Follow akun ku ya
***
Obsidian gelap dan mata sayu sembab itu kini saling menatap di tengah derasnya hujan.
Melihat pipi lebam Ziyu, tangan Xuning reflek bergerak ingin menyentuh. "Kau terluka?"
Tapi Ziyu malah menutup kepalanya dengan kedua tangan, seakan-akan takut Xuning akan menyakitinya. Saat ini daripada bersimpati pada luka di wajah, Xuning lebih terenyuh pada respon si remaja. Respon yang normal bagi anak yang sering mendapatkan kekerasan.
"Aku tidak akan menyakitimu, okey," Bujuk Xuning berusaha seramah mungkin.
Mendengar ucapan Xuning, Ziyu menurunkan kedua tangan, wajah imutnya kini terlihat, meski dihiasi lebam sana sini tapi tidak menghilangkan paras tampan lebih ke cantik miliknya, mata indah itu mengerjap mengamati penampilan Xuning. Setidaknya orang di depannya ini nampak seperti orang baik di mata Ziyu.
"Hujan makin deras, sebaiknya Kau ikut Aku, kita obati luka-lukamu." Xuning mengulurkan tangan, tubuhnya sedikit membungkuk dengan tangan masih memayungi Ziyu.
Ziyu belum menyambut uluran tangan Xuning, masih ada keraguan di wajah sendunya.
"Aku bukan orang jahat, Aku hanya ingin mengobati luka-lukamu." Xuning tersenyum.
Melihat senyuman tulus dari orang yang sedang mengulurkan tangan ke arahnya, akhirnya Ziyu menyambut uluran tangan itu. Karena terlalu lama terkena hujan, jari-jari Ziyu terasa sedingin es di dalam genggaman Xuning.
Setelah duduk di kursi depan, Ziyu merasa tidak enak hati karena tubuhnya yang basah membuat kursi mobil juga ikut basah. "Ah maaf kursi ini jadi basah... " Ziyu memandangi orang yang sudah menolongnya, dia bingung harus memanggilnya siapa?
"Namaku Tian Xuning, panggil saja, Gege atau apapun terserah mu ." ucap Xuning memperkenalkan diri.
"Ge... Aku minta maaf," lanjut Ziyu.
"Oh, yah... Tidak apa-apa." Xuning sedikit salah tingkah karena dipanggil Gege, tapi memang usia mereka terpaut cukup jauh jadi wajar saja remaja ini memanggilnya begitu sebagai bentuk kesopanan.
Selama perjalanan Xuning bertanya nama dan dari mana Ziyu berasal. Ziyu hanya menjawab sekenanya dia tidak mungkin langsung mengatakan kalau dia hamil lalu diusir dari rumah. Bisa-bisa Xuning akan menganggapnya orang aneh jika harus jujur sekarang.
Dari sesi pertanyaan singkat Xuning mengetahui bahwa nama remaja ini adalah Ziyu, dia kabur dari rumah karena Ayah yang selalu memukulnya. Sebenarnya itu bukan lah kebohongan sepenuhnya karena untuk bagian ia sering dipukuli, itu memang kebenaran.
Setelah setengah jam kemudian Ziyu tercengang melihat mewahnya tempat tinggal Xuning. Baru dia ketahui juga bahwa Xuning adalah seorang Dokter. Halaman rumah cukup luas dengan rumput hijau basah terkulai karena air hujan, di sudut kiri ada ayunan kayu yang berayun pelan karena tertiup angin.
Setelah memasuki rumah, Xuning membawakan handuk dan juga baju ganti untuk Ziyu. "Cepat keringkan badanmu dan ganti pakaianmu, setelah itu kita obati lukamu, kamar mandi di sebelah sana." tunjuk Xuning pada sisi pojok ruangan.
Ziyu mengangguk patuh.
Di dalam kamar mandi Ziyu menatap tubuh shirtless yang basah, pipinya sedikit bengkak, lebam itu sangat kontras terlihat di kulit pucat. Jarinya menyentuh pelan bibir sedikit pecah. Wajahnya nampak mengerikan. "Shh..." Ziyu mendesis lalu pandangannya turun pada bagian perut, Ziyu tertegun.
Segala pikiran berkecamuk kembali mengisi kepalanya. Dia mengusap pelan perutnya yang masih datar. "Ini akan segera membesar, bagaimana harus menanggung ini, bagaimana aku akan hidup? apakah kami akan mati?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Story
FanfictionCerita tak masuk akal di luar nurul, update sesuka saya. Tidak terjadwal ☺ Hanya beberapa chapter tamat dan akan ada judul baru setelahnya.
