Rui! Kau disini?" ucap sebuah suara yang begitu familiar bagi Rui.
Rui mengangkat wajahnya, mata yang berkaca-kaca bertemu dengan sosok yang telah lama dicarinya. Neo berdiri di depannya, tas di bahu dengan wajah yang masih memancarkan rasa kecewa namun juga harapan. Tatapan mata mereka bertemu, dan seketika waktu seakan berhenti.
Neo tidak mengatakan apa-apa, hanya memandang Rui dengan mata yang dalam, seperti mencari jawaban atas pertanyaan yang belum terucapkan. Rui merasakan jantungnya berdebar kencang, napas yang tercekat di tenggorokan. Ia tidak percaya bahwa Neo ada di depannya, bahwa kesempatan kedua masih terbuka.
Dalam sekejap, Rui melihat kilas balik kenangan dengan Neo, rasa sakit dan penyesalan yang masih terasa. Namun, tatapan mata Neo memberinya harapan bahwa masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Rui berdiri perlahan, langkahnya mendekati Neo dengan hati yang masih belum percaya . "Neo..." bisik Rui, dengan suara yang lembut dan penuh kerinduan.
Grep
Rui berhambur ke pelukan Neo, menangis keras di bahu bidang kekasihnya.
"Kenapa kamu bisa disini? bagaimana dengan aborsi? Apa kau membatalkannya?" Neo masih heran namun kedua tangan memeluk erat punggung Rui. Mereka berpelukan di tempat umum, tak peduli menjadi tontonan orang banyak.
Kedua tangan Rui melilit erat di sekeliling tubuh Neo. Air mata Rui mengalir deras, ia menangis dengan suara yang terisak-isak. "Maaf, Neo... maaf... aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu... maaf..."
Neo membalas pelukan Rui, tangannya membungkus tubuh Rui dengan erat. Ia merasakan kelegaan dan kehangatan ketika Rui ada di pelukannya lagi. "Aku ada di sini, Rui... aku tidak akan pergi lagi," kata Neo dengan suara yang lembut.
Rui terus menangis, mengulangi kata "maaf" berulang kali. Neo membiarkannya menangis, membiarkannya mengeluarkan semua rasa sakit dan penyesalan yang telah terpendam. Pelukan mereka erat, hangat, dan penuh dengan perasaan. Mereka berdua berdiri di tengah keramaian bandara, namun seakan-akan tidak ada yang lain selain mereka berdua.
Neo melepas pelukan, menghapus air mata Rui yang tak berhenti mengalir lalu menggenggam tangan Rui. "Terimakasih karena tidak membuang anak kita, Aku berjanji akan bertanggung jawab dan berusaha menjadi Ayah yang baik untuk anak kita.”
Rui hanya mengangguk, suaranya masih sesenggukan akibat menangis.
“Tapi dengan satu syarat, kamu tidak boleh memiliki gadis lain lagi, hanya Aku satu-satunya. Aku bukan Alpha simpananmu lagi.” pinta Neo dengan penuh kesungguhan.
"Tentu saja, aku sekarang sudah hamil anakmu mana mungkin bisa mengencani para gadis itu." Balas Rui.
Chupp
Kecupan manis menempel di bibir Rui.
Rui sempat melotot sebentar, terkejut karena Neo tidak memberi aba-aba. Tetapi menit selanjutnya, Ia sudah memejamkan mata dan ikut melepaskan kerinduan beberapa bulan ini tidak tersalurkan. Tidak ada gunanya melawan, jadi lebih baik menikmati. Rui bisa merasakan Neo tersenyum dalam ciumannya. Ciuman paling panjang dan paling dalam yang dia dapat selama satu tahun ini. Ini momen ciuman terbaik, kalau boleh dikategorikan.
Mereka tidak peduli orang mau bilang apa melihat mereka berciuman di tengah bandara padat begini. Masa bodoh orang mengira mereka sedang syuting film atau apa. Realita ini ratusan kali lebih indah daripada belasan judul film yang pernah Rui tonton dan puluhan judul novel yang sudah dibaca.
Neo dan Rui berbagi kerinduan yang selama ini terhalang oleh keegoisan dan keras kepala Rui.
Gara-gara keegoisan itu bayi kecilnya hampir menjadi korban.
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Story
FanfictionCerita tak masuk akal di luar nurul, update sesuka saya. Tidak terjadwal ☺ Hanya beberapa chapter tamat dan akan ada judul baru setelahnya.
