2. THE ZOMBIE'S: AGC-03

918 72 12
                                        

---

Ruangan itu begitu gelap dan juga pengap. Ukurannya kecil, tapi cukup untuk dua orang dewasa duduk dan berbaring beristirahat. Atapnya sangat rendah hingga Qiu dan Huang Xing harus sedikit membungkuk agar tidak terantuk. Satu-satunya penerangan berasal dari celah jendela yang tidak bisa tertutup sempurna, di mana kayu-kayu penutupnya sudah sedikit lapuk dan membiarkan cahaya serta udara masuk ke dalam ruangan itu.

Dalam sekali lihat, ruangan tersebut sangat mirip gudang terbengkalai, debu tebal menempel di mana-mana, beberapa barang tua berserakan tanpa pola. Letaknya yang berada di tengah hutan sama sekali tidak membantu, kesan suram itulah yang ada dibenak Qiu. Namun pohon-pohon tinggi yang membingkai rumah pohon justru terlihat asri. Dari celah jendela, cahaya kemerahan matahari terbenam tampak indah, meski bagian dalam rumah sama sekali tak terawat.

Dari sudut pandang Qiu, hutan itu justru tampak menenangkan. Hamparan pepohonan membentang luas, menjulang rapat hingga batas pandangan, seolah menyelimuti rumah pohon dari dunia luar. Angin berembus pelan, membawa aroma daun dan tanah basah. Di tengah kesunyian itu, hutan terasa hidup dan tenang.

Untuk situasi sekarang, tempat ini sangat jauh lebih baik dibandingkan berada di bawah sana apa lagi di tengah kota. Guangdong kini berubah menjadi kota mati. Jalanan dipenuhi mayat berjalan, makhluk tanpa jiwa yang mencabik apa pun yang masih bernapas. Tidak ada hukum, tidak ada belas kasihan, hanya teriakan, darah, dan keputusasaan. Neraka itu bukan lagi gambaran, melainkan dunia yang benar-benar berdiri di hadapan mata.

“Maaf, ini sangat berantakan. Sejak menemukan tempat ini aku tidak ada waktu membenahinya,” ucap Huang Xing sambil menyingkirkan kain lusuh yang tergantung di sisi dinding.

“Tidak apa. Aku beruntung bisa sampai ke sini, terima kasih. Aku tidak pernah tidur nyenyak sejak beberapa hari terakhir,” jawab Qiu.
Ia meletakkan senjatanya, lalu duduk bersandar ke dinding sebelum sempat memastikan kayunya cukup kuat menopang tubuhnya.

Pandangan Qiu tertuju ke luar. Hamparan pepohonan hijau bergelayut tertiup angin sore yang sepoi-sepoi. Kawanan burung melintas di langit jingga keemasan.

“Ah… ini nyaman sekali,” ucap Qiu sambil memejamkan mata.

Huang Xing ikut duduk di seberang nya, mereka kini saling berhadapan.

Qiu terdiam sejenak, lalu berkata, “Kulihat tadi senjatamu kehabisan peluru.”

“Ya… begitulah. Senjata itu kuambil dari zombie yang berhasil kubunuh,” jawab Huang Xing. “Kita sekarang butuh senjata untuk bertahan hidup.”

“Iya, itu benar. Selain senjata kita juga butuh makanan, untuk air kita berada tak jauh dari sungai dan itu bisa diatasi. Kita di hutan, bukan di kota,” tambah Qiu.

“Ayahku menyimpan rifle atau shotgun di bagasi mobil. Juga beberapa senjata lain. Tapi… ada banyak zombie di sana. Aku tidak yakin bisa mengambilnya sendiri, kecuali kau mau membantuku,” ujar Qiu, terdengar ragu di akhir kalimatnya.

Huang Xing menatapnya.
“Sepertinya kau memiliki banyak senjata. Sebenarnya, kau ini siapa?” Lagi-lagi pertanyaan yang sama melintas di bibir Huang Xing. Menjalani hubungan singkat dengan Qiu di masa lalu tidak memungkinkan Huang Xing untuk menganalisis siapa Qiu. Baginya dulu itu tidak terlalu penting. Bahkan saat Qiu pergi meninggalkannya, Huang Xing tidak merasakan apapun. Sedih atau marah, semuanya terasa biasa saja.

Qiu menghela napas pelan.
“Aku membantu ayahku. Ia ditugaskan membuat serum yang mampu mencegah penyakit pada manusia dengan kata lain meningkatkan kekebalan imun tubuh. Tapi ada kesalahan. Aku sendiri tidak tahu bagaimana semuanya bisa berubah seperti ini.”

Manusia mungkin tak bisa mencegah penuaan sepenuhnya. Namun masih ada kemungkinan untuk tetap hidup segar dan bugar di usia senja tanpa berbagai penyakit yang identik dengan usia tua, seperti demensia, osteoporosis, Alzheimer, rabun senja, dan lain sebagainya.

Random StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang