37] Siapa?

544 110 7
                                        

Jeriel berdiri dalam diam, menatap dari kejauhan, disana, seorang gadis berdiri di depan makam palsu milik Jemian. Sendirian, nyaris belasan menit berlalu, dan gadis itu hanya memandangi makam tanpa ada pergerakan berarti lainnya.

"Siapa? Sepertinya bukan Harvey," gumam Jeriel kala gadis itu berlalu pergi dari sana.

Ia menarik nafas dalam, memilih ikut pergi dari sana dengan langkah pelan, pikirannya sibuk menerka nerka keberadaan Yoona dan Jerzi, "Aku harus percaya pada daddy, semua akan baik baik saja."

Yang harus di pentingkan sekarang adalah Jemian.

________________________

Winter menatap kopernya, "Oke, biar gue beresin Herzy sekarang."

"Asrama--bakal jadi tempat lo hancur kali ini, Herzy."

"Cewe itu sekamar sama ning ning, kan?"

"Benar, nona. Saya sudah bicara pada pihak asrama, semua sesuai apa yang nona minta."

"Oke, ayo ke asrama sekarang, gue harus beresin mereka satu satu."

Pertama Ning ning, lalu Herzy, dan sisanya akan Winter atur nanti. Hah, dia akan menghancurkan mereka sendirian, tak ada lagi Jemian, menyusahkan.

"Udah suruh cewe yang kita bayar itu buat dateng juga, kan?"

Ini mudah, Winter tinggal ikut membuat satu gadis cupu dan miskin tinggal satu kamar dengan Ning ning, membuatnya menjadi bahan pelampiasan amarah gadis itu yang saat ini tengah kacau, lalu menyebarkan semuanya saat waktunya tepat.

Lalu Herzy--Winter akan maju sendiri untuk rencana yang satu itu.

"Atau gue harus mulai dari Ricky duluan?"

Tidak, akan lebih baik menghancurkan Herzy duluan, agar kepercayaan diri yang lainnya ikut turun karena Herzy jatuh, mereka percaya Herzy, jadi ketika Herzy jatuh, kepercayaan diri mereka ikut jatuh.

Helaan nafas kasar Winter terdengar, berpikir keras akan rencananya, "Gimana--cara jatuhin Herzy. Terlalu susah, dia percaya diri--"

...percaya diri?

Bukankah--menghancurkan seseorang yang cukup percaya diri seperti Herzy adalah membuatnya tak punya lagi kepercayaan diri dan kehilangan muka?

Dan satu nama terlintas begitu saja dalam benak Winter.

"Sava, ayo balas sama persis kayak yang dia lakuin ke adek lo."

___________________________

"Ibu mu sedang ada urusan di luar negeri, lalu ayah mu--sudah lama meninggal."

Jemian mengangguk paham mendengarkan penjelasan Lucius, "Ibu pergi sendiri?"

Lucius terkekeh melihat seberapa kakunya Jemian saat bertanya, canggung, "Mama, kau memanggilnya mama. Dan dia pergi dengan kakek mu, tidak sendiri."

"Mungkin mereka akan kembali lumayan lama, kakek mu benar benar sibuk, begitu juga ibu mu. Kau sudah biasa tinggal sendiri, ibu mu memang sering bepergian."

Jemian lagi lagi mengangguk seraya tersenyum tipis, "Mama tak menghubungi ku?"

"...t-tidak, dia sangat sibuk, jadi tak sempat memegang handphone," Lucius tersenyum kikuk.

"Kau mau makan? Sebentar, tadi ibu ku membawa makanan, biar aku ambilkan," kata Lucius tergesa gesa, tampak jelas sedang mengalihkan pembicaraan.

"Apa aku punya alergi?" Jemian bertanya dengan nada penasaran.

Lucius tersenyum pada Jeriel yang menatapnya, "Tidak, kau tak punya alergi makanan, jadi tenang saja."

"Oh, bagaimana bisa--aku mendapat luka seperti ini? Bukannya--luka tusukan di dada seperti ini termasuk hal besar?"

