Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
Seperti hari biasa Ziyu menjalankan tugasnya di balik meja kasir dengan profesionalisme, melayani pelanggan dengan senyum hangat dan ramah. Meskipun sibuk, dia tetap fokus dan efisien dalam menangani setiap transaksi, memastikan setiap pelanggan merasa puas dan dihargai. Dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya, Ziyu menciptakan suasana yang menyenangkan di tempat kerja, membuat pelanggan merasa nyaman dan ingin kembali lagi.
Tapi kemudian seseorang menghampiri Ziyu yang tengah sibuk memasukkan baju ke dalam paperbag. "Ziyu... ternyata kau di sini.”
Ziyu terkejut dan menoleh ke arah suara yang familiar, matanya bertemu dengan seseorang yang tampaknya sudah mengenalinya.
Orang itu adalah Done, orang yang sudah melecehkannya dan penyebab semua masalah yang menimpa hidupnya.
Tiba-tiba, Ziyu merasa tubuhnya gemetar ketika melihat Done, seseorang yang telah menyebabkan begitu banyak masalah dalam hidupnya. Tangan Ziyu bergetar saat dia berhenti memasukkan baju ke dalam paperbag, pikirannya dipenuhi dengan kenangan pahit dan emosi negatif. Ziyu berusaha menenangkan diri, tetapi sulit baginya untuk mengendalikan reaksi tubuhnya. Dengan napas yang tidak teratur, Ziyu menatap Done dengan campuran emosi: ketakutan, kemarahan, dan kesedihan. Kehadirannya membawa kembali kenangan yang tidak diinginkan.
“D-Done …. “ ucap Ziyu takut.
Pertemuan dengan Done membawa kembali bayang-bayang ketakutan yang telah lama Ziyu coba untuk lupakan. Trauma yang pernah dialaminya kini terasa seperti luka yang belum sembuh sepenuhnya, dan kehadiran Done membuatnya merasa seperti berada di jurang keputusasaan. Tangan Ziyu masih bergetar, napasnya tercekat, dan pikirannya dipenuhi dengan kenangan mencekam yang berusaha dia kubur dalam-dalam.
“Bagaimana kabarmu Ziyu?” tanya Done , tatapannya tajam pada Ziyu.
“Aku baik.” Balas Ziyu sekenanya.
“Kau tidak sekolah lagi, sudah tidak lama tidak bertemu.” Done tersenyum, lalu dia mendekatkan wajahnya ke arah Ziyu dan berbisik. “Setelah melihatmu lagi kau tambah manis Ziyu, aku jadi sedikit merindukanmu.” Done menyeringai lalu menjauhkan wajahnya.
Ziyu terdiam, tidak bisa menjawab. Tangan kanannya meremas kuat paperbag yang masih tergenggam, seolah-olah dia mencari sesuatu untuk dipegang erat-erat agar tidak terjatuh ke dalam pusaran emosi yang menghampiri. Pandangannya tertuju pada Done, tetapi sepertinya dia tidak benar-benar melihatnya. Ada kekacauan di dalam pikirannya, dan tubuhnya menunjukkan tanda-tanda ketegangan yang luar biasa. Dalam keheningan itu, Ziyu berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara, tetapi kata-kata sepertinya macet di kerongkongan.
Lalu suara seorang gadis memecah ketegangan yang menyelimuti antara Done dan Ziyu. “Sayang apa sudah selesai ayo kita pulang.”
“Okey sayang…” sahut Done, senyuman meremehkan tak pernah pudar untuk Ziyu.