Obrolan terakhirku dengan Mas Angka membuatku tidak bisa tidur semalaman. Selain karena masih tidak bisa memercayainya, aku juga mengalami kebingungan luar biasa karena 'dia' tidak menghubungiku sama sekali sejak pertemuan terakhir kami.
"Apakah pembicaraan itu tidak serius?" gumamku.
Aku menarik napas lelah dan menghembuskannya kasar. Menyibak selimut yang sudah tertempel manis di tubuhku, lalu berjalan keluar untuk mengisi gelas kosong yang isinya sudah ku habiskan dalam sekali tenggak. "Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang karena insomnia ku kembali datang."
"Lo gila ya?" setelah berusaha dan tidak berhasil, aku memutuskan untuk menghubungi Sabiru. Meski kalimat pertama yang kudengar adalah umpatan, ini masih lebih baik daripada harus begadang sendirian dengan perasaan tidak karuan.
"Lu udah tidur?" tanyaku. Dibalasnya dengan gumaman, tanda bahwa laki-laki itu belum memejamkan mata — tetapi sepertinya tidak ingin diganggu.
"Kenapa? ada sesuatu kan?" kami memang sudah berteman lama, dan dia tau betul bahwa tujuanku menelponnya bukan sekedar untuk 'menyapa'.
"Lu inget Mas Angka, nggak?" tanpa basa-basi aku langsung menanyakan soal laki-laki yang membuat kekacauan dalam hidupku. "Cowok yang ketemu kita pas lagi bagi-bagi makanan itu," aku membantu Biru mengingat dengan mengingatkan kejadian saat aku membantu para demonstran dengan membagi-bagikan makanan.
"Oh, yang kata lu staf khusus itu ya?" aku mengangguk, meski orang yang ku ajak bicara tidak bisa melihatnya. "Kenapa?"
"Dia kakaknya penulis gue, dan kemarin kita ketemu."
"Nggak mungkin cuma ini kan yang lu mau bilang? cepetan, gue nggak punya banyak waktu."
Biru benar-benar menyebalkan. Dia tidak memberikanku waktu untuk membangun suasana, dan justru memburu-buru ku untuk langsung ke intinya.
Iya, aku tau ini sudah pukul satu pagi. Namun harusnya dia tetap punya empati dengan sahabatnya ini.
"Dia bilang suka sama gue, Sa."
"Hah?" reflek aku menjauhkan handphone dari telinga. Suaranya yang tiba-tiba keras membuatku kaget.
"Lu lagi ngigo apa gimana sih, Ya?"
Sangat wajar jika Sabiru merasa aku sedang mengigau. Aku memang tidak pernah membicarakan Mas Angka secara serius dengannya, jadi dia pasti kaget dengan kalimat yang baru aku tujukan itu. "Ini beneran, Sa, makanya gue kena insomnia malam ini." aku ku, meyakinkannya bahwa apa yang aku katakan adalah hal serius.
Dapat kudengar suara grasak-grusuk dari balik telepon. Sepertinya dia merapikan beberapa barang, karena aku seperti mendengar suara kertas-kertas yang berantakan dirapikan. "Lo lagi ngapain sih? berisik banget." Protesku.
Biru mendengus. "Gue tadi masih ngerjain beberapa kerjaan, tapi sekarang udah nggak mungkin dilanjutin lagi gara-gara cerita lu."
"Ini kenapa? Kok tiba-tiba si Aksa Aksa ini bisa suka sama lu? bukannya kalian nggak deket ya?"
"Gue juga bingung, makanya ini gue butuh saran lu buat masalah ini."
"Ajak gue ketemu dia."
"Hah?" kali ini aku yang kaget. Bagaimana mungkin dia malah ingin dipertemukan dengan Mas Angka? memangnya dia mau apa?
"Gue harus tau dia kaya gimana, Ya. Gue gak mau kalau cowok yang lu maksud cuma main-main."
Aku kaget. "Eh, ini nggak seserius ini, Sa." Setelah kegagalanku hubunganku dengan Arfian, semua orang memang menjadi lebih posesif padaku. Apalagi jika itu menyangkut dengan laki-laki. Sepertinya keluargaku dan Sabiru sangat trauma hingga benar-benar menyeleksi semua laki-laki yang ingin dekat denganku.
"Lu mau ketemu in gue sama dia atau gue bilang ini ke Abang lu?"
Ancamannya benar-benar manjur. Di bandingkan dengan saudara laki-lakiku satu-satunya itu, dia masih lebih bisa dikendalikan. Setidaknya aku masih bisa sedikit ikut campur dan menegur sikapnya nanti, jadi tidak terlalu menakutkan dibandingkan Mas Arlan. Apalagi dalam kasus ini aku belum benar-benar memiliki hubungan dengan Mas Angka — baru sekedar dia menyatakan rasa ketertarikan padaku, jadi aku juga harus berhati-hati dalam menentukan sikap.
"Kasih gue waktu," setelah berpikir, aku berhasil mengucapkan satu kalimat itu. Meski Biru masih lebih baik daripada Mas Arlan, tidak serta merta aku bisa menyetujui keinginannya.
"Bakalan aneh gasi kalau gue tiba-tiba mempertemukan kalian, Sa? secara hubungan gue sama dia juga belum jelas. Gue cuma tau kalau dia suka gue."
Lagi-lagi Biru mendengus. "Ya ka lu bisa merencanakan pertemuan tidak terduga, Ya."
"Biasanya kan otak lu penuh skenario drama, ambil satu lah buat kehidupan real life lu."
"Pokoknya lu nggak boleh deket-deket dia sebelum gue nilai orangnya kaya gimana,"
Sepertinya curhat dengan Sabiru bukanlah sebuah solusi. Bukannya mendapat advice, masalahku justru terasa bertambah karena bocah itu malah ribut ingin bertemu dengan Mas Angka.
Apakah aku harus merencanakan pertemuan tidak terduga seperti yang dia katakan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Coffee Love
Chick-Lit"Menurut Mas Angka, apa termasuk kerugian jika melewatkan untuk memiliki pasangan sepotensial ini?" aku menjaga nada suaraku agar tetap stabil. Mas Angka mengangguk. "Iya, dan mungkin akan sangat sulit untuk menemukan kandidat dengan kualifikasi sep...