Hening, Lucius terdiam, tampak serius berpikir, ia berulang kali berdehem, namun otaknya mendadak tak bisa berpikir apapun.

"Kau di serang, perampokan, kau berusaha melawan saat mereka mencuri tas dan jam tangan mu, jadi mereka memyerang mu."

Keduanya menoleh, menemukan Jeriel masuk, lelaki itu tersenyum ramah pada keduanya.

"Hai, aku Jeriel teman mu."

_________________________

Herzy mengernyit, kenapa laki laki yang baru bergabung itu terus menatapnya, sial, kasur lelaki itu juga dekat dengannya, menyebalkan!

"Kita cuma bertiga disini? Lumayan, setidaknya ada yang menarik disini."

"Apa? Kenapa natap gue sialan? Jaga mata lo!" sentak Herzy kesal.

Di antara keduanya, hanya lelaki yang mengenakan kacamata tersebut yang benar benar tak peduli, bahkan tak menoleh kala Herzy dan lelaki itu terus berbicara dengan nada tak menyenangkan.

"Gue Hel, lo--Herzy, kan? Lo cantik banget, gue liat lo pas pertama masuk asrama."

Herzy berdecih, "Ngga ada yang mau tau nama lo!"

"Tapi gue mau lo tau nama gue," jawab Hel, lengkap dengan senyum.

Firasat buruk, Herzy merasa tak nyaman, dia harus segera pindah dari kamar ini.

___________________________





"Ash hilang!"

Seruan panik Jeriel itu berhasil membuat Lucius yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit melotot, ia segera berlari menuju ruangan cctv, "sial!"

Masalah lain belum selesai tapi masalah baru sudah datang, ini benar benar sangat kacau.

Namun, baru saja Jeriel hendak masuk ke lift, Ash muncul, datang dari arah tangga darurat, membuat Lucius dan Jeriel segera berlari mendekat.

"Ash! Kau darimana saja?"

Yang di tanya mengerjap bingung, "Aku? Aku mendengar suara dari tangga darurat saat keluar dari ruangan ku, jadi aku memeriksa."

Jeriel mengernyit, tadi ia sudah memeriksa ke sana tapi Ash tak ada, ia hendak bertanya, namun urung saat sadar seberapa panik Lucius yang kini menuntun Ash untuk kembali ke ruang rawat inapnya.

"Mungkin--aku tidak melihatnya karena terlalu panik," guman Jeriel berusaha berpikir tenang.











"Para perampok yang menyerang mu? Tentu saja di tangkap dan ditahan, kau tak perlu khawatir."

"Apa aku pergi sendiri saat itu?" tanya Ash lagi dengan raut penasaran.

Lucius mengangguk, "Iya, kau pergi sendirian saat itu."

"Kenapa? Kemana aku akan pergi?"

"Menemui teman mu, kau memang sering pergi sendiri jika kemana mana, tapi setelah ini tentu saja kau tak boleh pergi sendiri lagi, ada banyak situasi berbahaya seperti perampokan dan penyerangan dari orang tidak di kenal," Jeriel menjawab panjang lebar dengan kebohongan.

"Apa aku juga pernah di serang orang tak di kenal?"

"Tentu tidak, kenapa kau harus di serang? Kau siswa yang baik dan warga yang taat aturan, aku hanya mengatakan untuk lebih baik berjaga jaga karena kau benar benar baik dan tak pernah melanggar aturan, orang orang jadi akan lebih mudah menyerang mu."

"Tapi ada banyak luka lain di tubuh ku."

Jeriel dan Lucius saling melirik sebelum kembali menarik senyum seperti biasa.

"Kau suka berlatih karate dan boxing, jadi tentu saja ada banyak luka, bekas luka jahitan itu karena kau pernah terluka saat jatuh dari motor, itu penyebabnya."

'Aku tak pernah tau mereka pintar mengarang seperti ini.'

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 26 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

THE HEIRSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang