Sepatu boots dengan warna cokelat muda terlihat saat pintu kamar itu terbuka. Melihat ke atas, ternyata pemiliknya adalah nona penjaga penginapan. Gadis itu menatap Luca dengan tatapan khawatir yang kentara.
"Anda tidak apa-apa, Tuan? Aku mendengar suara teriakan tadi." Tanyanya, sedikit melihat ke dalam ruangan. Pandangannya langsung tertuju pada siluet seorang pria yang duduk dengan salah satu kaki terangkat, dia menebak jika itu adalah pria yang sebelumnya menanyakan makanan di lantai bawah.
Melihat tatapan gadis itu berubah curiga saat matanya melirik kearah belakang, Luca agaknya tahu penyebab penjaga penginapan menghampiri kamarnya. Maka dari itu, dia menjawab pertanyaannya dan mencoba agar tidak terlihat mencurigakan.
"Aku baik-baik saja," Luca sedikit bergeser agar jarak pandang gadis itu sedikit lebih luas, membiarkan gadis itu melihat Luke yang masih sibuk makan. "Pria dibelakang adalah temanku, kami sempat sedikit berdebat tadi. Maaf jika itu membuatmu khawatir, Nona."
Menarik pandangan, gadis itu menatap Luca. Laki-laki bangsawan yang ada di depannya tampak bisa dipercaya, jadi dia mengangguk dengan mudah.
"Tidak apa, saya sedikit khawatir karena teriakan anda cukup keras Tuan." Luca tersenyum canggung mendengar kalimat ini, memangnya sekeras itu ya?
Melihat tidak ada lagi yang harus dibicarakan dan dia juga tidak mau mengganggu waktu istirahat pelanggan, akhirnya nona penjaga itu pamit dan pergi ke lantai bawah.
Menyaksikan punggung gadis itu menjauh, Luca menghela nafas lega. Pemuda itu berbalik dan menatap Luke yang masih asik dengan makanannya. Entah kenapa Luca jadi sakit kepala, bukan maksudnya untuk membuat kontrak dengan binatang roh tingkat atas.
Sekarang ia harus bagaimana? Tujuannya ke Ibukota adalah karena ingin bertemu dengan penyihir kayu dan segera mengembangkan sihirnya.
Tapi, Ibukota melarang masuknya binatang roh tingkat atas kecuali Tuannya memiliki izin resmi dari Aegis. Sebuah asosiasi yang menangani izin masuknya binatang roh ke Ibukota terkhusus binatang roh tingkat atas yang memerlukan verifikasi keamanan.
Dalam novel aslinya, pada bagian dimana Aerin membawa binatang rohnya ke Ibukota, terjadi konflik antara gadis itu dengan Aegis. Asosiasi itu cukup menghalangi karena bias terhadap binatang roh tingkat atas yang cenderung agresif dengan binatang roh lain.
"Apa yang kau tatap?"
Suara Luke berhasil memecah lamunan Luca. Pemuda itu mengedipkan mata beberapa kali sebelum memalingkan wajahnya. Luca terbatuk canggung karena sadar ia melamun sembari melihat wajah Luke yang sialnya begitu tampan.
Dunia dalam novel ini benar-benar!
Setelah batuk palsu yang Luca lakukan, matanya melihat sebuah kantung yang sejak awal ia cari keberadaannya. Kantung hitam berisi uang yang Luca cari selama hampir satu jam, kini di lempar ke atas oleh Luke yang masih pada posisi yang sama.
Sontak saja ia langsung menunjuk, "Itu! Darimana kau mendapatkannya?"
Luke memberhentikan kegiatan melemparnya, diliriknya kantung hitam yang sejak tadi ia mainkan. "Ini? aku meminjamnya sebentar tadi."
Sudut mata Luca berkedut saat ia menebak untuk apa siluman ini membawa kantung uangnya.
"Untuk membeli semua makanan ini?" Ia beralih menunjuk pada nampan yang berisi makanan yang setengahnya sudah dimakan serigala didepannya.
Dengan santainya Luke mengangguk, "Benar. Manusia menggunakan benda ini untuk ditukar oleh beberapa hal, kan?"
Serigala ini tidak menyadari seberapa tajam tatapan yang Tuannya layangkan setelah kalimat yang keluar dari mulutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Back To Medieval Times
General FictionSeorang pemuda tampan yang entah bagaimana bisa terlempar ke abad pertengahan dan terlebih lagi dunia itu adalah dunia dalam novel! Nasib menjadi karakter figuran dan mati dengan sia-sia. Luca : "Aku akan merubah semuanya." Kemudian... Para lelaki :...
![[BL] Back To Medieval Times](https://img.wattpad.com/cover/331570305-64-k53452.jpg)