Peien POV
Aku menunduk, berusaha menelan rasa pahit yang mengganjal di tenggorokanku. Kata-kata itu menusuk lebih tajam daripada belati.
"Sebetulnya akan lebih baik kalau kau tak pernah muncul di acara ini, bahkan juga... di hidup anakku." bisiknya dingin, nadanya penuh penolakan yang menusuk.
Aku meneguk ludah kasar. Rasanya seperti ada besi panas yang menghujam dadaku. Setiap kata yang keluar dari bibir wanita paruh baya itu selalu sukses menggores telinga sekaligus hatiku.
"Lihat ke sana," ia mengarahkan dagunya, senyumnya tipis namun penuh maksud. "Bukankah mereka terlihat jauh lebih serasi?"
Aku mengikuti arah pandangnya, dan seketika nafasku tercekat. Di tengah kerumunan tamu, Ocean berdiri bersama seorang wanita. Keduanya tampak berbincang akrab, tawa dan senyum mereka seakan memancarkan cahaya yang membuatku semakin terpojok.
Wanita itu adalah Navy, sosok yang selalu dibanggakan mertuaku. Perempuan yang dianggap paling pantas menempati posisi menantu di keluarga besar Ocean.
Tanganku bergetar halus. Gelas minuman yang kugenggam hampir terlepas. Aku memaksa tersenyum, bibirku kaku.
"Mereka hanya teman... aku percaya pada Ocean," ucapku, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada siapa pun.
Ibunya Ocean menoleh, matanya menyipit penuh sindiran. "Mungkin sekarang hanya teman. Tapi kalau aku mau, aku bisa membuat hubungan mereka lebih dari sekadar itu."
Napas panjang lolos dari dadaku. Sesak. Aku bisa merasakan mataku panas, meski aku berusaha keras menahannya. Ocean, seolah merasakan tatapanku, tiba-tiba menoleh ke arahku. Aku buru-buru menunduk. "Ma, aku permisi," bisikku pelan, sebelum melangkah menjauh dari tatapan menusuk itu.
****
Ia langsung pergi meninggalkan Ibu Ocean. Terkesan tidak sopan memang, tapi daripada harus mendengar ocehan yang membuat dadanya sesak dan telinganya panas, lebih baik ia memilih pergi saja.
Keluar dari ruangan, Peien berakhir duduk sendirian di sebuah kursi panjang yang ada di halaman rumah. Tangannya refleks mengusap perutnya yang tertutup kemeja satin oversize, mencoba menenangkan diri sekaligus janin yang terasa bergerak gelisah di dalam sana.
Di luar terasa lebih tenang. Pandangannya terarah pada taman hijau di depan, lampu taman berkelip lembut menerangi jalan setapak. Ia menghela napas panjang untuk kesekian kalinya, lalu menengadah menatap gelapnya langit malam yang bertabur bintang.
"Aku selalu merasa tidak tepat berada di sini... di rumah ini... di tengah keluarga ini," batin Peien getir.
Peien menunduk, jemarinya masih setia mengusap perut yang semakin membesar. Setiap kali ada gerakan kecil dari dalam, hatinya campur aduk-antara haru, takut, sekaligus lega. "Kau juga tidak suka, ya?" bisiknya lirih seolah sedang bercakap dengan bayi yang ia kandung.
Udara malam menyapu wajahnya, dingin tapi menenangkan. Dari dalam rumah samar-samar masih terdengar suara riuh pesta ulang tahun itu, tawa para tamu yang begitu kontras dengan sepi yang melingkupi dirinya di luar sini.
Ia tahu, sebenarnya Ocean sudah berusaha keras melindunginya. Tapi tetap saja, tatapan sinis itu menusuk-terutama dari sang ibu. Setiap kali berada di rumah besar ini, Peien merasa dirinya hanyalah orang asing yang tersesat, seseorang yang tidak pernah sepenuhnya diterima.
Napasnya kembali terhela berat.
"Kalau bukan karena Ocean, aku mungkin sudah menyerah sejak lama," gumamnya, menatap lampu taman yang berpendar lembut.
Di kejauhan, langkah kaki mulai terdengar mendekat, tapi Peien belum menoleh. Ia terlalu larut dalam pikirannya sendiri, berusaha menenangkan gelombang emosi yang tak kunjung reda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Story
FanfictionCerita tak masuk akal di luar nurul, update sesuka saya. Tidak terjadwal ☺ Hanya beberapa chapter tamat dan akan ada judul baru setelahnya.
