Mulutmu harimaumu memang benar adanya. Gara-gara satu pertanyaan yang aku lontarkan tanpa dipikirkan dulu, kini aku terjebak dengan atmosfer kecanggungan bersama dengan laki-laki yang duduk di hadapanku. Laki-laki yang belakangan ini selalu muncul dalam kehidupanku, Angkasa.
Mas Angka yang masih diam tanpa menjawab pertanyaan randomku, serta aku yang sedang menyesali kebodohan karena mengajukan pertanyaan itu membuat tidak ada suara di antara kami. Kami hanya duduk berhadapan tanpa satu pun obrolan. Seperti dua orang asing yang baru bertemu.
"Udah, Mas, gak usah dijawab. Gue asal ngomong tadi." Pada akhirnya, aku yang memecah keheningan. Menjelaskan bahwa pertanyaanku hanya iseng, dan tidak perlu repot-repot menjawabnya.
"Bisa dibilang iya, bisa dibilang nggak."
"Hah?" reflekku. "Maksudnya gimana, Mas?" masih tidak paham dengan apa yang baru dia katakan.
Mas Angka tersenyum. "Jawaban dari pertanyaan lo tadi, Na. Apa pas kuliah gue kaya Radit apa nggak."
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa dia akan menjawab pertanyaanku. Namun karena dia bersedia menjawab, maka aku menjadi penasaran dan ingin menggalinya lebih dalam. "Kenapa bisa dibilang iya bisa dibilang nggak, Mas?"
Mas Angka terlihat berpikir, dan tanpa sadar aku juga sangat menantikan jawaban yang akan keluar dari mulutnya.
"Gue dulu ketua himpunan kaya Radit, tapi ...." dia menjeda kalimatnya. "Gue nggak sempet ketemu perempuan yang kaya Ika." lanjutnya sembari terkekeh.
"Mungkin Mas terlalu ambis dulu,"
Mas Angka mengangguk. "Kayaknya sih gitu," jawabnya membenarkan.
Krik. Krik.
Gue harus respon apalagi nih biar obrolannya nggak mandeg?
Kan nggak lucu kalau diem-dieman lagi.
"Kalau sampe ketemu orang kaya Ika, nanti cerita masa kuliah lo sama dong kaya mereka, Mas."
"Actually to good to be true, right?"
Lagi-lagi Mas Angka mengangguk. "Iya, cuma kayaknya bakal seru kalau kejadian. Bisa jadi kisah masa kuliah yang bisa dikenang."
Aku tertawa. "Bener, Mas. Cuma kalau kejadian, lo mungkin udah jadi bapak-bapak dengan dua anak sekarang, Mas."
Mas Angka tergelak. Mungkin tidak menyangka dengan kalimat yang keluar dari mulutku. "Nggak juga kali, Na."
"Loh, kenapa nggak, Mas? bisa jadi tau."
"Kalau lo udah ketemu orang kaya Ika di masa kuliah, lo udah dapet calon istri sehabis kuliah. Bener nggak?"
"Bener sih, tapi nggak bener juga." Ujarnya. "Gue nggak pernah kepikiran nikah muda."
"Kenapa?" mulutku benar-benar tidak bisa dihentikan. Sebelum otakku memprosesnya, mulutku lebih cepat mengambil keputusan. "Gue padahal punya cita-cita nikah muda."
"Kenapa?" bukannya menjawab, Mas Angka justru balik bertanya.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa lo pengen nikah muda?"
Aku diam. Memikirkan alasan kenapa aku ingin menikah muda. Mungkin karena dulu tidak punya bayangan bersama orang lain selama sama Fian?
"Biar kalau punya anak nggak terlalu beda jauh gap umurnya." Enggan membahas perihal masa lalu, aku justru memberikan alasan lain. "Kalau lo kenapa, Mas? Kenapa nggak kepikiran nikah muda?"
"Karena pengen muas-muasin masa muda dulu."
Sedikit ambigu, tapi masih bisa diterima.
"Maksud gue, mau puas-puasin main dulu, Na. Gue selalu pengen nyobain banyak hal baru, jadi prefer dilakuin dulu sebelum ngebagi fokus." Dia sepertinya bisa membaca ekspresi wajahku, jadi cepat-cepat mengklarifikasi.
"Kan bisa jalan dua-duanya, Mas." Aku menyanggah kalimatnya. Menunjukkan padanya bahwa ada alternatif lain, sebab memiliki pasangan bukan berarti menghambat hobi dan impian-impian yang belum kita wujudkan.
"Iya, cuma gue pengen fokus satu dulu."
Dahiku mengernyit.
"Gue tau kalau punya pasangan bukan berarti membatasi hobi kita akan sesuatu, Na. Apalagi kalau pasangan kita suportif, mungkin justru akan membuat kita jadi lebih semangat dalam menjalani hobi itu."
"Cuma karena hal-hal yang pengen gue lakuin berkaitan dengan pergi ke tempat-tempat baru dan butuh waktu lama, gue better nggak punya pasangan dulu." Lanjutnya.
"Gue merasa kalau gue punya pasangan, gue harus kasih banyak atensi ke pasangan gue. Fokus ke dia, dan banyak quality time. Gue mau buat dia merasa diprioritaskan, tanpa merasa dinomorduakan sama hobi yang lebih banyak menyita waktu.
Aku mengangguk. Setuju bahwa penjelasannya ini sangat masuk di akal. Sebagai perempuan, tentu ingin selalu diperhatikan dan diprioritaskan. "Setuju sih kalau itu," Aku menyesap caramel macchiato ku setelah mengatakan satu kalimat itu.
"Gue setuju sama pemikiran lo."
"Anyway, lo udah punya pasangan belum, Na?"
"Hah?" lagi-lagi mulutku sudah bersuara sebelum diperintah. Perubahan pembicaraan ini cukup ekstrem, dan aku tidak cukup siap.
"Lucu banget."
Sumpah aku mendengar Mas Angka bergumam dua kata itu. Namun aku tidak cukup berani untuk bertanya dan memastikan.
"Sory, Mas, lo tadi nanya apa?"
"Lo udah punya cowok belum, Na?"
"Kenapa?" bukannya menjawab, aku justru kembali bertanya. Sedikit berharap bahwa alasan yang keluar dari mulutnya bukan hanya sekedar kata 'penasaran'.
"Gue rasa, gue cukup tertarik sama lo."
Mamaaaa!
Kenapa ada orang seterang-terangan ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Coffee Love
ChickLit"Menurut Mas Angka, apa termasuk kerugian jika melewatkan untuk memiliki pasangan sepotensial ini?" aku menjaga nada suaraku agar tetap stabil. Mas Angka mengangguk. "Iya, dan mungkin akan sangat sulit untuk menemukan kandidat dengan kualifikasi sep...
