Bagi beberapa orang, perasaan adalah yang hal paling penting untuk dipertimbangkan sebelum menjalin hubungan romansa dengan orang lain. Namun bagiku yang pernah mengalami kegagalan, rasionalitas menjadi sama pentingnya dengan perasaan. Perasaan tidak bisa menjadi satu-satunya hal yang dipertimbangakan untuk memutuskan menjalin hubungan. Untung rugi juga harus dipertimbangkan agar hubungan yang dijalin tidak berakhir sia-sia, apalagi sampai merugikan diri sendiri.
"Jadi sekarang udah bisa pakai aku-kamu?" setelah mengatakan bahwa aku menerimanya sebagai pasangan, senyum tidak hilang dari wajah tampan Mas Angka. Tidak seperti sebelumnya yang terlihat serius, kini wajahnya penuh dengan pancaran kebahagiaan. Sebuah ekspresi yang tidak aku duga, sebab beberapa saat lalu hubungan kami masih normal, sebatas kenalan lama yang bertemu kembali.
"Iya, bisa." Semoga sisa blush on dari riasanku bisa menyamarkan pipiku yang memerah. Aku masih belum bisa mengendalikan diri karena perubahan status yang tiba-tiba diantara kami. Masih sedikit bingung bagaimana harus bersikap, sebab tanpa berkencan tiba-tiba sudah berpacaran. Haruskah mulai bermanja-manja agar tidak canggung?
Mataku berkedip-kedip kaget. Setelah mengatakan kata 'bisa' itu, Mas Angka tiba-tiba mengelus ujung rambutku. Gerakan tiba-tiba yang membuatku nge-freeze.
"Lucu banget sih," ujarnya sembari tertawa. Sepertinya gemas dengan reaksiku. Benar-benar seperti sosok yang berbebeda dari Mas Angka yang sebelumnya aku kenal.
"Kalau soal lucu, Mas bukan orang pertama yang bilang gitu ke aku." Mulutku bekerja lebih cepat daripada otakku. Bukannya berterima kasih akan pujiannya, aku malah menyombongkan diri bahwa dia bukanlah orang pertama yang memujiku lucu. Ditambah lagi aku juga otomatis mengubah kata ganti 'gue' menjadi 'aku' tanpa ada keraguan. Astaga Rayana, apa yang lo lakukan!!
"Terima kasih, Na." Mas Angka menarik kedua tanganku dan menggenggamnya. Ini adalah kontak fisik intens pertama diantara kami, yang berhasil membuat jantungku berdetak tidak karuan. "Aku tahu ini kelihatannya mendadak, tapi perasaan yang aku katakan tadi sungguhan."
Sejak putus dari Arfian, aku tidak menyangka akan mengalami hal-hal romansa lagi. Aku bahkan sempat berpikir untuk melajang seumur hidup, tapi sekarang justru sudah berpacaran lagi. "Sejujurnya," setelah memikirkan beberapa saat, sepertinya aku juga akan berbagi perasaanku padanya. Apa yang aku rasakan selama mengenalnya, dan bagaimana perasaanku terhadapnya.
"Aku nggak begitu yakin apa yang aku rasakan sama Mas Angka selama kita saling mengenal. Tapi belakangan, aku tahu ada perasaan berbeda yang mulai berkembang." Meski kebanyakan novel yang aku tulis adalah novel romansa, aku sendiri tidak begitu mahir dalam mengungkapkan perasaan di dunia nyata. Kata-kata menyentuh hati yang selalu aku tuliskan di dalam buku itu seolah menguap dari dalam kepala, dan bahkan untuk sekedar merangkai kata untuk mengungkapkan isi hati saja aku cukup kewalahan.
Mas Angka tidak melepaskan genggamannya dari tanganku. Kedua matanya fokus menatap ke arahku, yang aku balas juga dengan tatapan yang sama. "Aku akan jujur kalau aku tidak begitu yakin dengan perasaanku kepada Mas. Tapi karena Mas sudah yakin untuk mengajakku bersama, maka tolong bantu aku menyakinkan perasanku yang berkembang itu, memastikan jika itu rasa cinta, dan bukan hanya ketertarikan sekilas saja karena kelebihan-kelebihan yang sempat Mas sebutkan sebelumnya."
Aku menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Harusnya kalimat yang aku utarakan sekarang aku katakan sebelum menyetujui ajakannya untuk berpacaran, tetapi malah aku katakan setelah mengiyakan. Aku terlalu bersemangat dan tidak ingin kehilangan pasangan sepotensial dia, tapi juga tidak ingin menyembunyikan perasaanku padanya.
Bukankah pernah aku katakan bahwa aku oportunis? mungkin juga keputusanku ini terdengar cukup egois. Namun pengalaman burukku di masa lalu memang membuatku menjadi lebih memprioritaskan diri dibandingkan orang lain, dan semoga laki-laki dewasa di depanku ini bisa memahaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coffee Love
ChickLit"Menurut Mas Angka, apa termasuk kerugian jika melewatkan untuk memiliki pasangan sepotensial ini?" aku menjaga nada suaraku agar tetap stabil. Mas Angka mengangguk. "Iya, dan mungkin akan sangat sulit untuk menemukan kandidat dengan kualifikasi sep...
