Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jangan lupa follow tiktok Rui ya namanya StarCup
***
Malam itu setelah persetubuhan mereka, Qiu merasa tubuhnya hampa. Ia tergeletak di ranjang, rambut panjangnya terurai berantakan. Kaisar tidak segera pergi, melainkan duduk di tepi ranjang sambil menatapnya seperti pemilik yang baru menundukkan hewan liar.
“Besok,” ujar Hua Yong pelan, suaranya dingin namun tegas. “Besok kau akan melihat anakmu.”
Qiu menoleh cepat, matanya membelalak tak percaya. Suaranya tercekat, “Kau… tidak berbohong?”
Senyum tipis Kaisar terbit, penuh kelicikan. “Aku tidak pernah berbohong, Qiu. Tapi ingat, itu karena kau sudah memberikan jawaban yang kuinginkan. Anak itu akan tetap berada di bawah kuasaku. Kau hanya boleh menyentuhnya sejauh yang kuizinkan.”
Qiu terdiam, napasnya bergetar. Meski ada ancaman di balik kata-kata Kaisar, secercah cahaya menembus hatinya yang sudah lama gelap. Bayi itu… ia akan bisa melihat bayi itu dengan matanya sendiri.
---
Keesokan harinya, aula kecil di dalam istana dibersihkan dan dijaga ketat. Qiu dibawa ke sana dengan hanfu hijau sederhana. Jantungnya berdentum keras di dalam dada, telapak tangannya dingin berkeringat.
Pintu terbuka perlahan. Dayang masuk, menggendong seorang bayi mungil yang terbungkus kain biru lembut. Suara tangis kecil memenuhi ruangan.
Qiu membeku di tempatnya. Napasnya tercekat.
Tubuhnya gemetar ketika dayang itu melangkah mendekat dan berlutut, meletakkan bayi itu di atas pangkuannya.
“Anak… ku…” bisik Qiu, suaranya parau. Jemarinya gemetar menyentuh pipi mungil yang halus, matanya menatap tak berkedip pada wajah polos itu. Ada garis samar di bibir, ada bentuk mata yang begitu mirip dengannya—dan juga, sekilas, bayangan Hua Yong.
Hua Yong berdiri tidak jauh, kedua tangannya terlipat, menatap pemandangan itu dengan senyum dingin. Ia puas—karena bahkan saat Qiu menatap anaknya sendiri, bayangan dirinya tidak bisa dihapuskan.