Ocean Jiang x Li peien: A Regret (2)

1.8K 93 2
                                        


***


Peien tersenyum dan berusaha melepaskan pelukan Ocean, "Kau mau membuatku terkejut, lebih baik mandi sekarang lalu kita sarapan." Dia berbicara dengan nada yang ringan dan santai, mencoba mengalihkan perhatian Ocean dari momen yang mungkin terlalu intens.

Tapi Ocean tidak mau lepas, tangannya mengusap-usap perut hamil Peien. "Apa yang kamu pikirkan?" tanya Ocean.

"Tidak ada..." jawab Peien terdengar acuh tak acuh, sembari melanjutkan kegiatan mencuci piringnya yang tadi sempat tertunda.

"Anak kita sangat besar, perutmu seperti akan meledak, apa kamu lelah membawa beban seberat ini?" tanya Ocean lagi.

Peien merasa sedikit tidak nyaman dengan sentuhan Ocean di perutnya, tapi dia tidak ingin membuatnya merasa tidak enak. Dia tidak ingin membahas tentang perutnya atau kehamilannya terlalu banyak, karena dia tahu Ocean hanya ingin menunjukkan perhatiannya. "Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir," tambahnya, sambil tersenyum lembut pada Ocean. Tapi Ocean terus mengusap-usap perutnya, membuat Peien merasa sedikit terganggu. "Ocean, aku serius, aku tidak apa-apa," kata Peien dengan nada yang sedikit lebih tegas.

"Tapi kamu sangat seksi, sayang." Bisik Ocean.

Sekarang Ocean hanya mengenakan celana jeans tanpa atasan, dada bidangnya menempel sempurna di punggung Peien, hidung mancung serta bibir seksi itu mulai menelusuri setiap jengkal kulit leher Peien.

Peien reflek menggeliat karena kecupan halus dari bibir Ocean. "Ah, Ocean cukup bukan kan kita sudah melakukannya tadi malam," ucap Peien terdengar seperti rengekan tapi dibarengi dengan sedikit desahan.

Tangan Ocean sudah merayap ke balik kemeja Peien, meraba bagian perut yang menonjol dan terus menjalar ke bagian dada, memilin-milin niple yang sudah agak bengkak karena pergulatan tadi malam. Peien meringis karena puting nya perih. 'Eummhh...'

"Aku suaramu saat ini, dari pada sarapan, lebih baik tubuhnu saja yang jadi santapanku pagi ini." Ocean membalik tubuh Peien agar menghadap ke arahnya, memagut bibir Peien yang sedikit terbuka, melumatnya kasar sampai-sampai Ocean lupa dengan kondisi Peien sekarang yang sedang hamil tua. Pinggang Peien terhimpit pinggiran meja pantry.

Peien mencoba mendorong bahu Ocean. "Mhhh... Sudah cukup, perutku..."

Saat itu juga Ocean tersadar dari tingkah liarnya. "Ah, maaf baby, papa lupa kamu masih ada di perut mama Peien." Ocean merasa bersalah mengusap perut bundar Pei En berulang kali.

Ocean memandangi wajah Peien yang terengah, bibir bawah sedikit bengkak akibat ciuman tadi, pandangan matanya sayu malah semakin membangkitkan gairah seorang Ocean. "Tapi, sayang aku sudah tidak tahan, boleh kah?"

Peien mengerti apa mau sang suami. "Apakah harus di sini? di pantry dapur?" tanya Peien.

Ocean hanya mengangguk lalu tangannya dengan cekatan membuka kancing kemeja Peien satu-persatu, menurunkan kemeja putih hingga memperlihatkan seluruh area dada dan punggung punggung Pei En.

Bibir kissable Ocean tak tinggal diam, seakan-akan tak memberi kesempatan Peien untuk mengambil nafas. Serangan kecupan kembali dia lakukan

Ciuman di bibir terlepas. Ocean mengangkat tubuh Peien, membuatnya terduduk di atas meja pantry dapur. Tangan Peien refleks meremas bahu Ocean karena terkejut atas perlakuan kekasihnya.

Bibir hangat Ocean tak tinggal diam, seakan tak memberi kesempatan untuk Peien mengambil napas. Serangan kecupan berpindah ke kulit leher Peien, menambahkan bercak kemerahan yang sudah tercipta di sana sejak semalam.

"Ahhh..." Peien terdongak, bibirnya mengeluarkan lenguhan halus. Matanya terpejam erat, keningnya berkerut saat Ocean terus memanjakan dirinya dengan belaian dan ciuman yang dalam.

Random StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang