Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hai haii .. Rui update lagi nih tapi cerita gak berat kok, ringan2 saja.
Aku juga mau ngasih info, Rui Hiatus selama bulan Ramadhan ini. Jadi sampai jumpa bulan depan.
Held akan up triple update langsung end. Selamat membaca.
***
Huang Xing adalah tipe mahasiswa yang selalu disebut-sebut dosen dengan nada bangga. Pintar, tenang, dan nyaris tak pernah terlihat panik. Nilainya nyaris sempurna, penampilannya rapi, dan siapa pun yang tahu latar belakangnya paham bahwa ia tak pernah kekurangan apa pun. Uang bukan masalah, masa depan pun seolah sudah tertata rapi di depannya. Namun di balik semua itu, Huang Xing adalah sosok yang pendiam. Ia lebih sering mengamati daripada berbicara, lebih suka tersenyum tipis daripada menanggapi panjang lebar.
Berbeda jauh dengan Qiu. Qiu adalah mahasiswa di universitas yang sama, seorang atlet tinju yang namanya sering muncul di papan pengumuman olahraga. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, langkahnya selalu mantap. Tapi semua kesan maskulin itu sering runtuh hanya karena satu hal, mulutnya. Qiu terlalu banyak bicara, terlalu ekspresif, dan sering kali absurd tanpa alasan jelas. Ia bisa membahas strategi bertanding dengan serius, lalu lima menit kemudian berceloteh soal ayam goreng terenak di sekitar kampus dengan ekspresi seolah itu perkara hidup dan mati.
Mereka bertemu pertama kali di minimarket dekat kampus, sore hari yang panas. Huang Xing berdiri di rak minuman, membaca label dengan saksama. Qiu datang dengan langkah santai, kaus olahraga masih melekat di tubuhnya, rambutnya basah oleh keringat. "Hei, yang dingin itu enak. Jangan yang ini, rasanya kayak air got!" kata Qiu tiba-tiba.
Huang Xing menoleh, sedikit terkejut. Ia menatap botol di tangannya, lalu ke wajah Qiu. Alih-alih membantah, ia hanya tersenyum kecil dan mengambil botol lain. "Memang kamu pernah minum air got?"
"Heii bukan begitu, aku cuma... Aku cuma..." Qiu terlihat bingung ingin menjawab apa.
"Sudah... Sudah oke, aku paham. Aku cuma bercanda," Huang Xing tertawa lebar.
Sejak hari itu, entah bagaimana, mereka jadi sering bertemu. Bukan hanya di kampus, tapi juga di lingkungan tempat tinggal mereka. Ternyata rumah sewa mereka berdekatan, hanya terpisah dua bangunan tua dengan pagar rendah yang catnya mulai mengelupas. Qiu menyadarinya lebih dulu. "Serius? Rumahmu di situ?" Qiu menunjuk dengan jempol ke arah rumah Huang Xing, wajahnya tampak terlalu antusias untuk hal sepele. "Pantas tiap pagi aku lihat mobil mahal parkir rapi di sana."