Chapter 3 - Alexa's Challenge

3.9K 194 6
                                        


Lapangan basket indoor SMA Gilliard Internasional penuh sesak oleh manusia berwarna kuning dan merah. Hari ini adalah sejarah dimana tim basket putri SMA G.I bertemu rivalnya, SMA Wijaya. Mereka bertemu di final turnamen basket se-ibukota.

Sorakan para pendukung masing-masing sekolah kian menggema saat wasit meniup peluit tanda time out di babak kedua. Persaingan yang sengit membuat suasana di dalam ruangan besar itu begitu panas. Supporter maupun para pemainnya sudah sama-sama terbakar emosi, mengingat skor yang begitu tipis, yakni 59 - 58, dimana SMA Wijaya yang unggul.

Lima menit waktu time out benar-benar dimanfaatkan oleh Lexa untuk mengatur ulang strategi penyerangan. Dia dinilai sangat genius dalam hal mengatur strategi, memanipulasi formasi, dan mengatur para pemain. Jadi itulah alasan mengapa dirinya dipercaya menjadi kapten Tim. Kehebatannya itu membuat tim basket putri tidak begitu membutuhkan pelatih.

Membentuk lingkaran, anggota tim basket putri SMA G.I yang serba kuning itu mendengarkan bisikan tegas dari Lexa mengenai instruksi untuk merubah total pola penyerangan.

"Brilliant!" pekik seseorang berambut pendek begitu Lexa selesai memberi arahan. "Kok gue nggak kepikiran ya." gumamnya.

Lexa mengangguk tegas. "Oke guys, karena kita nggak punya waktu banyak, kita harus melakukannya secepat mungkin. Dira..."

"Yap?" Gadis berambut pendek tadi menyahut.

"Alihin perhatian Dena selama gue switching sama Riana."

Dira mengangkat jempolnya.

"OK girls, are you ready!?" teriak Lexa.

"Yes!"

"ARE YOU READY TO WIN!?" teriaknya lebih keras, dan dibalas tak kalah keras oleh semua anggota.

Teriakan Lexa berhasil menyalakan api semangat dari anggota timnya. Lexa yakin, strategi barunya itu akan sangat mudah dijalankan, mengingat stamina tim SMA Wijaya sudah terlihat menurun.

Bagaimanapun Lexa akan mempertahankan kedudukan SMA G.I yang selalu di peringkat satu dan tidak akan pernah memberi kesempatan pada SMA Wijaya untuk menjadi pemenang tahun ini.

Tepat saat mereka membubarkan lingkaran, wasit meniup peluit tanda pertandingan kembali dimulai.

Lio berdiri, mengangkat kedua tangannya tinggi lalu berteriak, "Woo-hoo! Go G.I! Go G.I! Go!!!"

Lexa yang mendengarnya menoleh, kemudian melambaikan tangannya pada Lio.

Lio membalasnya dengan kepalan tangan, semangat, lalu menyikut pelan laki-laki di sebelahnya dan berbisik, "Cewek gua tuh lihat, keren 'kan. Siapa dulu dong yang ajarin dia sampai sehebat itu," ucapnya dengan nada congkak.

"Siapa?" tanya laki-laki itu sedikit minat.

"Ha?" Lio menoleh, lalu tersenyum miring, "Ya bukan gua lah, bapaknya kali."

"Yaelah."

Lio menoleh ke samping, mendapati Luna tengah sibuk dengan ponsel dan earphone yang menggantung di telinganya.

Tidak mau mengeluarkan tenaga untuk berteriak pada Luna, Lio menarik sebelah earphone-nya hingga terlepas.

"Niat nonton kagak sih?"

Luna melirik dengan wajah datar sebelum menjawab, "Nggak."

Lio menghadap ke depan, melipat tangannya di depan dada. "Yaudah, sana balik aja nggak usah nonton."

Aluna & AlexaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang