Ocean Jiang X Li peien: A Regret(1)

4.5K 137 6
                                        

Hujan deras mengguyur kota, menciptakan pemandangan yang murung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hujan deras mengguyur kota, menciptakan pemandangan yang murung. Langit yang gelap menambah kesan suram, sementara jutaan butiran air hujan jatuh dari langit seperti tirai yang terus-menerus, membungkus kota dalam kesunyian. Tetesan air yang menerpa jendela kaca kemudian mengalir turun, mengikuti hukum gravitasi, menciptakan efek yang sedih dan membangkitkan rasa kesepian.

Deru suara hujan menjadi teman bagi seseorang yang kini belum terbiasa dengan kesendirian.

Li peien nama si pemuda itu, dia menempelkan tangannya di kaca, jemarinya membuat pola-pola abstrak jika dilihat lebih jeli pola itu mengukir sebuah nama, namun dalam sekejap nama itu menghilang karena tersapu udara
"Lihatlah bahkan namamu saja sangat cepat menghilang ... " Gumam Peien.
Senyum getir penuh rasa sakit terbingkai di wajah pucatnya. Ia memegang dadanya yang terasa sesak, meremasnya kuat.

Tes...

Liquid bening kembali luruh dari obsidian rapuh, untuk kesekian kalinya isakan menyedihkan kembali menguar di ruang temaram. "Kenapa kau menepati janjimu, kau bilang saat kepercayaanku menghilang maka kau juga akan turut menghilang, kenapa? kenapa jadi begin?"

Peien tidak kuasa berdiri akhirnya dia jatuh terduduk, punggungnya bergetar, sayup suara isakan berubah menjadi raungan menyakitkan.

Kekasihnya kini telah tiada, pergi meninggalkan Peien untuk selamanya. Saat baru saja ia mengetahui kesalahpahaman yang terjadi tanpa sempat Pei En mengucap kata maaf. Rasa bersalah menggerogoti hatinya.

Peien tidak kuasa menerima kepergian Ocean secara tiba-tiba. Sungguh Peien sangat membutuhkan Ocean sekarang apalagi dengan kondisinya tengah hamil.
Peien mengusap perut besarnya pelan. "Bukan kamu sangat menantikan kehadiran anak kita, tapi kenapa kamu pergi?"

***

Flashback

Awal Pei En saat mendengar kabar bahwa Ocean kecelakaan. Pada saat itu dia terkejut namun masih berdalih berharap kalau semua itu hanyalah sebuah lelucon paling buruk yang pernah dia dengar. Hingga sesampainya Li peien tiba di rumah sakit, ia masih berharap semua ini hanya mimpi buruk, hatinya menolak realita.

Namun saat Pei En masuk ke ruang UGD dia melihat wajah-wajah sedih para dokter dan perawat, yang semakin memperkuat rasa takutnya. Dia berharap bahwa Ocean hanya mengalami cedera ringan dan akan segera pulih. Namun, saat dia melihat kondisi Ocean yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, harapan itu mulai pudar. Peien merasa seperti dihantam badai emosi, dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya berada dalam kondisi kritis. Dia berharap bahwa semua ini hanya mimpi buruk, tapi kenyataan yang ada di depannya tidak bisa diingkari.

Di ranjang pasien itu terbaring seseorang seluruh tubuhnya tertutup kain putih bahkan noda darah merembes dari kain. Peien mulai gugup. "Kumohon itu bukan dia...." ucap Pei En dalam hati. Langkahnya melambat sedikit gemetar.

Saat kain penutup dibuka, wajah Ocean yang penuh darah dan pucat pasi terpampang di depan Peien. Pemandangan itu seperti petir yang menyambar, menghancurkan harapan dan ego ketidakpercayaan yang Peien coba pegang beberapa menit sebelumnya. Dunianya runtuh dalam sekejap dan kenyataan yang tidak bisa dihindari menghantamnya dengan keras. Peien merasa seperti kehilangan pegangan, tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan, saat dia melihat orang yang dicintainya dalam kondisi tidak bernyawa.

Random StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang