Ini part ending ya.
***
"Xing... Jangan dia saudaraku!" Qiu berjalan mendekat.
Yiran terkekeh di antara sela giginya yang berdarah, " Bunuh saja, ya bunuh saja, aku memang bajingan sialan yang tega membunuh adiknya sendiri, aku bersalah padamu. Semuanya salahku!" Seru Yiran, Ia berucap sambil tertawa putus asa. Tawa yang penuh kegilaan.
BUGHH—BUGHH—PLAKK.
"Kau bajingan gila!" teriak Xing.
Benturan demi benturan menghantam kepala Yiran. Dunia di sekelilingnya berputar liar, suara berdengung memekakkan telinga, seolah segala sesuatu terbalik dan jatuh menimpa dirinya sekaligus.
Tubuhnya sempat bangkit, lalu kembali tersungkur ke lantai berdebu, napasnya terseret-seret oleh rasa sakit yang memekat di tengkorak.
Di sisi lain, Qiu berdiri kaku, tangannya gemetar.
Untuk sepersekian detik, ia berdiri di persimpangan dua pilihan, mengakhiri hidup Yiran atau membiarkannya tetap bernapas. Dalam kilasan itu, masa kecil mereka berdua menyerbu seperti badai. Yiran yang dulu berdiri di depannya, melindungi dari amukan sang Ayah. Yiran yang ikut berkelahi demi dirinya.
“Kenapa…” suara Yiran serak, penuh tantangan sekaligus putus asa. “Kau hanya memukulku? Bunuh aku. Bunuh sekarang. Kalian berdua adalah monster!"
Kalimat itu menancap di dada Qiu lebih dalam dari peluru mana pun.
Rasa nyeri menjalar, bukan dari luka, melainkan dari sesuatu yang runtuh di dalam dirinya. “Maaf…” bisiknya, nyaris tak terdengar, seolah kata itu lahir dari puing-puing hatinya.
Yiran terperangah. Matanya membesar, terpatri pada sosok di hadapannya.
“A… apa?” Keheningan menggantung di antara mereka, penuh dengan hal-hal yang tak pernah sempat mereka ucapkan.
"Maaf atas semua yang terjadi di hidup mu selama ini. Gege .... maafkan aku. Aku tidak tahu kau juga menahan sakit atas perlakuan ayah, dan juga harus melindungiku, menjadi replika manusia sempurna sebagai contoh untukku. Ayah memang keterlaluan." Qiu menatap Xing yang masih terbakar api kemarahan. "Xing... Sudah cukup..."
“Dengar baik-baik,” suara Xing rendah, bergetar. “Jika bukan karena Qiu, aku sudah mengakhiri hidupmu di sini, mencabik tubuhmu, menyerahkannya pada anjing-anjing liar di hutan Tianshan.” jarinya menunjuk tepat ke dada Yiran. “Kau menyebut kami monster. Tapi hatimu… lebih kejam dari makhluk apa pun yang pernah berjalan di dunia ini.” Tatapan Xing mengeras, dingin dan mematikan. “Kau bukan monster. Kau iblis.”
Setelah kata-kata itu jatuh seperti palu terakhir, Xing berbalik. Ia meraih Qiu dan melangkah pergi, meninggalkan Yiran di antara pecahan kaca dan darah.
Yiran tetap bungkam. Luka-luka di tubuhnya tak seberapa dibandingkan guncangan di dadanya. Permintaan maaf Qiu masih bergema di kepalanya, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan ia dengar… apalagi dari orang yang paling ia sakiti. Dia sudah membunuhnya dua kali.
***
Xing menoleh. Di bawah cahaya lampu jalanan, Qiu berjalan terseok, satu tangan menekan perutnyanya. Xing tidak bisa menggunakan kekuatan untuk teleportasi lagi karena energi sudah terkuras habis. “Aku kira tadi kau meninggalkanku, Qiu?” omelnya, suaranya bergetar antara marah dan lega. “Aku menunggumu sangat lama. Aku pikir kau tak akan kembali.”
Qiu tersenyum lemah. Napasnya berat, langkahnya goyah. “Maaf…” bisiknya. “Aku… membuatmu khawatir. Aku janji, aku tidak bermaksud menghilang. Aku diculik oleh suruhan kakak ku. Mereka menyuntikkan obati bius padaku saat di taman hiburan." Ia terbatuk keras. Seteguk darah menyembur dari bibirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Story
Fiksi PenggemarCerita tak masuk akal di luar nurul, update sesuka saya. Tidak terjadwal ☺ Hanya beberapa chapter tamat dan akan ada judul baru setelahnya.
