Beberapa saat sebelumnya...
Ocean dan Navvy melangkah masuk ke butik. Sambutan hangat dari para pegawai menyambut kedatangan mereka, senyum ramah bercampur bisik-bisik kecil dari para karyawan wanita yang melihat Ocean.
"Terima kasih, Ocean... sudah mau menemaniku. Calon suamiku itu benar-benar menyebalkan, urusan kantornya katanya tidak bisa ditunda," keluh Navvy sambil memilih gaun pengantin yang berderet rapi.
Ocean tersenyum tipis, suaranya tenang. "Dia memang menyebalkan, tapi kau mencintainya, bukan? Ayolah, Nav... Kau itu sahabatku sejak kecil. Kau sudah seperti adikku sendiri. Ini hal sepele, jangan terlalu dipikirkan."
Navvy menghela napas, lalu menoleh. "Ya, tentu saja aku mencintainya. Tapi... bagaimana denganmu dan Peien? Apa dia tahu kalau aku memintamu menemaniku ke sini?"
Wajah Ocean meredup. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi yang disediakan. "Dia tidak bisa diajak bicara. Hubungan kami akhir-akhir ini... buruk sekali," lirihnya, nada suaranya mengandung kepenatan.
Belum sempat Navvy menjawab, tiba-tiba-
Brakkk!
Pintu butik terbuka keras, suaranya menggetarkan ruangan.
Ocean terlonjak, matanya langsung membesar. Jantungnya berdetak panik begitu sosok yang ia kenal betul muncul di ambang pintu.
"Peien!!" serunya kaget, berdiri tergesa.
Tatapan Peien menusuk, penuh amarah bercampur luka. Sorot matanya seakan ingin merobek Ocean hidup-hidup.
"Peien, dengarkan aku... aku bisa jelaskan, aku hanya-"
Plakkk!
Tamparan keras mendarat di wajah Ocean sebelum kalimatnya selesai. Tubuhnya oleng, rasa perih langsung menjalar ke pipinya.
Butik seketika gaduh. Beberapa pegawai wanita menjerit ketakutan.
"Peien!! Apa-apaan ini?!" Navvy bersuara panik, hendak maju, tapi Ocean cepat menahan dengan lambaian tangan.
Peien menatap Ocean penuh benci. Suaranya meledak, menggema ke seluruh ruangan.
"INI YANG KAU SEBUT TEMAN, HAH?!"
Ocean menunduk, mencoba menahan emosi. "Peien... dengar aku. Aku hanya menemani Navvy ke butik ini. Apa kau pikir kami sedang apa? Tidak ada yang perlu kau khawatirkan." Ia mencoba menggapai lengan Peien, berharap bisa menenangkannya.
Namun Peien menepis dengan kasar. Air mata mengambang di pelupuknya, suaranya pecah penuh kepedihan.
"Dengar! Aku sudah muak dengan segala alasanmu, Ocean! Aku benci semua tentangmu, ibumu, keluargamu... aku muak!!"
Ocean tercekat, dadanya sesak seakan ditikam. "Peien..."
Tapi Peien sudah melangkah pergi, matanya merah, tubuhnya bergetar menahan amarah dan sakit hati.
Ocean segera berlari menyusul, satu tangannya menahan pipi yang masih ngilu akibat pukulan barusan.
"Peien! Hei! Kenapa kau tidak bisa percaya padaku? Dengarkan aku, tolong! Aku memang salah tidak membicarakan ini padamu... tapi aku tidak ingin kau seperti ini, Peien! Peien!!"
Namun Peien tak menoleh. Ia masuk ke mobilnya, menutup pintu keras-keras, lalu melaju dengan kecepatan gila, menulikan telinganya dari teriakan Ocean.
Ocean panik. Tanpa pikir panjang, ia masuk ke mobilnya dan tancap gas mengejar.
Beberapa menit kemudian, Ocean masih bisa melihat mobil Peien di kejauhan. Tapi perlahan... bayangan itu menghilang dari pandangan.
Ocean menggenggam setir erat-erat, wajahnya diliputi kecemasan. Ia terus mencoba menelepon Peien, tapi yang terdengar hanya suara operator. Peien mematikan ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Story
FanficCerita tak masuk akal di luar nurul, update sesuka saya. Tidak terjadwal ☺ Hanya beberapa chapter tamat dan akan ada judul baru setelahnya.
