Vote dulu sebelum baca ya guyssss.... Dimohon untuk menghargai ceritanya😉
......
Happy reading ❤️
------------
...
"Waalaikumussalam..., eeh...., Ning. Sudah bangun?" Seru wanita itu.
Nazaya spontan menoleh saat ada suara yang menjawab salamnya. Dilihatnya, seorang wanita paruh baya kisaran berumur 50 tahun dengan berpakaian khas orang tua zaman dahulu disertai kain jarik yang dililit sebagai rok. wanita tersebut tengah menghampirinya dengan raut wajah sumringah. Nampaknya wanita itulah yang menolongnya, sekaligus pemilik rumah ini.
Wanita itu kini sudah berada tepat di hadapan nazaya. Nazaya segera bergerak untuk bangkit, ia sedikit kesusahan untuk bergerak, wanita itu segera membantunya untuk duduk.
"Gimana kondisinya nduk? Udah mendingan?" Tanyanya disertai tatapan cemas.
Melihat nazaya yang menatapnya dengan melamun dan tak merespon, wanita itu kembali memanggil, "Ning?" Sebutnya.
Lamunan nazaya seketika buyar.
"Maaf, I-ibu... siapa? Ini... dimana?" Tanya nazaya dengan terbata-bata. Masih banyak keraguan pada dirinya sehingga tak mudah untuk mempercayai seseorang begitu saja.
Wanita itu tersenyum. "Ini di rumah saya. Nama saya Sri, panggil saja Bu Sri. Tadi pas ibu mau ambil tas ibu yang ketinggalan di hutan, ibu ngeliat kamu pingsan di bawah pohon. Kondisi tubuh kamu banyak luka-luka. Jadi ibu bawa kamu kesini, ke rumah ibu untuk di obati, Ning." Terang wanita bernama Bu Sri itu dengan logat khas Jawa nya.
Nazaya mengangguk perlahan. Syukurlah jika wanita itu adalah orang baik yang datang sebagai penyelamat nya. walau, dalam benaknya ia merasa sedikit bingung dengan panggilan wanita itu padanya. "Ning? Siapa Ning?" Padahal nazaya sama sekali belum memperkenalkan diri.
"Gimana keadaanya, ning? Udah agak mendingan?" Tanyanya kembali.
"O-oh, iya, bu. Alhamdulillah udah mendingan. Terimakasih banyak Bu, sudah tolongin saya... Saya nggak tau gimana nasib saya seandainya ibu nggak ada disana..." Jawabnya penuh rasa syukur.
"Alhamdulillah...." jawab Bu Sri yang menghadirkan senyuman, sangat tulus. "Ibu izin baikin perban kamu, nak." Ujar Bu Sri mengulurkan tangannya untuk memperbaiki perban di betis nazaya.
Nazaya merasa sedikit tak enak, namun bu Sri dengan segera mengeratkan ikatan perban tersebut sehingga ia membalas dengan anggukan. Terjadi keheningan dalam beberapa saat. Nazaya kemudian membuka suara, "Bu..." Panggilnya lirih.
"Loh, nduk. Kok nangis?" Kaget bu Sri yang melihat nazaya mengeluarkan air matanya tiba-tiba. Wanita itu nampak panik dibuatnya, ia segera mengusap pelan kedua pipi nazaya yang telah basah akibat tangisannya.
"Kenapa, Ning?" Tanyanya begitu khawatir.
Nazaya berusaha mengontrol dirinya agar air mata itu berhenti mengalir.
Ia menghela nafas panjang sebelum menjawab, "Bu... Ibu, bisa tunjukkan dimana jalan untuk saya pulang? Demi Allah, saya ingin bertemu dengan suami saya, Bu..." Ujarnya kembali terisak.
Bu sri baru tahu jika perempuan dihadapannya ini ternyata sudah menikah, ia dapat merasakan kesedihan yang sama. Wanita itu kemudian membawa nazaya dalam pelukannya sembari mengelus pundaknya dengan lembut.
"Ibu tau yang kamu rasakan, nak. Ibu memang ingin membantu kamu. Tapi sekarang...., kamu belum pulih, masih banyak luka yang harus di obati," Bu Sri menjeda sejenak. "Nduk, dengar ibu, ya. Kalau cuma satu orang yang berjuang, pasti akan kesusahan. Maka dari itu, kamu juga harus berjuang untuk sembuh, supaya kalian bisa bertemu lagi... Ibu pasti akan usahakan untuk bantu kamu, nduk. " ucap Bu Sri mencoba menenangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Azzam Al-Fatih
Novela Juvenil"Ketenangan itu hadir kala mata ini melihat wajahnya." -Azzam ⚠️ Warning... →Cerita ini belum memasuki proses revisi, jadi mohon maaf apabila ada typo, atau part/bab yang kurang menarik untuk dibaca🙏🏻 *** Azzam. Seo...
