Xuning Ziyu: Love's Refuge 2

3.8K 184 5
                                        

Ziyu tertegun dengan cutter siap menyayat tangan tapi pisau tajam itu tak kunjung bergerak dan sekarang malah terlempar ke lantai basah kamar mandi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ziyu tertegun dengan cutter siap menyayat tangan tapi pisau tajam itu tak kunjung bergerak dan sekarang malah terlempar ke lantai basah kamar mandi. Air mata kembali mengalir di pipi Ziyu. 

"Bagaimana pun Aku memang seorang pengecut..."

Setelah lama menangis ide lain muncul di otaknya yang tak karuan. "Obat penggugur kandungan."

Ziyu sigap keluar kamar mandi lalu segera menuju meja belajar dan membuka laptop. Jemari lentik segera menari di atas keyboard. Bibir tebalnya bergumam pelan, "Obat penggugur kandungan." Secara berulang-ulang. 

Mata sembab Ziyu terbelalak ketika membaca efek samping obat keras itu pada janin dan juga kerugian tubuh penggunanya. Bahkan efek yang lebih mengerikan adalah pendarahan dan nyawa sang Ibu juga bisa tidak tertolong. Pada akhirnya nyali Ziyu kembali menciut. 

Ziyu lelah dan pusing, ia langsung berbaring di tempat tidur, pergelangan tangan di letakkan di atas dahi dan itu hampir menutupi mata. "Huft... Apa yang harus Aku lakukan?"

Ziyu juga sempat mencari informasi tentang Aborsi medis tapi Aborsi medis juga tidak bisa sembarangan dilakukan ada tahap prosedur yang harus dijalani. Aborsi medis harus dilakukan dalam rentang waktu 49 hari kehamilan. Lebih cepat lebih aman. Tapi harus diperhatikan bahwa masih ada resiko tertentu bahwa janin akan tetap ada di dalam rahim (tidak terangkat semua) maka pada saat itu diperlukan evakuasi literine kedua yang masih sangat berbahaya. Prosedur juga sangat memberatkan Ziyu yaitu harus mendapatkan izin dari suami ataupun wali. Ini lebih mustahil untuk dilakukan. Mana mungkin ia mengatakan kehamilannya pada Done apalagi pada ayahnya sendiri. 

Di saat kebingungan yang melanda, tangan ramping Ziyu bergerak turun ke balik kaosnya di bagian perut. Usapan lembut ia lakukan "Ini... mungkin akan segera menonjol, akan segera membesar, benda kecil ini akan bergerak dan berguling di dalam perutku.” Ziyu menarik napas lelah lalu lanjut bergumam, "Kaki kecil yang gelisah akan menendangku dari dalam, tidak tahu, apakah itu nanti akan sakit?"

Dari pada aborsi, Ziyu Sebenarnya lebih takut ketika pergi ke rumah sakit dia akan diperlakukan seperti orang aneh. Tapi ada yang lebih Ziyu takutkan yaitu adalah dia tidak bisa mengatasi rasa takutnya dan memilih mempertahankan janinnya. 

"Tapi bagaimana nanti? Apakah Ayah bisa menerimaku? Jika Aku diusir, bisa kah nanti Aku memberi anak ini makan? Bagaimana masa depan anakku nanti?"  

"Aku seperti ini di dunia ini, jika Kamu bahkan tidak bisa melihat masa depanmu sendiri, beraninya memikirkan masa depan anakmu?” ucap Ziyu pada diri sendiri. 

Cukup lama Ziyu terjebak dalam keheningan, usapan di perut juga masih dia lakukan jika sedikit di tekan memang ada rasa tonjolan kecil pada bagian bawah perutnya, sambil memikirkan gelak tawa bayi mungilnya nanti ketika sudah lahir, bibir Ziyu tertarik membentuk senyuman. Rasa sayang sedikit demi sedikit mulai tumbuh. 

Namun keesokan harinya setelah pulang sekolah, Ziyu dihadapkan pada kemarahan sang Ayah yang langsung melemparkan hasil testpack miliknya. Ayahnya membentak dan mengutuk Ziyu  dengan kata kasar menjijikkan. Dua tamparan keras membekas di wajah putih Ziyu, membuat pipi membiru dan bibirnya sedikit sobek.

Ayah Ziyu sudah membencinya sejak lama ditambah dengan masalah kehamilannya maka tanpa bertanya siapa Ayah dari janin yang Ziyu kandung, Dia dengan serta merta menendang Ziyu keluar dari rumah, sejak saat itu Ziyu resmi dikeluarkan dari silsilah keluarga.

Flashback end. 

***

Ziyu berjongkok di bawah hujan. Rasa yang amat perih, rasanya begitu sakit ketika Kau dibuang oleh keluargamu tanpa sempat membela diri. Remaja delapan belas tahun itu putus asa, kebingungan dan juga marah, dia marah pada nasib yang selalu memperolok dirinya, dia marah pada keadaan yang selalu membuatnya terpojok, dia benci Ayah, dia benci Done, Ziyu lebih benci dirinya sendiri yang yang tidak normal.

Tangisan Ziyu tak bisa dibendung lagi. Hingga tak menyadari seseorang datang menghampiri. 

Hujan memang sudah tidak begitu deras, tapi tetap cukup untuk membasahi pakaian pejalan kaki yang lewat. Tian Xuning berlari kecil di tengah hujan dengan payung di tangan, tanpa peduli dengan sepatu mahalnya menginjak genangan air, bahkan jas mahalnya sedikit basah. Padahal Xuning adalah orang yang sangat perfeksionis soal kebersihan tapi dia malah berlarian di tengah hujan dengan tangan memayungi si remaja yang menangis di bawah hujan. 

"Hey... Apa yang Kau lakukan? Mengapa berjongkok di tengah hujan?" tanya Xuning.

Merasa dipanggil, Ziyu mengangkat wajahnya yang sembab dan hidung yang memerah, mata sayunya mengerjap sekali. Dia bak anak kucing yang ditinggalkan oleh sang pemilik. 

Obsidian gelap Tian Xuning dan mata sayu sembab Ziyu kini hanya saling menatap dibawah payung hitam dan guyuran hujan.

Tbc

Eyaa up 2 chap tapi yg ini pendek hehee, follow tiktok ya neorui17. Jangan lupa follow akun WP ku juga,🫩

Random StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang