I Said 'Yes'

386 41 5
                                        

Ada yang pernah bilang bahwa jika ingin bertemu dengan orang-orang baik, maka kita harus melepaskan orang yang salah dulu. Dan sekarang, aku tahu betul bahwa ini adalah pernyataan yang benar. 

Semakin kita ikhlas melepaskan, semakin kita memaafkan, dan semakin kita menerima orang-orang yang telah mengecewakan, maka orang-orang yang baik akan mulai berdatangan. Mungkin awalnya memang sulit, karena kita tidak pernah benar-benar tahu apakah orang yang bersama kita adalah orang yang salah. Namun saat akhirnya kita berani mengambil langkah, maka semua yang abu-abu akan mulai menjadi lebih jelas.

"Sejujurnya gue bingung harus respon kaya gimana, Mas." Setelah terdiam beberapa saat, aku akhirnya bersuara. Mau tidak mau aku harus menghadapi pernyatan cinta dari laki-laki tampan yang ada di depan mata. "Lo bahkan nggak pernah ngajakin gue nge-date, tapi sekarang lo justru ngajak gue pacaran."

Mas Angka masih memberikan atensi penuhnya padaku. Matanya memang menyorot tajam, tapi aku tahu betul bahwa ada kelembutan yang terpancar di sana.

"Gue gak tahu apa ini yang namanya tahapan pendekatan dari seorang yang sudah dewasa. Tapi bagi gue, rasanya masih terlalu tiba-tiba." Dibandingkan dengan dua orang yang sedang membicarakan perasaan masing-masing, rasanya orang lain akan melihat kami sebagai dua orang yang sedang membicarakan bisnis.

"Tolong kasih gue alasan kenapa gue harus mau jadi pacar lo, Mas." Aku tau ada perubahan ekspresi di wajahnya. Namun itu hanya bertahan sekian detik, karena setelahnya laki-laki ini sudah berekspresi seperti semula. "Karena gue orangnya cukup rasional, dan biasanya gue menjadikan waktu pendekatan sebagai penilaian untuk menerima seseorang."

Aku tidak tahu sejak kapan aku benar-benar terlepas dari bayangan Arfian. Aku yang awalnya pesimis dan menganggap akan butuh waktu lama untuk melupakannya, kini tersadar bahwa sudah cukup lama sejak terakhir kali aku memikirkan laki-laki itu. Apakah waktu memang sudah menyembuhkan rasa sakit, atau keberadaan laki-laki di depanku inilah alasan sesungguhnya? entahlah!

"Pertama," Mas Angka memulai kalimatnya dengan tanpa keraguan. Namun dengan wajah tampan dan pekerjaan yang mapan, memang sudah seharusnya dia selalu tampil dengan penuh percaya diri. "Selama kita saling mengenal, gue ngerasa cocok sama lo, Na. Komunikasi kita nyambung, dan bahkan dari segi pemikiran maupun pandangan hidup kita sejalan. Dan dalam sebuah hubungan, kedua hal itu menjadi hal yang cukup crusial bagi pasangan."

Aku mengangguk, membenarkan apa yang dia katakan. Dalam sebuah hubungan, komunikasi yang baik adalah kunci dari hubungan yang awet. Sedangkan pemikiran akan pandangan hidup yang sejalan akan mengurangi frekuensi konflik di masa depan.

"Kedua, gue selalu merasa ingin dekat sama lo. Menghabiskan waktu sama lo, dan bahkan selalu ingin ketemu saat kita jauh. Dan gue tahu betul bahwa alasan kenapa semua itu terjadi adalah karena gue tertarik sama lo. Gue, suka sama lo." Setelah menjeda kalimatnya, akhirnya Mas Angka mengatakan kalimat terakhirnya.

Lagi-lagi, aku menerima baik alasan keduanya. Bahkan dari sisiku, aku sepertinya mengalami hal yang sama dengannya. Namun bedanya, aku cukupp denial dan tidak ingin menerima bahwa kekhawatiranku belakangan adalah karena aku merindukannya, dan mungkin juga sudah jatuh cinta dengan dia.

"Ketiga, gue punya pekerjaan tetap. Punya sedikit tabungan, dan ekonomi juga baik."

"Gue gak matre, Mas." Untuk alasan ketiga, aku cepat-cepat membantah. Menunjukkan padanya bahwa aku bukan perempuan materialistis yang menilai laki-laki dari hartanya.

Mendengar penyangkalanku, Mas Angka terkekeh. "Iya, Na. Gue tahu lu bukan perempuan materialistis," katanya. "Gue  ngasih tahu soal ekonomi dan pekerjaan cuma biar lo tau, kalau gue bisa jadi laki-laki yang bisa diandalkan. Gue bisa jadi seseorang yang nge-provide pasangannya dengan baik, dan tidak akan merasa rendah diri dalam sebuah hubungan."

Diam-diam aku menahan senyumku. Sepertinya menjalin hubungan dengan orang yang dewasa memang menyenangkan, karena semua hal sudah dipikirkannya dengan matang. Aku pun ingin langsung mengiakan, tapi pikiranku menyuruhku untuk sedikit lebih lama jual mahal.

"Keempat, gue cukup tampan. Dan ini bisa jadi poin plus yang harus lo pertimbangkan dengan baik." Setelah mengucapkan kalimat itu, Mas Angka menggaruk tengkuknya. Aku tahu itu bukan karena rasa gatal, tapi karena mungkin grogi, atau sedikit malu karena menyombongkan tampangnya itu. Walaupun seribu persen aku setuju akan klaimnya.

"Jadi gimana?"

Aku mengetuk-ngetukkan jariku di atas meja. Meski sudah memiliki jawaban untuk diucapkan, aku masih mencoba untuk menahan diri. Tidak boleh terlihat terlalu bersemangat.

"Menurut Mas Angka, apa termasuk kerugian jika melewatkan untuk memiliki pasangan sepotensial ini?" aku menjaga nada suaraku agar tetap stabil.

Mas Angka mengangguk. "Iya, dan mungkin akan sangat sulit untuk menemukan kandidat dengan kualifikasi seperti yang gue sebutkan tadi, Na."

"Bukan berarti tidak ada yang lebih baik, tapi mungkin akan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama untuk menemukannya."

"Jadi gimana?" 

"Gue setuju, Mas. Akan butuh waktu lebih lama untuk menemukan yang lebih baik, dan bahkan mungkin akan jadi penyesalan seumur hidup jika tidak mengambilnya."

"Jadi?"

Aku mengangguk. "Ayo pacaran, Mas."

Coffee LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang