Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-----
Hua Yong akhirnya mengangkat wajahnya dari dada Qiu, napasnya masih berat. Tangan Kaisar lalu bergerak turun, menyentuh lembut perut rata Qiu yang baru saja kehilangan bentuk bulatnya. Hanfu tipis itu dengan mudah terbuka, membiarkan kulit pucat keperakan terlihat jelas di bawah cahaya lampu minyak.
"Indah sekali..." gumam Hua Yong, jemarinya menelusuri garis lembut di perut Qiu. "Alangkah menakjubkannya bila tempat ini kembali diisi... dengan kehidupanku."
Qiu tersentak, tubuhnya kaku. Kecupan Kaisar mendarat ringan di perutnya, meninggalkan jejak panas yang membuatnya bergidik. Jemari penguasa itu semakin berani, turun perlahan ke arah bawah, hingga membuat napas Qiu tercekat.
Tubuhnya memberontak antara rasa terhina dan sensasi asing yang tak bisa ia kendalikan. Erangan lirih lolos tanpa ia kehendaki, membuat dirinya semakin benci pada kelemahan tubuhnya sendiri.
Hua Yong tersenyum tipis, puas melihat lawannya yang dulu adalah jenderal gagah kini terbaring tak berdaya.
Qiu terengah, tubuhnya melengkung di bawah desakan Kaisar. Di tengah erangan yang tak tertahan, ia berbisik lirih, suaranya bergetar, "Melahirkan... sangat sakit... aku... aku tidak sanggup lagi... emhhh..."
Hua Yong menunduk, senyum dingin menghiasi wajah tampannya. Jemarinya menekan lebih dalam, sengaja menimbulkan ketidakberdayaan itu. Matanya berkilat, antara gairah dan kegilaan.
"Baiklah..." bisiknya penuh racun, "jika kau tidak mau... maka selamanya kau tidak akan pernah bisa melihat mata anakmu sendiri."
Ucapan itu bagai belati menusuk jantung Qiu. Ia menahan napas, wajahnya memucat, matanya melebar dalam teror. Satu-satunya harapan, satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup-seketika dijadikan umpan oleh Kaisar gila ini.
Qiu ingin berteriak, ingin melawan, tapi yang keluar hanyalah desahan tercekik. Tangannya mencengkeram sprei, tubuhnya gemetar antara sakit, takut, dan rasa hina.
Hua Yong menundukkan wajahnya, mengecup leher Qiu dengan puas, seakan baru saja meletakkan rantai terakhir pada seorang tawanan. "Kau tahu pilihanmu, Qiu. Aku tak pernah memaksa... aku hanya menawarkan jalan." ---
Hua Yong masih setiap bermain, napasnya berat tatapan tertuju pada dada Qiu yang lembap bekas hisapannya sendiri. Jari Kaisar belum berhenti menekan perut rata itu, seakan benar-benar tergila-gila pada bayangan perut yang kembali membesar.
"Aku ingin melihatmu hamil lagi," gumamnya, mengecup kulit putih Qiu.
Qiu menggeliat, menahan desah di tenggorokan, matanya memejam kuat. "Tidak... aku tidak mau... aku tidak sanggup lagi melahirkan." Suaranya pecah, namun tegas di tengah erangan. "Itu terlalu sakit... aku tidak akan..."