Normal POV
—--------++++
Neo berjalan gontai ke arah Rui lalu berkata, “Aku kesini bukan untuk menentangmu, tapi hanya ingin melihat calon anakku untuk terakhir kali." Tatapan Neo tidak mengarah pada Rui tapi tertuju pada layar monitor USG. Terlihat dua manik mata tajam itu mulai berkaca, terpancar banyak kesedihan dari sana.
Bayangan anak perempuan menangis yang muncul tadi malam di mimpi tiba-tiba saja berputar di otak Rui. Kenapa ini sangat menyedihkan.
Suara detak jantung bayi mulai terdengar, sepertinya dokter memang sengaja melakukan ini. Detak jantungnya terdengar berderap dan cepat, hati Rui lagi -lagi terenyuh.
Neo menitikkan air mata saat mendengar detak jantung dari monitor itu, tangannya menyentuh perut Rui lembut, ia terisak. "Aku memang tidak bisa mengatur hidupmu tapi apa kau tidak bisa membiarkan dia hidup? bayi ini tidak bersalah," Bujuk Neo lagi.
"Dan menghancurkan masa depanku? itu yang kau mau? Itu tidak akan terjadi" Aku tetap pada pendirianku. Rui bangun dari berbaringnya dan menata Neo dengan mata yang berkobar kemarahan. "Kamu tidak mengerti! Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan! Aku tidak ingin memiliki bayi ini, dan aku akan melakukan apa yang aku pikir benar!"
Neo tampak menegang "Rui aku hanya…"
Tapi Rui sudah tidak mau mendengarkan. "Tidak! Kamu tidak bisa memaksakan pendapatmu padaku, Aku yang akan membuat keputusan tentang tubuhku sendiri!" Rui berbalik ke arah dokter, "Dokter, silakan lanjutkan prosedur aborsi. Saya sudah yakin dengan keputusan saya."
Neo menundukkan kepala, wajahnya dipenuhi dengan kekecewaan dan kesedihan. "Rui, aku... aku tidak bisa percaya kamu akan melakukan ini. Anak kita, darah daging kita... kamu akan melenyapkannya begitu saja?" Suara Neo bergetar.
Neo mengangkat tangannya dari perut Rui, "Kalau begitu baiklah aku tidak akan menghentikanmu lagi. Aku juga ingin pamit hari ini aku akan pergi ke jepang dan melanjutkan studyku disana. Setelah semuanya terjadi, aku tidak mungkin untuk tidak bisa membencimu."
"Neo … " Hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir Rui. Ada perasaan ingin menahan Neo pergi tapi juga merasa tidak berhak.
"Jika harus terus melihat wajahmu setiap hari aku tidak yakin bisa mengendalikan diri, aku takut suatu hari aku bisa menyakitimu maka lebih baik aku yang pergi daripada harus membencimu terus-menerus. Mengetahui bahwa kau ingin membuang bagian dari diriku yang ada di dirimu itu membuatku sakit." Ucap Neo, bibirnya tersenyum getir. Suara Neo hampir tidak terdengar, hanya desahan napas yang berat yang terdengar.
Neo keluar dari ruangan, ia pergi meninggalkan Rui yang kini tengah dilanda kebingungan dan juga ego yang sangat kuat.
Rui menatap Neo dengan mata yang tidak berkedip, wajahnya tetap tenang namun tegang. Meskipun Neo menunjukkan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam, Rui tidak menunjukkan tanda-tanda keraguan atau penyesalan. Ia tetap kokoh pada pendiriannya, seolah-olah telah membuat keputusan yang tidak dapat diubah lagi.
***
Kemudian Rui sudah berganti baju dengan pakaian khusus rumah sakit, sebuah terusan berwarna biru muda. Ia kini sudah terbaring di ranjang operasi. Dokter Zhenxuan dan para perawat sudah siap, lampu menyala tepat diatas tubuh Rui, suara denting perkakas untuk operasi terdengar berisik.
"Apa kau siap? aku akan memberimu anestesi yaitu suntikan bius agar kau tidak merasakan sakit saat proses operasi berlangsung." Tanya Dokter untuk memastikan.
Rui tidak menyahut, ia tenggelam dalam pikirannya. Tidak menyangka jika Neo akan bertindak sejauh ini, dia akan pergi jauh dari jangkauan Rui. Sejujurnya Rui belum siap kehilangan Neo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Story
FanfictionCerita tak masuk akal di luar nurul, update sesuka saya. Tidak terjadwal ☺ Hanya beberapa chapter tamat dan akan ada judul baru setelahnya.
