To Good to be True

913 90 14
                                        

Gue rasa, gue cukup tertarik sama lo.
Gue rasa, gue cukup tertarik sama lo.
Gue rasa, gue cukup tertarik sama lo.

Satu kalimat yang baru di lontarkan Mas Angka terus berputar di dalam kepalaku. Seolah memenuhi semua bagian otak di dalamnya, sampai aku tidak bisa memikirkan hal lain kecuali satu kalimat mematikannya.

"Gue rasa, gue cukup tertarik sama lo,"

"Itu dia confess apa gimana?" gumamku sangat pelan, lalu bergidik sendiri.

"Na?"

"Hah?" jawabku kaget. Semakin kaget saat sadar bahwa laki-laki yang mengucapkan kalimat yang terus terngiang di dalam kepalaku ini masih duduk manis, tepat di hadapanku.

"Lo gak papa?"

"Gue shock, Mas." Jawabku jujur. Sudah kepalang basah, jadi sekalian nyebur. "Gue gak nyangka sama kalimat yang baru aja lo bilang."

Bukannya malu, Mas Angka justru terlihat tenang. Dia bahkan menyunggingkan senyumnya, seolah tidak merasa terganggu dengan aku yang membawa topik obrolan ini.

"Kenapa? gue beneran serius pas ngomong itu."

Apa cara orang dewasa mengutarakan perasaannya memang sesantai ini?
Kenapa aku tidak bisa menerimanya.

Kenapa dia terlihat biasa saja?

Aku menggeleng. "Kenapa kaya enteng banget, Mas, ngomongnya. Kaya lagi bukan ngomongin hal yang serius."

"Kata siapa?" aku mengernyit heran. "Di sini," Mas Angka menunjuk dadanya. "Jantung gue lagi berdetak nggak normal, Na." Lanjutnya.

Matilah aku!

"Wait, Mas." Aku mencegahnya untuk melanjutkan bicara. "Tunggu dulu, jangan dilanjut."

Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Biar gue dulu yang ngomong, boleh, Mas?" pintaku memohon.

Mas Angka mengangguk, lalu diam dan menatap lurus ke arahku. Menunjukkan melalui gesture tubuhnya bahwa dia sedang mempersilahkan aku untuk berbicara, sesuai dengan permintaan yang aku ajukan.

Sial!
Kenapa aku malah grogi?

"Definisi tertarik di kepala lo, apakah sama dengan apa yang di kepala gue itu sama?" tanyaku hati-hati.

Mas Angka menggangguk yakin. "Sama."

Aku kaget, tentu saja. Namun tidak mungkin berhenti di sini. "Lo tau kan kalau kata tertarik yang ada di kepala gue berarti mengarah ke arah 'suka'?" lagi-lagi dia mengangguk.

"Jadi lo suka gue?" tebakku langsung. Pasalnya ini sangat aneh, bahkan teramat sangat aneh. Kami jarang berhubungan, bahkan berkomunikasi via media sosial. Hanya sesekali, itu pun saat ada momen di mana dia beberapa kali me-reply stoiry karena aku yang sedang membagikan momen tertentu.

Lalu kenapa saat kita tiba-tiba bertemu dia malah bilang tertarik?
Sejak kapan?
Apa penyebabnya
?

Banyak pertanyaan muncul di dalam kepalaku.

"Iya." Jawabnya. Hanya satu kata, tapi berhasil membuatku diam.

"Sekarang gue udah boleh ngomong?" aku mengangguk menanggapi.

"Oke, gue sadar kalau omongan gue terlalu frontal dan bikin lo kaget." Mulainya. "Tapi gue gak bohong, gue emang tertarik sama lo."

"Lo mungkin mikir gue bercanda karena selama ini gue gak pernah kelihatan nunjukin intensi ke arah sana waktu ngobrol atau komunikasi sama lo, Na. Tapi memang faktanya gitu, dari awal juga gue gak pernah menyangka kalau gue bakal tertarik sama lo."

"We're just friend, right? dan itu selalu gue tekenin dalam kepala gue." Lagi-lagi aku mengangguk. Setuju dengan ucapannya, sebab aku juga berpikiran dengan hal yang sama. Menganggap kami hanya sebatas teman, meski beberapa kali aku galau dan merasa bahwa aku tertarik dengannya. Begitu juga beranggapan bahwa dia juga tertarik padaku. Apalagi sejak hari-hari terakhir di tempat kami menjalankan pengabdian.

"Ya, kita hanya sebatas teman." 

"Tapi gue gak bisa menyangkal, Na. Sejak terakhir kita berpisah di Jogja, gue ngerasa ada yang beda. Dan sometime, gue tiba-tiba kepikiran lo tanpa alasan"

Waduh!
Gue juga ngerasa gitu juga lagi!

"Waktu tanpa sengaja kita ketemu di Jakarta, gue mengakui kalau gue ngerasa seneng. Tapi perasaan seneng gue itu gak cukup bikin gue yakin buat memvalidasi apa yang sebenernya gue rasain ke lo," aku masih diam mendengarkan. Seperti seorang anak yang mendengarkan orang tua menasihatinya.

"Gue percaya kalau rasa seneng itu sebatas rasa seneng karena akhirnya ketemu temen lama." Dia menjeda kalimatnya sebentar, sebelum akhirnya kembali melanjutkan. "Tapi gue gak bisa denial kalau rasa seneng ini beda. Dan gue rasa, gue memang tertarik sama lo. Tertarik dalam artian, gue pengen tau lo lebih dalam dari sebelumnya."

What the hell, Mam?
Obrolan kita bahkan nggak pernah intens, kenapa laki-laki tampan ini tiba-tiba mengatakan tertarik sama aku mamaaaaaaa!
Apakah aku sedang berimajinasi?


Coffee LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang