Xing-Qiu: Jendral Tawanan Kaisar (4)

2K 177 39
                                        

---

Peringatan: isinya hanya nenen dan ngeweng Xing Qiu. Plisss pingin jadi Hua yooonggg 🥹

Selir Qiu....

Selir Qiu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


***

Sudah hampir tiga bulan Qiu menghuni paviliun selir Kaisar. Hari-hari panjang terasa lambat, namun tidak lagi penuh penderitaan fisik seperti di penjara. Ia dibangunkan setiap pagi oleh suara lembut dayang, disajikan hidangan mewah, tubuhnya dirawat dengan ramuan herbal terbaik, dan malamnya tidur di ranjang harum yang empuk. Luka-luka lamanya perlahan sembuh, bahkan tubuhnya terasa lebih kuat.

Namun di balik semua itu, Qiu tahu betul: ia hanyalah burung yang dipelihara di sangkar emas. Ruang geraknya terbatas, langkahnya selalu diawasi, bahkan tatapan dayang pun penuh ketakutan, seakan mereka sendiri merasa ia hanyalah benda yang dimiliki Kaisar.

Qiu mulai terbiasa-atau lebih tepatnya, terpaksa terbiasa. Jemarinya kadang menyusuri benang emas pada lengan hanfu yang ia kenakan, menatap hampa ke langit sore. Ia tahu dirinya sudah tidak lagi seorang jenderal yang gagah, ia kini hanya perhiasan yang disimpan oleh Kaisar gila.

Malam-malam panjang membuatnya merenung. Ia mendesah pasrah, tubuhnya rebah di dipan yang lembut, matanya menatap kosong pada tirai sutra yang bergoyang pelan diterpa angin. Harga dirinya sudah lama hancur sejak ia kalah di medan perang, sejak pertama kali tubuhnya dipermalukan di hadapan Kaisar.

Namun ada satu hal yang terus menggores hatinya, luka yang lebih dalam daripada segala penghinaan: anak yang dilahirkannya.

Sudah berbulan-bulan, dan ia bahkan belum pernah menatap wajah bayi itu. Tak tahu apakah ia sehat, di mana ia tinggal, atau apakah ia bahkan masih hidup. Setiap kali pikirannya melayang pada sosok mungil itu, dadanya terasa sesak, matanya nyaris basah, tapi air mata tak pernah jatuh.

Ia hanya menghela napas panjang, pasrah. "Anakku... apakah kau masih hidup di suatu tempat? Atau kau pun hanyalah bagian dari permainan Kaisar itu..."

Hari itu, matahari sore masuk lewat jendela paviliun, menerangi ruangan dengan cahaya keemasan. Qiu sedang duduk bersandar, tubuhnya dibalut hanfu tipis. Seorang tabib kerajaan tengah memeriksa nadinya, lalu memberi beberapa catatan kecil pada dayang di sampingnya.

Biasanya Qiu hanya diam setiap kali tabib datang, menerima ramuan dan pemeriksaan tanpa suara. Tapi kali ini, ada sesuatu yang menekan dadanya. Sejak pagi, pikirannya dipenuhi wajah bayi yang belum pernah ia lihat. Ia merasakan dada kirinya kembali sakit, karena susu yang menumpuk dan tak pernah tersalurkan, dan itu mengingatkannya semakin kuat pada sosok kecil yang seharusnya berada di pelukannya.

Saat tabib selesai, Qiu membuka mulut pelan. Suaranya nyaris berbisik, seakan takut dinding pun bisa mengadu pada Kaisar.

"Tabib... bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Random StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang