Murni duduk termenung di halaman belakang, 2 minggu berlalu sejak kejadian itu hubungannya dengan Sagara mengalami banyak peningkatan. Lelaki itu jadi lebih peduli padanya dan juga pada bayi mereka.
Murni senang tentu saja, walau kadang dia masih merasa takut pada kedatangan Kevin lagi dalam hidup rumah tangganya. Namun, Murni berdoa semoga saja tidak ada lagi hal buruk yang menimpa kehidupannya bersama Sagara.
Murni menyentuh perutnya yang sudah membuncit, dia jadi tidak sabar melihat kelahiran anaknya. Akan seperti apa wajahnya nanti, apakah mirip Sagara atau mirip dirinya? atau malah perpaduan antara dia dan Sagara? Apapun itu Murni berharap anaknya lahir dengan selamat dan juga... Murni berharap pula bisa diberi kesempatan melihat tumbuh kembang anaknya.
"Makasih ya nak, sudah mau bertahan. Ibu janji akan kasih kamu kehidupan yang baik dan semoga kita bisa terus bersama, agar ibu bisa melihat tumbuh kembang kamu sampai kamu dewasa nanti."
Ucapan Murni terhenti kala dia mengingat tentang kondisi rahimnya, entah apa yang akan terjadi nanti, tapi Murni akan pastikan anaknya terlahir dengan selamat. Meski harus mengorbankan nyawanya, Murni rela sebab dia yakin Sagara pasti akan memberikan kehidupan yang terbaik untuk anak mereka.
Tapi, kenapa di dalam hati Murni ada rasa tidak rela? memikirkan jika Sagara akan menikahi wanita lain dan anaknya akan memanggil wanita itu sebagai ibu, hati Murni terasa perih karna nya. Namun Murni tidak bisa melawan takdir, jika itu memang yang akan terjadi, maka dia harus ikhlas. Demi anaknya dan juga kebahagiaan Sagara.
Airmata Murni tanpa sadar menetes, meratapi kehidupannya yang selalu dilanda derita. Tapi dia tidak akan menyalahi takdir atau siapapun, dia hanya akan menggunakan sisa waktunya untuk dihabiskan bersama Sagara. Menciptakan moment yang tidak akan pernah bisa Sagara lupakan, Murni hanya ingin terus diingat meski dia sudah tidak lagi bersama suaminya, seseorang yang sangat dia cintai.
Sepasang tangan melingkari bahunya, seseorang memeluk Murni dari belakang. Murni tau betul siapa, sebab dari wangi parfum dan hembusan nafasnya. Murni mengenali aromanya, dia menghapus cepat air matanya agar Sagara tidak curiga dengan mendapati Murni menangis.
Murni menoleh dan menemukan wajah sumringah Sagara, meski sudah seharian di kantor tapi lelaki ini masih saja terlihat tampan dan berwibawa, Murni merasa beruntung memilikinya.
"Kamu lagi apa? ngelamun ya?" Tebak Sagara yang hanya dibalas senyuman tipis oleh Murni, wanita itu menuntun suaminya untuk duduk disampingnya.
"Gak ada kok, kamu kok gak langsung bersih-bersih mas? Kamu pasti capek, mau aku siapin air hangat buat mandi?" Murni mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gak usah sayang, aku bisa sendiri kok, aku kangen sama kamu makanya pas liat kamu disini langsung aku samperin deh."
Sagara memeluk Murni, menyandarkan tubuh mungil itu pada dada bidangnya.
"Gimana seharian ini? kamu muntah-muntah, gak?"
"Aku udah gak muntah lagi akhir-akhir ini mas, tapi kadang aku pengen makan sesuatu yang asem banget kadang pengen yang manis banget, mood soal makanan tuh cepet banget berubah." Murni mengadu dengan memajukan bibirnya, Sagara terkekeh mendengar hal itu. Entah kenapa dimata Sagara, wajah Murni semakin menggemaskan tiap harinya, lihat pipinya yang semakin berisi itu rasanya sangat ingin Sagara gigit.
"Kalau sekarang ada yang mau kamu makan? atau kamu pengen kemana gitu?" Murni terlihat berpikir mendengar pertanyaan itu.
"Aku mau makan bakso dekat rumah ibu, tau kan kamu? kata ibu warung bakso itu udah ada sejak ibu masih kecil lho mas, warung baksonya turun temurun dan udah terjamin enaknya. Kesana ya mas? please, bolehin aku kali ini aja buat makan dipinggir jalan, ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MY PERFECT WIFE
RomanceSLOW UPDATE ❗❗❗ Sagara Tanubrata adalah pria berumur 29 tahun yang mengalami kelainan seksual. Dia pecinta sesama jenis, banyaknya rumor yang beredar membuat perusahaan keluarganya terancam bangkrut. Orangtuanya sudah kehabisan cara untuk mengubah a...
