Sudah lebih dari dua menit aku meremas jari-jariku. Rasa cemas dan gugup tidak kunjung hilang, padahal apa yang aku takutkan belum terjadi.
Aku menghala napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Lu pasti bisa, Na." Ucapku menyemangati diri, sebelum memberanikan diri untuk mendorong pintu kaca yang sejak beberapa detik lalu sudah ada di depan mataku.
Kedua mataku mengedarkan pandangan ke seluruh coffe shop yang sedang naik daun ini. Mencoba mencari jejak seseorang yang belakangan menganggu pikiran, dengan pernyataan cintanya yang dadakan, juga sosoknya yang tiba-tiba menghilang.
"Di sini, Na." Mas Angka melambaikan tangannya. Dibandingkan aku yang masih mencoba mengendalikan detak jantung, dia terlihat sangat santai - setidaknya itu yang aku tangkap dari ekspresinya.
"Sori telat, Mas. Macet soalnya." Tentu ini bukan alasan pembenaran, tapi memang hari ini jalan yang aku lewati cukup padat. Perjalanan yang harusnya hanya membutuhkan waktu setengah jam, harus ku tempuh dengan waktu dua kali lipat. Menyebabkan aku telat sekitar lima belas menit dari waktu janjian kami.
Mas Angka masih tersenyum, lalu mengangguk. "Nggak papa, Na, gue juga baru sampe kok."
Jujur aku tidak tahu harus merespon apa. Tiba-tiba otakku merasa kosong, tidak ada satu pun topik obrolan yang bisa aku angkat. Padahal biasanya, aku termasuk dalam orang yang mudah untuk mencari topik.
Apa karena Mas Angka baru mengakui rasa ketertarikannya padaku?
"Mau pesen apa, Na?" mungkin melihat aku yang tidak merespon, Mas Angka kembali bersuara.
Aku melirik segelas americano yang ada di atas meja. Melihat isinya yang masih banyak, aku yakin bahwa apa yang dia katakan itu benar. Dia juga baru sampai - membuatku menarik napas lega karena berarti dia belum lama menunggu.
"Biar gue pesen sendiri aja, Mas." Aku masih cukup tahu diri. Hubungan kami masih belum jelas, dan rasanya tidak nyaman jika aku harus merepotkannya hanya untuk memesan segelas kopi. Selain itu, aku mau memanfaatkan waktu menunggu kopi ini untuk menenangkan diri, sebab kondisiku saat ini kurang bagus. Rasanya panas dingin, padahal belum ada obrolan serius di antara kami. Hanya duduk berhadap-hadapan selama beberapa menit saja.
Aku mengambil ponsel yang tadi kuletakan di atas meja, lalu bersiap untuk beranjak ke kasir. Namun sebelum aku melakukannya, suaranya lebih dulu menghentikanku. "Duduk aja, Na, biar gue yang pesen."
Aku mendongak menatapnya. Lalu seperti tersihir oleh tatapannya - tentu ini sedikit hiperbola, aku mengangguk. Membiarkan Mas Angka beranjak dari kursinya. "Caramel macchiato less sugar?" tawarnya yang kuangguki langsung, sebab yang dia tawarkan seratus persen adalah seleraku.
Kenapa dia bisa tau?
"Okay, wait a minute ya, Na." Lagi-lagi aku hanya mengangguk, lalu menatap lurus punggunggungnya yang mulai menjauh.
Kenapa dari belakang juga keliatan cakep? padahal wajahnya nggak keliatan.
***
"Gue minta maaf karena baru bisa ngajak lo ketemuan lagi, Na." Lagi-lagi, Mas Angka memulai pembicaraan. "Gue gak ada maksud buat ngilang, tapi kemarin emang lagi sibuk sama kerjaan." Lanjutnya tenang.
Jika dipikir lagi, dia memang tidak sepenuhnya menghilang. Tepat satu hari setelah pengakuannya itu, dia mengirim pesan bahwa dia sedang cukup sibuk dengan pekerjaan dan mungkin tidak akan bisa menghubungi dalam waktu singkat. Namun aku tidak menyangka bahwa waktu singkat itu ternyata membutuhkan waktu sekitar satu minggu.
"Lo mungkin udah tau alasan gue ngajak ketemuan hari ini, Na." Kalimat ini kembali membuat tubuhku panas dingin. Mas Angka benar-benar tidak ada basa-basinya, langsung sat set khas laki-laki dewasa.
Aku mengangguk, tetapi tidak kunjung bersuara. Aku tahu bahwa laki-laki di depanku ini belum selesai berbicara. "Kita udah sama-sama dewasa, dan gue rasa ini bukan saatnya lagi buat main-main."
"Kaya yang pernah gue kasih tau sebelumnya, gue tertarik sama lo, Na. Gue pengen kenal lo lebih dalam, dan mungkin membawa hubungan kita lebih dari sekedar teman."
Sepanjang hubunganku dengan Arfian, atau juga laki-laki lain yang dulu pernah mendekatiku, tidak ada yang seterang-terangan Mas Angka. Aku benar-benar dibuat speechless dengan tingkahnya yang jauh dari bayangan.
"Gue di sini mau tau pendapat lo soal ini." Mas Angka tidak terdengar sedang membicarakan soal perasaan, tapi lebih seperti sesi berdiskusi mengenai sebuah topik yang menarik perhatian.
"Pendapat seperti apa yang lo mau, Mas?" entah aku yang belum dewasa, atau karena aku memang terlalu perasa. Melihatnya yang tidak gugup membuatku kesal setengah mati, tetapi memikirkan kembali kalimatnya membuatku senang. Merasa bahwa dia benar-benar tertarik denganku, dan bahkan memberi kesan yang cukup serius - bahkan sebelum kami memulai hubungan.
"Jujur gue udah gak tertarik sama hubungan yang main-main lagi, Na. Gue merasa tertarik sama lo, dalam artian gue pengen menjalin hubungan yang arahnya serius."
Mas Angka menarik napasnya, kali ini ada sedikit raut kegugupan yang tergambar di wajah tampannya. "Ini bukan berarti gue pengen cepet-cepet menikah, karena itu adalah hal yang butuh pemikiran panjang."
Aku cukup bersyukur karena dia menjelaskan poin ini. Awalnya aku berpikir kalau dia memang kebelet nikah, tetapi saat kalimat barusan keluar dari mulutnya, aku mendapatkan poin penuh dari kalimat 'hubungan yang tidak main-main'. Bukan berarti langsung mengajak menikah, tetapi saling mengenal yang apabila terverifikasi cocok akan menuju ke jenjang pernikahan. Yah, intinya tidak buang-buang waktu jika ternyata di proses pendekatan kami terdapat kecocokan.
"Gue pengen tau apa lo juga tertarik sama gue, dan pengen mencoba saling mengenal lagi satu sama lain."
"This might sound a bit strange, but I have to make it clear from the start, Na. I like you, and let's get to know each other better."
Aku mengernyitkan kening, lalu seketika menjerit saat dia melanjutkan kalimatnya, "So, be my girlfriend, Na!"
Astaga!
Ini maksudnya gue di tembak, kan?
Kok aneh banget!
KAMU SEDANG MEMBACA
Coffee Love
ChickLit"Menurut Mas Angka, apa termasuk kerugian jika melewatkan untuk memiliki pasangan sepotensial ini?" aku menjaga nada suaraku agar tetap stabil. Mas Angka mengangguk. "Iya, dan mungkin akan sangat sulit untuk menemukan kandidat dengan kualifikasi sep...
