Warning: Ada adegan sadis, BDSM, pelecehan seksual, merasa kurang nyaman skip, okeyy sayang2 ku. Udah di warning nih...
Flashback
"Kipuka kau sudah makan siang?" Elliot menepuk pundak Kipuka yang kini sedang termenung sendirian di koridor rumah sakit.
Kipuka hanya menggeleng lemah tanpa menyahut, wajahnya cemberut tertekuk.
"Hey kenapa begitu?" Sekarang ayo makan siang denganku biar aku yang traktir." Bujuk Eliot lagi, ia menarik tangan Kipuka namun ditepis oleh yang bersangkutan.
Dokter tampan berusia 28 tahun itu terlihat bingung lalu duduk di samping Kipuka dan bertanya, "Ada apa? ayo katakan."
"Tidak ada," Sahut Kipuka muram.
"Kalau tidak ada apa-apa kau tidak akan bersikap seperti ini. Sekarang ayo ceritkan padaku." Eliot berbicara dengan nada yang teramat tenang seakan sedang membujuk anak kecil yang merajuk.
Kipuka tak menjawab langsung namun ia nampak memandangi Dokter pembimbingnya itu selama beberapa detik, "Aku kabur dari rumah. Ujarnya, setelah merasa yakin ia bercerita pada orang yang tepat.
"Lalu?" Eliot tampak menaruh minat atas pernyataan pemuda manis di depannya.
"Lalu apa?" Mata Kipuka mengerjap.
"Apa alasanmu kabur dari rumah? pasti terjadi sesuatu bukan?"
"Huftt…. Setelah Ibuku meninggal, Ayahku malah semakin menjadi-jadi, ia sering membawa para jalang itu kerumah, Aku tidak suka, Aku membencinya." Jelas Kipuka menunduk sedih.
Kipuka adalah seorang mahasiswa fakultas kedokteran yang sedang menjalani praktek tugasnya di sebuah rumah sakit kepunyaan Eliot Huang, dan kebetulan Eliot juga dokter sekaligus mentor dari Kipuka.
Eliot begitu baik pada Kipuka, terlalu baik, hingga Kipuka tak pernah menyadari bahwa di balik senyum tampan dokter dua puluh delapan tahun bernama itu, bersemayam kegilaan sunyi yang siap menelan siapa pun yang ia klaim sebagai miliknya.
"Lalu, kau akan tinggal di mana?"
"Aku tidak tahu." Lagi-lagi Kipuka menggeleng. Napasnya keluar berat, letih, lalu punggungnya bersandar ke dinding seolah tak punya tempat lain untuk jatuh.
"Kalau begitu kau bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu."
Nada Eliot terdengar hangat. Terlalu hangat. Ajakan itu meluncur dengan wajah yang tenang, senyum yang rapi, tanpa celah sedikit pun untuk dicurigai.
Kipuka tak tahu, di balik ketenangan itu, pikirannya sedang dipenuhi rencana rencana kotor yang disusun dengan kesabaran seorang pemburu.
Setelah berpikir sejenak, Kipuka mengangguk. Tak ada rasa waspada. Tak ada firasat. Keputusannya lahir dari kelelahan, bukan keyakinan. Ia tidak melihat apa yang tersembunyi.
Eliot menyeringai dalam diam. Senyuman itu tak sampai ke matanya. Di sana hanya ada hasrat yang beku, keinginan yang dipelihara rapi, dan kesabaran kejam untuk merusak perlahan. Di benaknya, pemuda manis di hadapannya itu sudah lama bukan manusia, melainkan sesuatu miliknya.
Eliot menyeringai, ia sudah tidak sabar untuk menyalurkan fantasi seksualnya yang biadap terhadap pemuda manis di depannya ini.
Skip… 3 bulan kemudian (Masih flashback)
"Akhh ahh... Eliot... cukup ahhhh…. Aku...sakithh!" Suara Kipuka terdengar lirih menyedihkan.
Di atas tubuhnya kini ada Eliot sedang menyetubuhinya dengan kasar, suara ranjang brankar terdengar berdecit mengiringi pergulatan dua pemuda yang sedang dilanda nafsu membuncah, tapi hanya Eliot yang merasakan nafsu itu, tidak untuk Kipuka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Story
FanfictionCerita tak masuk akal di luar nurul, update sesuka saya. Tidak terjadwal ☺ Hanya beberapa chapter tamat dan akan ada judul baru setelahnya.
