3. Held (end)

604 29 22
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


***

Huang Xing tak menunggu lebih lama. Ia melangkah maju dan langsung memeluk Qiu, lengannya melingkar erat, seolah takut jika sedikit saja dilepas maka jarak akan kembali tercipta. "Maaf jika aku kejam," ucapnya di dekat telinga Qiu, suaranya rendah dan jujur.

"Tapi aku butuh kepastian. Jika kau menerimaku, aku berjanji akan menjadi yang terbaik untukmu. Qiu… aku benar-benar terjerat padamu."

Tubuh Qiu menegang sepersekian detik. Biasanya ia akan mendorong. Biasanya ia akan marah. Tapi kali ini tidak. Tangannya yang semula menggantung perlahan turun, diam di sisi tubuh. Ia tidak berontak. Tidak menepis. Napasnya justru melambat, dadanya naik turun lebih teratur. Pelukan itu hangat tidak menuntut apa pun selain keberadaannya.

Dan entah sejak kapan, Qiu menyadari sesuatu yang membuat tenggorokannya terasa sesak.
Ia nyaman. Inilah yang ia butuhkan selama ini, sesuatu yang bahkan tak ia sadari ia cari. Selama hidupnya, ia selalu menjadi yang kuat. Atlet tinju, Pria yang diandalkan, melindungi, yang berdiri di depan, yang tak boleh goyah.

Tak pernah ada yang memeluknya seperti ini. Tak pernah ada yang memperlakukannya seolah ia boleh lemah. Kepala Qiu sedikit menunduk, dahinya hampir menyentuh bahu Huang Xing. Tangannya perlahan terangkat, ragu sesaat, lalu mencengkeram punggung jaket Huang Xing dengan lemah. "Aneh…" gumamnya pelan, "Aku seharusnya menolak."

Namun tubuhnya justru semakin rileks di dalam dekapan itu.
Huang Xing merasakan genggaman kecil itu dan dadanya bergetar. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mempererat pelukan sedikit, cukup untuk berkata tanpa suara: aku di sini, aku tidak pergi.

Huang Xing melepas pelukannya perlahan, namun jarak itu justru terasa lebih menegangkan. Ia menatap Qiu lurus, tajam, seolah ingin menembus semua keraguan yang berputar di mata itu.
"Jadi apa kau menerimaku?"

Qiu terdiam. Dadanya naik turun, pikirannya kacau. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Huang Xing lagi, kali ini tanpa tameng bercanda. "Aku… aku tidak tahu…" suaranya serak. "Aku tidak ingin menerima ini, tapi aku juga tidak ingin kau pergi. Aku ingin dipeluk. Aku… aku..."
Kata-katanya terpotong.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 18 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Random StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang