuh, sepertinya target selanjutnya itu lo."

Azzam berbalik dengan sorot mata penuh amarah. Rahangnya mengeras saat melihat Reza berdiri di ambang pintu dengan sebuah pistol penembak di tangannya.

"Lo nggak bakal bisa kabur kali ini, Azzam." Reza menyeringai penuh dendam.

Azzam mengepalkan tangannya, "lo udah keterlaluan, Rez!"

Reza hanya tertawa kecil. "Kan, Udah gue bilang dari awal, kehilangan harus dibalas dengan kehilangan. Gue udah kehilangan orang yang gue sayang. Jadi, Sekarang giliran lo yang harus ngerasain!"

Kini Randy melangkah maju. "Cukup rez! Semua ini juga akhirnya akan sia-sia, lo jangan bertindak di luar batas!!!" Ucapnya dengan nada tinggi.

"Gak us-"

Ucapan reza segera dipotong oleh Randy, "Reza! Apa lo lupa, Kita dulu juga dari anggota brave lion, Rez! Turunin ego lo, jangan langsung ambil Keputusan tanpa pikir panjang! Sesama tim itu harusnya saling mengerti, bukan mengkhianati!!"

Reza terdiam mendengar kalimat yang diucapkan Randy, apakah keegoisan yang membuatnya berubah sampai sejauh ini. Tapi bukan hal kecil baginya untuk mengikhlaskan kehilangan yang menggoreskan luka teramat dalam. Rasanya tak sebanding jika belum membalaskan dendam.

Sedang, Azzam yang mendapat pembelaan dari Randy, tentu saja membenarkan ucapan itu. Ia yakin, bahwa dalam hati lelaki itu masih menyimpan rasa persaudaraan dalam brave lion. Hanya saja, keegoisan nya lah yang menghalangi.

"AGGHH! BANYAK OMONG!"
Reza hendak melayangkan tembakan itu di udara, mengarahkan tepat pada Azzam sebagai targetnya.

Azzam perlahan mendongak diiringi helaan nafas perlahan. "Silahkan, tembak gue. Selagi itu bisa buat lo ngerasa adil, dan masalah kita terselesaikan..." Azzam berbisik lirih, ia merentangkan kedua tangannya, menantang maut yang ada di depan mata.

Azzam Al-FatihCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang