5. Butterfly in the dark

519 42 6
                                        


selamat membaca...

***

Xing mondar-mandir di taman, mencari-cari sosok Qiu. Ia menghentikan beberapa orang yang lewat, menyebutkan ciri-ciri pemuda itu, tinggi, bahu lebar, kulit  putih, senyum yang selalu muncul tanpa diminta. Namun yang ia terima hanya gelengan kepala dan sahutan tak tahu.
“Qiu… kau ke mana?” gumam Xing lirih.

Rasa putus asa membuatnya kembali ke tempat terakhir Qiu memintanya menunggu. Ia berjalan di bawah lampu taman, duduk sejenak di bangku besi, lalu berdiri lagi. Pandangannya mengikuti orang-orang berlalu-lalang, sementara bibirnya bergetar. “Jangan-jangan… kau meninggalkanku?”

Angin malam berembus lembut, menyapu wajah Xing yang penuh cemas. “Apakah kita hanya sampai di sini, Qiu?” bisiknya pada udara kosong.

Langit semakin gelap. Bintang-bintang mulai bertaburan di atas kota, lampu-lampu jalan berjajar menerangi sudut taman. Bangku besi panjang di bawah pohon besar menjadi satu-satunya tempat Xing bertahan, memeluk tubuhnya sendiri. Angin menusuk kulit, membawa dingin awal musim gugur. Beberapa daun kering jatuh di rambutnya.

Xing menunduk, napasnya berat. Ia menyesal pernah mengatakan bahwa inti jiwa kupu-kupunya adalah hadiah untuk Qiu. Terlalu terburu-buru. Terlalu percaya. Jika saja ia tahu Qiu akan menghilang seperti ini.

Ia menghembuskan napas panjang, mengingat punggung Qiu yang lenyap di tengah kerumunan. Senyum miris terukir di bibirnya. Dagunya terangkat, menatap langit yang semakin pekat.
Tiba-tiba, sebuah jaket tersampir di bahunya, menghalangi tengkuk dan lengannya dari dingin. Xing tak menoleh. Ia tahu betul siapa yang berdiri di sampingnya, dari aroma yang familier, dari gerakan tanpa suara yang selalu sama.

Zhaowei duduk di sampingnya, menatap langit yang sama. “Ada berapa bintang yang sudah kau hitung?” suara lembut Zhaowei menyapa.

Xing memejamkan mata. “Tidak mau menghitung lagi. Aku lelah.”

Zhaowei menyeringai tipis. “Sudah kuperingatkan. Manusia itu egois. Saat kau beri mereka hati, mereka akan meminta jantung. Dan meski sudah begitu, mereka tetap bisa pergi.”

Xing menoleh, kesal sekaligus terluka. “Apa kau menguntitku? Dari mana kau tahu aku di sini?”

Zhaowei menggidikkan bahu. “Kau selalu datang ke tempat yang kau suka. Dan aku tahu tempat yang kau suka. Kau adikku. Meski aku kejam, aku tetap menyayangimu.” Tangannya meraih rambut Xing yang jatuh di pipi, menyelipkannya ke belakang telinga. “Qiu sudah pergi. Jadi kau juga harus pulang ke dunia peri.” Zhaowei berdiri dan mengulurkan tangan.

Xing ragu. Hatinya berontak ingin tetap menunggu, tapi kenyataan bahwa Qiu tak kembali menghantamnya tanpa ampun.

Tiba-tiba... terasa ada ledakan sakit di kepalanya,  itu menusuk, seolah setengah inti jiwanya menjerit dari dalam. Xing terhuyung, tangannya mencengkeram kepala. Di benaknya, sebuah bayangan menyambar, wajah Qiu berlumuran darah, mata yang redup, tubuh yang terhuyung.
“Ah…” napas Xing tersengal.

Ia berdiri mendadak, menatap Zhaowei dengan mata gemetar. “Jie Jie… aku tidak bisa pulang dulu.” Suaranya bergetar, tapi tegas. “Qiu membutuhkanku. Aku harus mencarinya.”

Zhaowei terperangah, hendak berkata sesuatu.

“TUNGGU!”

Terlambat.

Cahaya pucat menyambar, udara berdesir. Dalam satu tarikan napas, Xing lenyap dari hadapannya, hanya menyisakan angin dingin yang menyapu wajah Zhaowei.

Zhaowei mengepalkan tangan, mendengus kesal. “Ahh… anak ini benar-benar merepotkan!”

****

Tangan Yiran gemetar, tungkai kakinya melemah, hampir tak sanggup menopang tubuhnya, saat kepala Qiu yang semula terkulai terdongak perlahan, lalu kembali tegak, seolah ditarik oleh kekuatan yang tak seharusnya ada di dunia manusia. "Kau… kau… itu apa?" suaranya tercekik ketakutan, "A-apa kau monster?" Yiran dulu sudah yakin menembak mati Qiu di hutan Tianshan dan kali ini pun sama, namun apa yang ia lihat sekarang memporak porandakan akal sehatnya.

Di dahi Qiu, luka yang menganga mulai mengatup, daging yang terkoyak merapat kembali, menyisakan darah yang masih meleleh turun di wajahnya, garis merah itu memantulkan cahaya temaram seperti jejak dosa. Dalam sekejap, Qiu tampak bukan lagi manusia, melainkan sosok yang keluar dari mimpi buruk, berdiri di antara hidup dan mati, menatap dunia dengan mata yang tak lagi sepenuhnya milik manusia.

  "Kau terlalu banyak menonton film Ge… tapi memang benar, aku juga merasa aneh, kenapa aku tidak mati, tapi sepertinya aku tahu penyebabnya. Inti jiwanya pasti menolongku." Qiu dengan mudah melepaskan ikatan di tangannya lalu berdiri. Ia menggelengkan kepala beberapa kali, merasa pusing yang menyambar dan kesemutan. Tubuhnya sedikit terseok.

   Yiran semakin pucat. Tangannya gemetar tak terkendali, langkahnya mundur satu demi satu. Pistol di tangannya terangkat lagi, pelatuk ditarik.

DORR!

Letupan kedua memecah udara.
Namun pada detik yang sama, angin berdesir liar. Sebuah sosok menerjang seperti badai, memeluk Qiu dari depan, menjadikan punggungnya sendiri sebagai perisai.

Peluru panas menembus punggung.
Tubuh Xing bergetar, napasnya tertahan sesaat, tapi ia tak berteriak. Matanya hanya terpaku pada wajah Qiu yang berlumur darah di pelukannya. Tangan Xing naik, gemetar, menyentuh pipi Qiu dengan kelembutan yang kontras dengan kekacauan di sekitar mereka.
“Qiu…” bisiknya, suara itu rapuh. “Kau… berdarah…maaf aku terlambat..."

“Xing!” Qiu terkejut, berusaha menahan tubuh yang kini melemah di pelukannya.

Perlahan, Xing berbalik.
Amarah menyala di dadanya, membakar lebih panas dari luka di punggungnya. Sorot matanya berubah, tajam dan dingin, tertuju pada Yiran.
“Berani sekali…” suaranya rendah, bergetar oleh kemarahan yang tertahan, “kau menyentuh Qiu-ku.”
Udara di sekeliling mereka terasa menekan, seolah dunia ikut menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Xing melesat, memberikan tendangan memutar, ujung sepatunya menghantam tangan Yiran, dan senjata itu terlepas, berdering keras saat membentur lantai.

Yiran terjatuh, tubuhnya terjerembab, napasnya tersengal. Melihat sosok lain mendekat, bayangan itu makin membesar di hadapannya, ia merogoh saku dan mengeluarkan belati, tangannya bergerak dalam kepanikan, menyabet dari bawah, serangan yang lahir dari naluri, bukan lagi dari rencana.

Xing memiringkan tubuhnya ke kiri, bilah itu melintas tipis di sisi, dingin dan mematikan. Dalam satu tarikan napas, tangan kanannya mengayun ke depan, menghantam wajah Yiran.

Yiran terlempar ke belakang, jatuh dengan mulut bersimbah darah, dan di antara dengung sunyi setelah kekacauan, hanya napas mereka yang tersisa, berat, terputus-putus, seperti dunia yang baru saja berhenti sejenak untuk menyaksikan siapa yang masih berdiri.

Xing berjongkok, mengambil pistol yang terjatuh lalu mengarahkan ke dahi Yiran.
 "Sekarang Aku benar-benar ingin membunuh manusia!" Jari telunjuk siap menarik pelatuk.

***

Tbc

Vote n komentar yah

Random StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang