Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

#37

35 4 14
                                        

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Jet tidak tahu pasti karena selama itu dia masih terus mengudara, menembak jatuh tiap robot yang berada di jarak tembak dan juga robot yang menyerang titik buta rekannya yang berada dibawah.

Karena terlalu rimbunnya pepohonan, Jet tidak sadar akan pergerakan yang mencurigakan, dia hanya fokus di sekitar rekannya yang terlihat, seperti sekarang dia tengah membantu Moon tiap kali gadis itu terjebak diantara robot Teras, ada juga Rudy yang setia menghalau robot yang membidik dan menembak Jet.

"Mana yang jaga capture point ni?" tanya Jet, yang perlahan turun.

"Mereka melawan Ejen Dayang. Pergi bantu keh tak?" sahut Nina sambil menarik jatuh robot NEURO.

"Tak perlu. Kita fokus amankan capture point, mana tau Ejen Ganz sampai sini." cegah Rudy, tangannya menarik ruang kosong bersamaan dengan jatuhnya robot TEKNO.

"Ada bagusnya selalu waspada karena lawan kita bukan hanya robot, ya kan." komentar Sandy seraya menghantamkan nunchaku ke kepala robot yang tadi Rudy tumbangkan.

"Baiklah, aku ikut cakap korang je. Eh, mana Sam?" Jet melirik Bulat yang terakhir terlihat didekat Sam.

"Tadi dia pergi tolong Helen, mungkin masih temankan budak tu." jawab Bulat, rubik di lempar ke belakang Moon dan berhasil menghentikan pergerakan dua robot sekaligus.

Moon mendorong satu robot hingga tumbang dan satunya lagi ditembak oleh Jet, mereka mengulang hal yang sama tiap ada robot yang mendekat. Sekarang Bulat telah mengambil alih capture point dari robot TEKNO.

"Mana Julius? Dia ada hutang sama gw." Sandy melampiaskan ke- kesalannya pada robot NEURO.

Yang lain hanya diam menonton kelakuan Sandy. Jumlah robot Teras perlahan berkurang, beberapa Ejen duduk santai beristirahat sampai waktu Arena berakhir. Di pastikan kemenangan telah mereka amankan.

"Rudy, duduk lah sini! Kau pun mesti penat kan?" panggil Moon.

"Aku tak penat. Mana Chris?" sahut Rudy sambil berjalan ke sisi Jet yang tengah sibuk memeriksa gejetnya.

Jet menoleh sebentar sebelum kembali fokus pada gejetnya, "mana aku tahu. Dari awal aku dah dengan korang." jawabnya.

Hening tidak ada obrolan berlanjut, semua diam mengistirahatkan diri selagi waktu hitung mundur masih berjalan. Berbicara tentang penghitungan mundur, Rudy sadar akan sesuatu dan memutuskan untuk berdiri di tengah capture point.

Moon memperhatikan gelagat temannya dan menegur, "apa kau buat tu?" suaranya sedikit tinggi.

Yang lain ikut melihat ke arah Rudy, pria berambut menyerupai landak itu nampak memperhatikan layar yang menampilkan waktu Arena.

"Guys! Kenapa waktu ni tak jalan?" seru Rudy tanpa menoleh, ia juga beberapa kali mondar-mandir di tengah capture point untuk mengaktifkannya, tapi nihil.

"Huaaaa!" jeritan nyaring itu mengejutkan semua orang.

Selang beberapa menit, keterkejutan mereka berlanjut saat melihat Ejen Ganz yang berjalan santai melewati beberapa Ejen muda yang tergeletak, salah seorang di antara mereka adalah Chris, ia berusaha bangkit.

"Bertahan!" teriak Chris.

Terlambat.

Ejen Ganz menangkap Sandy dan melemparkannya ke arah Nina yang tentunya langsung hilang kesadaran, Sandy bergegas bangkit dan menjauh dari atas tubuh Nina tapi Ejen Ganz kembali menghantam kepala Sandy.

"Hmmm... Ini sudah terlalu lama, sebaiknya kita akhiri sekarang." Ejen Ganz berdiri di tengah capture point.

Ejen muda yang masih sadar dan tengah memikirkan cara untuk melawan ketua Teras dibuat tercengang melihat angka hitung mundur yang aktif dan parahnya lagi waktu mereka untuk merebut capture point hanya sekitar 15 menit sebelum Arena benar-benar berakhir.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 4 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

REUNI (Enam)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang