Happy reading guys ❤️
Budayakan vote sebelum membaca guys 😣
✅⭐
......
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
-------------------------------------------
..........
"LOH? Itu hp nazaya!"
Naira segera mematikan telfonnya, lalu beralih mengambil benda pipih yang berada di atas meja tersebut.
Susah payah Naira mengendalikan detak jantungnya yang tak beraturan, bahkan Masih terasa gemetar pada tangannya, ia tak habis fikir dan tak menyangka dengan kejadian yang baru saja menimpa sahabatnya itu.
"Ya Allah, ini kata sandinya apa?" Lirih Naira dengan raut kebingungannya memikirkan angka berapa saja untuk membuka ponsel nazaya yang memiliki sandi keamanan.
"Mbak, gimana? Hp nya bisa dibuka nggak?" Tanya ojol yang kemudian menghampiri Naira.
Naira menggeleng pelan, Ia masih berusaha menerka angka yang harus ia masukkan. Tidak mungkin jika ia tulis pin tersebut asal-asalan, bisa-bisa ponsel itu akan terblokir nanti.
"Tanggal lahirnya mungkin, ya?" Gumamnya. Naira mencoba untuk memasukkan pin berdasarkan hari kelahiran nazaya.
Dert. Ponsel itu bergetar, menandakan pin yang di masukkan salah.
"Terus apa dong?" Lirihnya penuh harap.
"Mbak, coba ingat-ingat, angka apa yang paling istimewa menurut temennya mbak. Siapa tau, hari pernikahannya mungkin?" Usul tukang ojol.
Naira melirik ke arah lelaki itu. "Kok mas tau temen saya udah nikah?" Beo Naira.
"Itu."
Naira melihat arah yang di tunjuk oleh ojol itu, ternyata disana, pada dinding tersebut terpajang sebuah bingkai foto pernikahan sahabatnya saat di KUA. Naira tersenyum, ia kembali mengingat memorinya saat hari bahagia nazaya kala itu. Hari dimana nazaya telah menjadi seorang istri dari lelaki yang tak pernah di duga sebelumnya. Naira bahagia karena ia sudah menjadi saksi mata atas hari yang berkenang bagi nazaya.
"Mbak?"
"E-eh, i-iya."
"Ingat angkanya?"
Naira hampir lupa tujuan sebelumnya, karena teringat kembali pada foto itu. Ia menepuk jidatnya, lalu mengingat tanggal berapa nazaya menikah?
"Tunggu, berapa, ya? Tepat 7 hari setelah nazaya keluar dari rumah sakit. Eee.." Naira mengetuk-ngetuk keningnya mengingat. "Oh, iya!" Segera Naira memasukkan pin angka tanggal pernikahan nazaya.
Dert. Ponsel itu, kembali bergetar. Mengapa pin itu masih salah? Jadi, berapa pin yang benar? Naira semakin dibuat cemas, ia tak bisa berfikir jernih saat ini.
"Aduhh, gimana? Sandi nya masih salah," keluh Naira menatap sendu ke arah ojol.
"Coba sini saya tes, mbak?" tawar ojol. Naira menyerahkan ponsel itu pada laki-laki tersebut. "Mas tau sandinya?"
"Nggak sih, mbak. Tapi, kan, saya tes dulu. Siapa tau feeling saya bener." Ucapnya dengan percaya diri. Naira hanya mengangguk-angguk saja meskipun ia sedikit ragu, tapi apa salahnya jika memberikan kesempatan pada lelaki itu untuk mencoba. Semoga saja pin itu bisa terbuka, harapnya.
Click. Suara ponsel itu terbuka. Naira yang mendengarnya pun, sontak melihat ke arah sumber suara. Wajah yang semula terlihat murung, kini spontan berubah menjadi sumringah, Perasaannya sudah sedikit lega sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Azzam Al-Fatih
Ficção Adolescente"Ketenangan itu hadir kala mata ini melihat wajahnya." -Azzam ⚠️ Warning... →Cerita ini belum memasuki proses revisi, jadi mohon maaf apabila ada typo, atau part/bab yang kurang menarik untuk dibaca🙏🏻 *** Azzam. Seo...
