Xing -Qiu: Jendral Tahanan Kaisar (3)

2.3K 170 21
                                        

---

Musik perlahan berhenti, guzheng terakhir dipetik, dan gong kecil berbunyi tiga kali menandakan jamuan usai. Para selir satu per satu menunduk, lalu berjalan keluar dari paviliun bunga. Wajah mereka pucat, penuh iri dan malu karena sepanjang malam perhatian Kaisar tidak beralih dari Qiu.

Namun, saat Qiu hendak melangkah keluar, suara dingin Kaisar terdengar:

“Yang lain boleh pergi. Kau tetap di sini, Selir Qiu.”

Langkah Qiu terhenti. Pelayan yang tadinya hendak mengiringinya pun mundur dengan gemetar, menunduk dalam-dalam sebelum meninggalkan aula. Dalam sekejap, paviliun bunga menjadi sepi. Hanya lentera yang masih menyala, menerangi ruangan dengan cahaya merah keemasan.

Qiu berdiri tegak, wajahnya datar, tapi jemari tangannya mengepal rapat di balik lengan hanfu emasnya. “Apa lagi yang kau inginkan dariku, Hua Yong? Kau sudah membuatku menjadi tontonan. Malam ini cukup mempermalukanku.”

Hua Yong tersenyum tipis, lalu duduk di singgasananya, menyandarkan tubuh dengan santai. Matanya tajam, penuh obsesi. “Qiu, apa kau tidak sadar? Di antara semua orang tadi, kau yang paling bersinar. Kau bukan sekadar selir… kau adalah penakluk yang sekarang jatuh di tanganku. Dan itu jauh lebih memabukkan daripada kemenangan perang manapun.”

Qiu menoleh, menatap Kaisar dengan tatapan dingin. “Kalau kau berpikir aku akan bangga dengan perhatianmu, kau salah besar. Aku lebih baik mati sebagai tawanan perang… daripada hidup sebagai mainan seorang Kaisar gila.”

Kata-kata itu menusuk, tapi Hua Yong justru tertawa kecil, bangkit dari singgasananya, tangannya sempat meraup bunga mawar yang ada di dekat singgasana raupan itu seperti merampas paksa, kasar hingga beberapa kelopak mawar tercabut dari dahan nya  lalu dia berjalan perlahan mendekat. Setiap langkahnya terdengar jelas di lantai kayu paviliun yang sunyi.

Begitu tiba di hadapan Qiu, ia mengangkat tangannya lalu melempar kelopak mawar merah tepat di depan wajah Qiu.

Kelopak-kelopak itu jatuh berhamburan, beberapa menempel di pipi dan leher Qiu, seolah menodai wajah bersihnya dengan warna merah darah. Tatapan Hua Yong tajam, penuh ejekan, sementara senyum tipisnya justru membuat dingin menusuk.

"Indah, bukan?" bisiknya rendah, suaranya serupa bisikan racun. "Bunga pun tak bisa memilih kepada siapa ia dipetik… sama sepertimu."

Qiu menggertakkan gigi, jemarinya mengepal kuat di sisi pakaian. Hatinya bergetar, antara marah, takut, sekaligus ingin melawan—tapi tatapan mata Hua Yong menahannya, seperti ada kekuatan yang mencekik tanpa menyentuh.

“Lihat dirimu sekarang… bahkan dalam amarahmu, kau tetap indah. Kau pikir aku akan membiarkanmu mati begitu saja? Tidak, Qiu. Kau sudah melahirkan darah dagingku. Itu mengikatmu padaku selamanya.”

Qiu menepis tangan itu dengan kasar. Nafasnya berat, matanya menyalakan api perlawanan. “Ikatan? Jangan bercanda. Kau merampas kehormatanku, merampas anakku, lalu sekarang bicara tentang ikatan?”

Untuk sesaat, wajah Hua Yong berubah—antara marah, terganggu, namun juga semakin berhasrat. Sorot matanya menajam, bibirnya melengkung dalam senyum yang berbahaya. Ia menunduk, wajahnya begitu dekat dengan Qiu, hingga Qiu bisa merasakan hembusan nafasnya.

“Ya… dan justru itulah yang membuatku gila padamu.”

Suasana malam terasa berat, sepi, hanya suara napas keduanya yang terdengar di paviliun kosong itu.

Qiu menahan napas, tubuhnya sedikit gemetar. Ia merasakan sesuatu yang menyakitkan sekaligus memalukan di balik hanfu emas itu. Dadanya terasa penuh, berat, seperti akan meledak. Cairan hangat merembes, membasahi kain tipis dalamannya hingga terasa lembab dan dingin menempel pada kulit.

Random StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang