Jangan lupa vote nyaaa!!!
Wajib👀
------------
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Happy reading ❤️
-------------
......
'Pantang menyerah sebelum bertemu', mungkin itu salah satu kalimat yang menjadi penyemangat bagi untuk Azzam berjuang. Sebab ia percaya, tak ada sesuatu yang mustahil jika tuhan sudah berkehendak, dan itu semua harus dilakukan oleh usaha untuk mendapatkan nya.
Kegiatan yang tak pernah Azzam tinggalkan selepas pulang dari tempatnya bekerja setiap harinya, tanpa mengenal lelah, lelaki itu tetap menjalankan nya bersama para tim SAR untuk mencari keberadaan sang istri.
Hidup Azzam terasa kosong, hampa. Ia telah kehilangan seorang malaikat yang menjaga hatinya. Tak dilihatnya lagi sebuah senyuman yang terbit dari bibir perempuan yang selalu ada kala ia terbangun di pagi hari, dan tidak ada pelengkap dari sebuah cerita disetiap canda dan tawanya setiap hari. Jujur saja, Azzam merindukan itu semua.
Saat ini, Azzam tengah berdiri di depan pintu kediamannya yang kala itu baru saja ia huni. Helaan nafas panjang disertai pandangan mata yang mulai berkaca-kaca, masih teringat di pikiran Azzam, memori terakhir kali sebelum ia kehilangan nazaya.
Welcome to Azna house, gantungan pintu tersebut masih terpasang indah di depan sana. Dengan mengucap salam, perlahan Azzam membuka kenop pintu itu dan mulai memasukinya.
Tepat saat ia menduduki sofa, tangis lelaki itu seketika pecah, kedua tangannya bergetar hebat ketika memegang sebuah ponsel milik istrinya yang saat itu menjadi hadiah.
"Nazaya, Kamu nggak kangen sama mas?" Azzam menatap pilu foto-foto dirinya bersama sang istri yang terpajang di dinding tembok. "Apa kamu lupa? Sehari nggak ada kamu aja mas udah sedih, tapi kenapa kamu malah tinggalin mas sudah hampir sebulan lamanya? Setiap hari mas mikirin kamu, na."
"Padahal waktu itu kita baru aja pindah ke rumah yang sudah mas bangun untuk keluarga kita nanti. tapi baru aja sehari, Kamu sudah nyuruh mas buat tinggal sendiri."
"Dan kenapa waktu itu ngga kamu bawa aja hp ini? Biar mas bisa mudah nyari keberadaan kamu. Kenapa malah ditinggal? Mas ngga perlu punya dua hp, naz." Azzam terkekeh getir menanggapi semua yang ia ucapkan sendiri.
Ia kemudian memejamkan kedua matanya sejenak seraya beristighfar, berusaha menenangkan diri agar emosional nya tak menguasai dirinya.
Setelah menghembuskan nafas panjang, lelaki itu mulai merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya, kemudian mencari salah satu nomor kontak di dalam sana untuk dihubungi.
"Waalaikumussalam, pagi pak, apa ada yang bisa saya lakukan?" Jawab seseorang di sebrang sana setelah Azzam mengucapkan salam pada alat komunikasi itu.
"Hari ini saya tidak bisa masuk ke kantor, karena ada banyak hal yang harus saya kerjakan, jadi saya serahkan semuanya ke kamu ya, Fahri?" Amanat Azzam pada asisten pribadinya, Fahri.
"Baik, pak."
Bertepatan setelah panggilan itu berakhir, dari halaman rumah Azzam seketika terdengar banyak suara deruman kendaraan yang datang. Tak lama, Beberapa menit berselang, satu persatu lelaki memasuki rumahnya disertai salam. Yaa, mereka adalah brave lion. Solidaritas persaudaraan yang tinggi, tak peduli sesulit apapun, asalkan bersama semua akan terasa mudah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Azzam Al-Fatih
Teen Fiction"Ketenangan itu hadir kala mata ini melihat wajahnya." -Azzam ⚠️ Warning... →Cerita ini belum memasuki proses revisi, jadi mohon maaf apabila ada typo, atau part/bab yang kurang menarik untuk dibaca🙏🏻 *** Azzam. Seo...
