Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari berikutnya segalanya berubah drastis.
Tak ada lagi suara langkah berat Qiu di depan pintu kamar Huang Xing. Tak ada ketukan asal-asalan disertai ocehan tak penting. Lorong rumah sewa terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah seseorang telah mencabut sumber kebisingan yang selama ini diam-diam menjadi bagian dari napas Huang Xing.
Di kampus pun sama. Qiu tetap ada, berjalan dengan bahu tegap, bercanda dengan orang lain, tertawa lepas di tempat yang tidak lagi melibatkan Huang Xing. Senyum itu masih ada, tapi bukan untuknya. Setiap kali tatapan mereka tanpa sengaja bertemu, Qiu hanya mengangguk singkat lalu berpaling, seolah semalam itu tak pernah terjadi.
Dan Huang Xing paham. Ini kesalahannya. Kesalahan besar. Ia yang membuka perasaan, ia yang melanggar batas, ia yang memaksa sesuatu yang seharusnya tak dipaksa. Setiap detik keheningan itu seperti hukuman yang pantas ia terima.
Biasanya, sore hari adalah waktu yang paling ia tunggu. Qiu akan datang ke kamarnya membawa kantong plastik berisi makanan ringan murah, menjatuhkannya ke meja tanpa izin, lalu berkata, "Belajar terus, otakmu butuh hiburan." Setelah itu mereka akan duduk berdekatan, bermain game sampai lupa waktu atau menonton film horor favorit Qiu.
Huang Xing selalu berpura-pura takut. Ia tahu dirinya tidak benar-benar takut. Yang ia takuti hanyalah jarak. Maka ia berakting, menarik lengan Qiu, menyembunyikan wajah di bahunya, berpura-pura gemetar tiap ada adegan mengejutkan. Dan Qiu, dengan nada sok jago, selalu berkata, "Dasar anak pintar tapi penakut."
Padahal Huang Xing tahu. Ia merasakan telapak tangan Qiu yang dingin saat adegan menegangkan muncul. Merasakan tubuh itu sedikit menegang, bahu yang refleks bergeser seolah siap kabur dari sofa. Bahkan terkadang napas Qiu berubah cepat, meski mulutnya tetap berceloteh sok berani. Itu lucu.
Qiu takut, tapi pura-pura berani. Manly di luar, cemas di dalam. Dan sekarang, semua itu hilang. Huang Xing duduk sendirian di kamarnya malam itu, layar laptop menyala menampilkan film horor yang sama. Tidak ada yang ia peluk. Tidak ada bahu hangat. Tidak ada tangan dingin yang diam-diam menggenggam ujung bajunya. Adegan menyeramkan berlalu begitu saja tanpa efek apa pun.
Ia menutup laptop pelan, dadanya terasa kosong. Untuk sekarang, Huang Xing benar-benar takut. Bukan pada film. Tapi pada kenyataan bahwa ia mungkin telah kehilangan Qiu selamanya.
***
Sasana tinju dipenuhi bau keringat dan suara pukulan yang berulang.
Qiu berdiri di depan samsak, kantong besar berisi pasir yang bergoyang liar tiap kali tinjunya mendarat. Tubuhnya bergerak cepat, gesit, akurat. Setiap pukulan tepat sasaran, tekniknya bersih, napasnya teratur. Ia atlet tinju yang mumpuni, pemenang beberapa kejuaraan, idola banyak orang, terutama wanita.
Bughh.
Namun hari ini pikirannya berantakan. Peluh menetes dari rambutnya yang lembap, mengalir di pelipis dan rahang. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras, napasnya mendengus berat. Ia melancarkan kombinasi pukulan, kiri-kanan, hook, uppercut, samsak berayun keras. "Huang Xing, apa yang terjadi padamu?" gumamnya, suara rendah dan tertekan.