***
Langit malam perlahan berubah menjadi hamparan lampu dan tawa. Di bawah cahaya warna-warni taman hiburan, Qiu dan Xing kini berjalan berdampingan di taman hiburan, tangan mereka saling terjerat erat. Keduanya tak banyak bicara, namun lewat genggaman itu, perasaan mengalir hangat, enggan dilepaskan. Ini sudah kali kedua mereka kembali ke tempat ini, dan rasanya selalu berbeda, selalu lebih dalam.
"Tunggu di sini, Aku akan membeli tiket." Qiu melepaskan genggaman tangan Xing lalu bergegas berjalan memasuki kerumunan. Xing memandangi punggung Qiu yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di tengah kerumunan.
Qiu berdiri di antara puluhan orang yang mengantre tiket, dikelilingi tawa dan cahaya. Awalnya ia tak mencurigai apa pun, hingga perlahan jarak di sekelilingnya menyempit. Tubuh-tubuh asing merapat, napas orang lain menyentuh tengkuknya, dan kerumunan berubah menjadi dinding yang menekan.
Sebuah sentuhan dingin menyelip di pinggang kanannya. Logam. Sebilah ancaman.
"Ikut kami. Sekarang," bisik suara rendah di belakangnya.
Qiu tersentak, berbalik, namun dua pria berbadan besar sudah mencengkeram lengannya. Ia berontak, jantungnya berdentam liar. "Siapa kalian? Lepaskan aku!"
"Jangan banyak tanya," geram salah satu dari mereka. "Jalan."
"LEPAS!" teriak Qiu, suaranya terpotong oleh kepanikan.
Tiba-tiba, rasa perih menyengat lehernya. Jarum. Panas yang cepat menjalar. Dunia di sekelilingnya berputar, cahaya taman hiburan pecah menjadi garis-garis kabur.
"Ja-jangan… bawa aku…" bisiknya lemah, kata-katanya jatuh seperti daun kering. "Xing… dia menungguku…"
Kakinya kehilangan daya, tubuhnya merosot di antara tangan-tangan asing, dan gelap menutup penglihatannya, menelan semua suara, semua cahaya, semua harapan yang baru saja ia tinggalkan.
***
Qiu terbangun di sebuah ruangan kosong, temaram, dan pengap. Bau debu dan besi tua memenuhi udara. Tempat itu terasa ganjilnya akrab, seperti bayangan yang pernah ia lihat dalam mimpi. Gudang ini… sama. Sama seperti yang selalu muncul di tidurnya.
Kepalanya berdenyut. Potongan-potongan ingatan melintas, cepat dan kabur. Suara teriakan, sosok seorang pria yang berdiri di balik cahaya, rasa sakit di dada yang bukan hanya fisik.
Qiu memejamkan mata, mencoba meraih semuanya, namun yang ia dapatkan hanya serpihan. Perutnya bergejolak parah, ingin muntah tapi ditahan sekuat tenaga.
Ia tidak sepenuhnya ingat masa lalunya. Hanya bayangan samar, perasaan tertinggal, dan satu kepastian yang perlahan muncul di benaknya, bahwa hidupnya pernah dipenuhi sesuatu yang jauh lebih gelap dari ruangan ini.
Qiu tersadar dengan tubuh terikat di sebuah kursi. Pergelangan tangannya terasa perih, tali itu menekan kulit hingga nyeri. Ia mengumpat pelan, napasnya tersengal.
"Akh… sialan. Siapa yang melakukan ini? dan kenapa?" Kepalanya dipenuhi potongan kejadian yang tak menyatu. Bunyi letupan senjata, darah, Xing. Gudang ini. Semua terasa seperti kepingan puzzle yang berserakan, menolak dirangkai.
Lalu sebuah suara memecah kesunyian.
"Kau sudah bangun?"
Jantung Qiu mencelos. Suara itu terlalu dikenal untuk diabaikan.
Tap. Tap. Tap.
Bunyi sepatu bergema di lantai beton, setiap langkah mendekat seperti hitungan mundur. Dari balik cahaya temaram, muncul siluet seorang pria tinggi dalam setelan jas rapi. Bayangannya memanjang di lantai, menjulur hingga hampir menyentuh kaki Qiu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Random Story
FanfictionCerita tak masuk akal di luar nurul, update sesuka saya. Tidak terjadwal ☺ Hanya beberapa chapter tamat dan akan ada judul baru setelahnya.
