Ocean x Peien: A Regret (6) END

3K 107 31
                                        

***

Suasana di ruang ICU begitu hening, hanya suara monitor jantung yang berdetak teratur menemani tubuh Peien yang terbaring pucat. Matanya terpejam rapat, wajahnya seakan tertidur panjang yang tak kunjung usai.

Di balik kaca, ayah dan ibu Ocean berdiri dengan wajah muram. Keduanya tak berkata banyak, hanya memandang Peien yang sedang berjuang antara hidup dan mati.

Perawat datang sambil menggendong bayi mungil yang baru lahir. Tangisan kecil itu memenuhi koridor rumah sakit, seolah menegaskan bahwa ada kehidupan baru yang hadir di tengah duka.

Ayah Ocean mengusap wajahnya yang tegang, suaranya bergetar.
“Dia melahirkan dengan penuh perjuangan… anakku sendiri sudah tiada, dan sekarang istrinya berbaring seperti ini.”

Ibu Ocean terdiam lama, matanya berkaca-kaca saat menatap cucu mungil itu. Perempuan yang dulu keras menolak Peien, kini tak mampu menyembunyikan gejolak hatinya. Ia mengulurkan tangan, menyentuh bayi itu dengan lembut.

“Ini cucu kita…” ucapnya lirih. “Peien sudah berjuang demi anak Ocean… aku tak bisa lagi membencinya.”

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga, egonya runtuh.

Malam itu mereka bertiga, berada di ruang tunggu rumah sakit. Bayi mungil itu menjadi satu-satunya pengikat, cahaya kecil di tengah kehilangan dan luka.

Setiap hari, ayah dan ibu Ocean datang silih berganti menjenguk Peien yang masih koma. Mereka berharap, meski tubuhnya diam, hatinya masih bisa mendengar.

“Istirahatlah cukup, Peien,” bisik ayah Ocean suatu malam, berdiri di samping ranjang ICU. “Bangunlah… anakmu menunggumu. Kami juga menunggumu.”

Ibu Ocean duduk di kursi tak jauh dari situ, pandangannya tak lepas dari wajah Peien. Dengan suara bergetar ia menambahkan,
“Kalau kau bangun… aku janji, aku akan memperlakukan mu dengan baik. Aku akan memanjakan cucuku dan dirimu sebagai menantu. Demi cucu ini. Demi Ocean.”

***

Dalam pekatnya ruangan serba putih tak berujung, Pei En merasakan hangat yang begitu familiar. Saat membuka mata, ia mendapati dirinya duduk di sebuah taman yang indah, penuh cahaya lembut.

Di sampingnya, Ocean duduk dengan senyum yang begitu ia rindukan. Tanpa sadar, tubuhnya bersandar pada bahu lelaki itu.

“Ocean…” bisiknya lirih, suaranya bergetar.
“Aku merindukanmu.”

Ocean menoleh, tatapan matanya penuh kelembutan. “Aku tahu, Pei En. Aku pun merindukanmu… selalu.”

Air mata jatuh membasahi pipi Pei En. “Aku lelah… semuanya terasa berat. Mengapa aku masih di sini tanpa kau?”

Ocean mengusap lembut rambutnya, seperti dulu ketika ia ingin menenangkan. “Karena kau masih punya alasan untuk bertahan. Ada bagian dari diriku yang kutitipkan padamu.”

Pei En mengerjap, lalu menunduk. “Anak ini… ya?”

Ocean tersenyum. “Iya. Dia adalah cahaya kita. Aku tak bisa lagi bersamamu di dunia, tapi lewat dia… aku tetap ada.”

Bahunya bergetar, tangisnya pecah. “Tapi aku takut… aku takut tidak kuat, Ocean. Aku ingin ikut dengannu."

Ocean menggenggam tangannya erat. “Kau lebih kuat dari yang kau kira. Aku percaya padamu. Aku akan selalu ada… meski kau tak bisa melihatku. Aku tidak mengizinkanmu mengikutiku."

Keheningan melingkupi mereka. Pei En menutup mata, menikmati detik-detik itu, seolah tak ingin berakhir.

“Kalau bisa… aku ingin tetap di sini bersamamu,” ucapnya lirih.

Random StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang