3. Xing -Qiu; You only one for me!

615 62 3
                                        

Pada dasarnya, Eliot adalah seseorang yang kelewat tenang.

Di hadapannya kini terbaring seorang pemuda berkulit pucat, tubuhnya penuh jejak luka, bukan sayatan yang mengoyak berlebihan, melainkan torehan-tipis yang cukup untuk meninggalkan rasa perih berkepanjangan. Ia menangis tersedu, telanjang, seolah seluruh martabatnya telah dilucuti bersama pakaiannya.

Kipuka baru saja menerima apa yang Eliot sebut sebagai hukuman. Ia dilukai, direnggut kehendaknya, oleh orang yang dulu ia percaya sebagai sahabat dan sejak beberapa bulan terakhir menjelma menjadi “Tuannya”. Tubuhnya menjadi saksi bisu kekejian itu, diperlakukan seperti benda yang boleh digunakan lalu ditinggalkan.

Eliot benar-benar seorang psikopat.
Bekas luka tampak jelas di dada, lengan, dan paha bagian dalam, tidak dalam, tidak mematikan, namun disengaja agar rasa sakitnya bertahan lama. Hanya perutnya yang dibiarkan nyaris utuh, kecuali satu garis bekas operasi di bagian abdomen, tanda batas yang tak boleh disentuh.

Di sanalah Eliot menarik garis kepemilikan, seolah mengatakan bahwa penderitaan Kipuka boleh sejauh apa pun, selama tetap berada dalam kendalinya.

Kipuka merasa dirinya telah runtuh sepenuhnya, hina, kotor, menjijikkan, seperti sesuatu yang seharusnya dibuang. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menangis, membiarkan isak itu jatuh tanpa harapan.

Eliot tak peduli. Tatapan elangnya tetap terpaku, dingin dan waspada, mengawasi setiap napas, setiap getaran kecil dari tubuh Kipuka. Tak ada ruang untuk kehendak, tak ada hak untuk menolak. Apa pun yang diinginkan Eliot adalah hukum mutlak, karena di dunia yang ia ciptakan sendiri itu, hidup Kipuka bukan lagi miliknya, melainkan berada sepenuhnya di tangan Eliot.

"Tolong lepaskan aku, kumohon," Kipuka merintih sambil berucap lirih terbaring di atas ranjang pasien, kedua tangan dan kakinya terikat kuat. Perut besarnya bergerak naik turun karena napas yang memburu. Lidah pun terasa berat untuk berbicara.

"Ahhh… ah…" Erangan kembali lolos dari bibir bengkak sedikit pucat itu. Kini Eliot tengah memasukkan dildo lumayan besar ke lubang milik Kipuka yang baru saja ia masuki, bahkan sisa cairan dari Eliot sendiri masih membasahi lubang itu.

Kedua kaki Kipuka terikat, tertarik dari sisi yang berlawanan membuat kedua pahanya terbuka lebar.
"Aku sudah tidak kuat. Ahh… maaf jika selama ini saya membangkang, ta... tapi saya mohon. Lepaskan aku dari penjara yang Anda buat. Tolong saya Tuan. Saya mohon…" sekali lagi, Kipuka berbicara kata yang kelewat sopan di barengi dengan desahan pada laki-laki enam tahun lebih tua darinya.

"DIAM!!" pekik Eliot menatap mata Kipuka tajam.

"Aku berjanji, akan mencari pengganti  untuk Anda. Saya bersungguh sungguh. Saya mohon, lepaskan saya…" dalam hati Kipuka meminta maaf pada siapa pun orang yang akan ia jadikan tumbal untuk seorang Eliot. Tetapi Kipuka serius, dia sudah tidak kuat lagi dengan siksaan yang diberi Eliot. Ditambah dengan segala eksperimen yang dilakukan Eliot pada tubuhnya hingga membuatnya yang notabene seorang laki laki bisa mengandung bayi dan terus bertumbuh hingga sekarang. Kalimat tak masuk akal pun dia lontarkan demi meminta kebebasan.

Kipuka terpuruk, tubuhnya disiksa sedemikian rupa, kekerasan fisik dan mental ia alami tapi anehnya semua itu tidak berefek pada kandungannya. Memang Eliot setiap kali ia berlaku keji maka ia akan mengurus Kipuka, mengobati luka lukanya, merawat kandungan Kipuka dengan memberikan suntikan dan obat obatan yang entah itu apa.

"Siapa kau berani memberikan saran sampah seperti itu?" Rahang Eliot mengeras. Ia menaikkan level getaran dildo di dalam hole Kipuka.
"Aakhhhh… berhenti!" kepala Kipuka terlonjak, terhempas ke bantal karena dildo itu tengah menumbuk titik sensitifnya, perutnya juga terasa mengencang. Kipuka kembali menangis sejadi jadinya.

Random StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang