Note: Part ending sedikit brutal ya, tragis ending
***
Steak daging, capcay, anggur, apel, dan dua cangkir sirup rasa jeruk sudah tersaji di meja makan. Semua ini adalah hasil masakan sederhana Seeky.
"Terimakasih untuk hidangannya, maaf merepotkan. Aku benar-benar berterima kasih," ucap Kipuka penuh haru menatap Seeky, orang yang sudah menolongnya.
"Bukan masalah besar, anggap saja rumahmu sendiri," balas Seeky. Ia tersenyum lagi. Kipuka tanpa sadar ikut tersenyum.
Kipuka sudah menceritakan semua kejadian yang dialaminya termasuk penyiksaan dan kehamilan yang terjadi pada dirinya. Seeky sangat terkejut dan sedikit tidak percaya, tapi melihat bukti yang terpampang di tubuh Kipuka, ia mulai percaya.
"Kita harus melaporkan semua ini ke polisi. Aku akan menemanimu," ucap Seeky mantap, suaranya tenang namun tak membuka ruang untuk penolakan.
Ia bukan orang yang sudah lama Kipuka kenal bahkan pertemuan mereka baru hitungan jam, namun kebaikan Seeky terasa tulus, tanpa syarat. Tidak ada tatapan menghakimi, tidak pula rasa ingin tahu berlebihan. Hanya empati yang sederhana dan keinginan melindungi.
Rumah Seeky sendiri terasa hangat. Tidak besar, tapi rapi. Aroma masakan masih menggantung di udara, lampu menerangi ruang makan, dan tidak ada sudut yang membuat Kipuka merasa terancam. Tubuh Kipuka bisa sedikit rileks.
"Sekarang lanjutkan makanmu," lanjut Seeky pelan. "Setelah itu kita pergi ke kantor polisi. Kita tidak bisa menunggu sampai besok. Kau harus segera mendapatkan perlindungan hukum."
Nada suaranya final, bukan memaksa, tapi meyakinkan.
Kipuka mengangguk kecil. Tangannya gemetar ringan saat kembali menyuap makanan, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena kelelahan.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya lirih.
Seeky melirik jam dinding. "Pukul 11.25. Oh iya…" Ia tersenyum tipis. "Sekarang malam tahun baru. Selamat tahun baru, Kipuka. Semoga besok kau benar-benar bisa memulai hidupmu yang baru."
Kipuka menunduk, menelan ludah.
"Kuharap… juga begitu," balasnya pelan.
Keheningan kembali menyelimuti ruang makan. Hanya bunyi sendok yang menyentuh piring dan detik jam dinding yang berjalan pelan, seolah waktu sengaja memberi Kipuka jeda singkat untuk bernapas. Di luar, suara kembang api sesekali meledak samar jauh, riuh, dan tidak ada hubungannya dengan dunia kecil yang sedang berusaha pulih di dalam rumah ini.
Seeky baru saja hendak berkata sesuatu ketika hawa di ruangan itu terasa berubah. Bukan dingin, bukan panas, melainkan firasat. Dada Kipuka mendadak mengencang tanpa alasan yang ia pahami. Tangannya berhenti bergerak.
Dan saat itulah,
Tiba-tiba suara dobrakan pintu terdengar keras.
Bruak!
Seeky berdiri dari meja makan. Kipuka menoleh ke belakang ke arah sumber suara. Di sana berdiri seorang laki-laki bertubuh tegap, wajahnya tampan nyaris sempurna, namun dengan tatapan obsidian yang terlalu tajam untuk disebut manusia.
Dia Eliot.
Entah bagaimana atau lewat cara apa, ia berhasil menemukan tempat ini.
Dan seluruh rasa aman yang baru saja tumbuh… runtuh dalam satu detik.
Panik meledak tanpa aba-aba.
Napas Kipuka tercekik di tenggorokan, pikirannya kosong selain satu naluri ingin melarikan diri. Ia berbalik, menyeret tubuhnya ke arah kamar, namun suara langkah di belakangnya menghantam lebih cepat dari niatnya sendiri.
Terlambat.
Eliot menyergapnya seperti pemangsa yang sudah lama mengincar mangsa. Tangannya mencengkeram tubuh Kipuka dengan brutal. Kipuka meronta, menendang, mencakar, jeritannya pecah, liar dan putus-putus, bukan lagi suara manusia yang utuh, melainkan suara ketakutan yang diperas sampai kering.
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Story
FanfictionCerita tak masuk akal di luar nurul, update sesuka saya. Tidak terjadwal ☺ Hanya beberapa chapter tamat dan akan ada judul baru setelahnya.
